Investasi Saham Perlu Riset, Tidak Cukup Andalkan Omongan Teman
Omongan teman bukanlah sumber yang dapat diandalkan untuk mendapatkan keputusan membeli sebuah saham.
TRIBUN-MEDAN.com-Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan, Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan dalam melakukan pembelian saham, banyak orang yang cenderung langsung membeli saham dan mengabaikan proses research, padahal boleh dikatakan proses research merupakan hal terpenting yang perlu dilakukan sebelum membeli saham.
"Kalau kita mendengar kata research, mungkin yang terlintas di pikiran kita adalah proses yang rumit dan penuh dengan angka yang jauh dari jangkauan kita sebagai orang awam," ucapnya.
Ia menjelaskan untuk membeli mobil yang harganya Rp 300 juta, kemungkinan anda akan mencari detail mengenai spesifikasi mobil, apakah mobil yang akan dibeli tersebut gampang dicari suku cadangnya? Bagaimana dengan nilai second mobil tersebut, apakah harganya akan cukup bertahan atau bisa turun secara drastis? Dealer mobil mana yang menawarkan servis ataupun harga yang lebih baik? Dan masih banyak pertanyaan yang harus dijawab sebelum anda menuju ke dealer terdekat dan menyelesaikan pembelian mobil tersebut.
Serangkaian proses tersebut kata Frankie, mungkin membutuhkan waktu paling tidak satu bulan, dan biasanya anda akan meminta opini kepada teman yang menurut anda lebih tahu mengenai otomotif. Proses mencari tahu detail informasi tersebut merupakan riset.
Ia menjelaskan hal yang cenderung tidak disadari oleh investor adalah untuk membeli sebuah mobil yang notabene adalah aset yang depresiatif (aset yang cenderung mengalami penurunan harga), biasanya dibutuhkan perencanaan dan penelitian berbulan-bulan .
Tetapi ironisnya, untuk membeli saham dengan jumlah yang sama, dibutuhkan waktu yang tidak lebih dari satu menit atau hanya dengan satu panggilan telepon atau beberapa baris notifikasi media sosial.
"Banyak orang yang melakukan pembelian saham dengan alasan "tetangga saya bilang saham ini bagus", "kata teman saya bandar akan mengerek naik saham ini", yang biasanya setelah saham tersebut dibeli, tidak jarang saham tersebut malah bergerak turun, dan karena yakin dengan "kata teman", saham tersebut dibiarkan dan akhirnya malah turun sampai lebih dari 80 persen, barulah kalimat "saham itu judi" terlontar dari investor yang kecewa karena performa saham yang dibeli ternyata berbeda jauh dari harapan. Ini adalah fenomena di dunia investasi yang dinamakan Fear of Missing Out," ucap Frankie.
Ia menambahkan, omongan teman bukanlah sumber yang dapat diandalkan untuk mendapatkan keputusan membeli sebuah saham. Kalau investor melakukan research layaknya membeli sebuah mobil, tentunya besar kemungkinan investor tersebut akan mendapatkan keuntungan.
"Hal ini dikarenakan saham adalah aset yang apresiatif (aset yang cenderung mengalami kenaikan harga) sebagai data, dalam 10 tahun ini IHSG sudah mengalami kenaikan sebesar hampir 500 persen dan merupakan instrumen investasi dengan performa yang paling baik," ungkapnya.
Ia menjelaskan saham adalah bagian kepemilikan dari sebuah bisnis, maka penting untuk menilai sebuah saham layaknya menilai sebuah bisnis, dan dalam bisnis secara sederhana terdapat tiga pertanyaan yang perlu dijawab untuk menentukan apakah bisnis tersebut baik atau tidak.
"Apakah bisnis tersebut secara konsisten menghasilkan laba dengan prospek yang baik, apakah bisnis tersebut menggunakan banyak hutang dan apakah bisnis tersebut dijual dengan harga yang murah atau mahal? Saya percaya jika bisa menjawab tiga pertanyaan sederhana ini, maka investor sudah mendapatkan gambaran yang baik mengenai prospek bisnis dari perusahaan yang akan dibeli," kata Frankie.
Ia menjelaskan sebagai contoh, PT Indofood Consumer Brand Product Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebagai studi kasus. Siapa yang tidak kenal dengan produk yang dikeluarkan oleh ICBP yang diantaranya Indomie, Cheetos, Promina, Indomilk.
"Saya percaya banyak dari kita adalah penyuka Indomie, makanan kesukaan di segala kalangan, yang melintasi berbagai benua dan samudera. Indomie hadir di lebih dari 60 negara, dan merupakan salah satu produsen mie instan terbesar di dunia dengan produksi sebanyak 18 milyar bungkus mie instan dan mie telur per tahunnya (menurut data tahun 2018)," ucapnya.
Pada awal tahun 2012, kata Frankie, ICBP diperdagangkan dengan harga per saham sebesar Rp 2570 dengan laba tahun sebelumnya sebesar Rp 2 Trilliun karena ICBP memproduksi consumer product yang dipakai oleh khalayak ramai.
"Maka kita bisa menilai kalau ICBP adalah perusahaan yang menghasilkan laba dengan prospek yang baik, apalagi dengan PE (Price to Earning) Ratio sebesar 14.8x dimana untuk skala konservatif saja PE Ratio di sektor Consumer Goods berada di range 20x - 25x, maka dapat dikatakan kalau ICBP juga diperdagangkan pada valuasi yang murah yang menawarkan kesempatan yang besar untuk mengalami apresiasi harga," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/frankie_wijoyo_prasetio.jpg)