Mahasiswa USU Ciptakan Gel Obat yang Mampu Mempercepat Penyembuhan saat Cabut Gigi
Proses penyembuhan pencabutan gigi manusia dinilai terlalu lama dan acap kali dikhawatirkan saat beraktifitas makan maupun minum.
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berawal dari tugas-tugasnya sebagai mahasiswa Biologi Universitas Sumatera Utara (USU) Fran Jaya mencoba menggali lebih dalam khasiat Bawang Batak dari Tanah Karo yang dikenal dengan anti bakteri dan anti inflamasi (peradangan).
Ia pun mengajak Chintya Purba mantan teman sekelasnya di Biologi yang sudah beralih pendidikan ke Kedokteran Gigi dan Arif Maulana yang berasal dari Farmasi USU.
Fran dan Chintya yang ditemui awak Tribun Medan di Pendopo USU, Rabu (14/8/2019) mengatakan gel yang mempercepat penyembuhan tersebut mereka kreasikan akan dilombakan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Udayana, Bali pada 26-31 Agustus 2019.
Setelah mengetahui khasiat Bawang Batak tersebut, ketiga mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan berbeda ini, coba memanfaatkannya untuk menjawab masalah kesehatan masyarakat khususnya perihal pencabutan gigi.
Proses penyembuhan pencabutan gigi manusia dinilai terlalu lama dan acap kali dikhawatirkan saat beraktifitas makan maupun minum.
Pasalnya setiap pencabutan gigi tentu meninggalkan lubang, darah yang banyak dan peradangan.
"Jadi setelah mendengar khasiat Bawang Batak, kami menggali dan mencari lagi referensi referensi terkait khasiat bawang batak ini. Kemudian kami mencoba memanfaatkannya pada kasus pencabutan gigi, apalagi Chintya kan Mahasiswa Kedokteran Gigi yang barangkali paham soal ini," ujar Fran.
Selanjutnya ketiganya pun mencoba mengolah Bawang Batak agar bisa dimanfaatkan manusia.
Mereka pun mengolahnya dengan berbagai zat kimia yang diizinkan BPOM dengan melakukan ektraksi dan Uni Screening di Lab Farmasi USU.
Alhasil dari proses penelitian awal tersebut ditemukan senyawa senyawa tertenoid, saponin dan senyawa kimia lainnya yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri, jamur dan peradangan.
Mereka pun kemudian mencoba kandungannya kepada tiga marmut sebagai sample penelitian.
"Nah kita mencoba oleskan gel itu kepada marmut yang sudah dicabut giginya dan melihat perbedaan kepada marmut yang tidak dicabut giginya atau kepada marmut yang hanya dioleskan betadine saja. Ternyata pada marmut yang dioleskan gel kita, proses penyembuhan berlangsung lebih cepat. Tidak ditemukan darah di hari ke delapan seperti kedua sample lainnya," urainya.
Meski demikian, Mereka tetap mengasah kembali validitas penelitiannya, dan berlanjut ke ke Lab Mikrobiologi USU. Hasilnya tetap menunjukkan penelitian mereka sangat bermanfaat.
Namun begitu tiga mahasiswa yang menamai diri mereka dengan sebutan Tim Watak (Bawang Batak) masih mempunyai Pekerjaan Rumah (PR) besar.
Mereka masih akan menguji hasil penelitiannya ke BPOM sebelum mendapatkan izin dapat digunakan kepada manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/penyembuhan-cabut-gigi.jpg)