Mendikbud Tawari Guru Pensiun Tetap Mengajar, Tapi Hanya Dibayar Seperti Tenaga Honorer

Muhadjir Effendi, meminta para tenaga pendidik atau guru yang hampir memasuki masa pensiun untuk memperpanjang masa baktinya

Mendikbud Tawari Guru Pensiun Tetap Mengajar, Tapi Hanya Dibayar Seperti Tenaga Honorer
KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan
Nursaka saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas 3, SD Negeri 03 Sontas, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Kamis (13/9/2018). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, meminta para tenaga pendidik atau guru yang hampir memasuki masa pensiun untuk memperpanjang masa baktinya.

Permintaan ini diajukan untuk mengisi kekosongan jumlah guru di Indonesia beberapa waktu mendatang. Diperkirakan, sebanyak 52.000 guru memasuki masa pensiun tahun ini.

Ketua Dewan Pengawas Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI) Retno Listyarti menganggap hal ini bukan sebagai sebuah permintaan melainkan penawaran yang wajar.

“Menurut saya, pemerintah menawarkan bukan mengharuskan, dan itu wajar saja,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (14/8/2019) siang.

 

Namun, menurutnya hal ini tidak akan berjalan efektif karena tidak adanya timbal balik menarik yang ditawarkan pada para calon pensiunan guru itu.

Guru yang masa baktinya diperpanjang, rencananya akan dibayar seperti tenaga honorer dan akan menerima uang pensiun setiap bulan, tanpa menerima tunjangan sertifikasi.

“Mungkin tidak ada guru yang bersedia, setelah pensiun mereka mungkin ingin menikmati kebersamaan dengan cucu-cucunya dan tidak mau dikejar-kejar administrasi mengajar yang rumit dan berat,” jawab Retno.

Retno berpendapat, usia pensiun sekitar 60 tahun, merupakan waktu seseorang ingin beristirahat dari rutinitas pekerjaan dan menikmati masa tua bersama keluarga.

“Usia 60 tahun mungkin ingin istirahat. Kecuali, jika ada tawaran dibayar tunjangan sertifikasinya (satu kali gaji pokok) mungkin ada yang berminat,” ucapnya.

Dinilai tidak akan berjalan efektif, Retno menyebut ada opsi yang lebih mungkin untuk dilakukan guna menutup kekurangan jumlah tenaga pengajar ini, salah satunya dengan memberdayakan tenaga pendidik yang ada.

Halaman
12
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved