Marak Ilegal Logging, Polres Samosir Tetapkan Tersangka Penebangan Kayu

Terkait maraknya penebangan kayu itu, Polres menetapkan Punguan Situmorsang sebagai tersangka.

Marak Ilegal Logging, Polres Samosir Tetapkan Tersangka Penebangan Kayu
Tribun Medan / Arifin
FOTO ILUSTRASI: ILEGAL LOGGING.

TRIBUN-MEDAN.COM, - Berebut menebang kayu di Kabupaten Samosir, seolah ajang perlombaan antara pengusaha besar hingga pengusaha kecil.

Seperti yang terjadi di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir, bekas aktivitas penebangan masih tersisa di sana hingga Jumat (6/9/2019).

Kanit Tipiter Polres Samosir, Aiptu Darmono Samosir menjelaskan, terkait maraknya penebangan kayu itu, Polres menetapkan Punguan Situmorsang sebagai tersangka.

Kata Darmono, penetapan tetsangka dilakukan berdasarkan keterangan TS yang telah lebih dulu ditetapkan tersangka pada kasus di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir.

"Atas dugaan terjadinya penebangan kauu di kawasan hutan negara, kita menetapkan Punguan sebagai tersangka,"tuturnya.

Mengungkap PS sebagai tersangka, kata kata Darmono dilakukan penyelidikan intensif hingga dua kali. Polisi menyertakan ahli pemetaan dari Dinas Kehutanan, KPH XIII Dolok Sanggul.

"Saat ini perkara masih dalam tahap penyidikan," ujar Aiptu Darmono Samosir.

Penangkapan PS karena pelaku dianggap terbentur menebang hutan negara SK 579. "Sebelumnya, TS alias PB mengaku telah memperoleh ijin melakukan penebangan di Hutan Lindung tersebut atas seijin PS dengan imbalan sebesar Rp 50 juta.

Dijeladkannya, sesuai keterangan tersangka TS, dia melakukan penebangan pohon dilokasi berdasarkan kesepakatan Perjanjian Jual Beli Pohon Pinus. Namun, berdasarkan ahli dari Dinas Kehutanan, KPH XIII Dolok Sanggul diperoleh bahwa area penebangan tersebut adalah hutan lindung.

Sementara itu, Punguan Situmorang ketika dikonfirmasi mengatakan penebangan dilakukan di luar perjanjian. Punguan menyangkal yang disebut penebangan berdasarkan kesepakatan.

Dia menjelaskan, tidak pernah berniat menebang kayu. Dia hamya ingin menanan jagung.

"Entah dari mana TS tau saya hendak bersihkan lahan, dia mendatangi saya untuk membeli pohon pinus dari tanah saya dan saya tidak pernah menawarkan-nawarkan kepada TS,"ditambahkannya.

Dijelaskannya lagi, adapun perjanjianya dengan TS adalah menebang kayu lokasinya
sekuas 20 hektar tersebut. Apalagi, area tersebut bukan merupakan kawasan hutan lindung seperti hasil pemetaan Kantor Jasa Surveyor Kadaster Berlisensi Rizky Erlangga.

Erlangga juga memiliki dokumen, dan disebutnya TS melakukan penebangan diarea 579 yang merupakan Hutan Lindung, itu adalah kehendak TS sendiri dan bukan perintah PS sesuai surat perjanjian yang telah disepakati.

(jun-tribun-medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved