Pemuda (22) yang Baru Menikah Ini Ditangkap, Setubuhi Bocah SD dan Akui Sudah 10 Kali Melakukannya

Pria Asal Aceh ini begitu tega mencabuli anak yatim piatu yang masih berusia 9 tahun

Pemuda (22) yang Baru Menikah Ini Ditangkap, Setubuhi Bocah SD dan Akui Sudah 10 Kali Melakukannya
SERAMBINEWS.COM/ TAUFIK ZASS
IR (22), pelaku pencabulan anak di bawah umur saat dihadirkan dalam konferensi pers di Mapolres Aceh Selatan, Kamis (19/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM – Betul-betulan bejat kelakuan IR (22), seorang pria beristri asal salah satu desa di kawasan Kluet Raya, Kabupaten Aceh Selatan.

Bagaimana tidak, pria muda ini begitu tega mencabuli anak yatim piatu yang masih berusia 9 tahun sebut saja Bunga hanya dengan dalih kerasukan setan.

Ironisnya lagi, perbuatannya itu dilakukannya sejak masih lajang dan terus berlanjut meski dia sudah menikah.

Parahnya lagi, korbannya itu ternyata keponakan pelaku itu sendiri dan tak tanggung-tanggung sudah 10 kali disetubuhi.

Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedy Sadsono ST yang didampingi Kasat Reskrim, Iptu Zeska Julian Taruna W.S.SIK dalam keterangan persnya, Kamis (19/9/2019), menjelaskan bahwa, usai perbuatannya ketahuan pelaku sempat melarikan diri sebelum kemudian ditangkap di Simeulue.

"Aksi pencabulan itu dilakukan pelaku sudah sejak sebelum pelaku menikah. Sebelum menikah sebanyak empat kali dan setelah pelaku menikah dia mengulangi perbuatan bejatnya itu sebanyak 6 kali," ungkap Kapolres Aceh Selatan.

Menurut keterangan pelaku, beber AKBP Dedi Sadsono, aksi bejatnya itu dilakukan sejak korban masih berusia 9 tahun dan terus berlanjut hingga pelaku sudah menikah dengan wanita asal Simeulue.

"Awalnya pelaku sempat mengancam korban untuk tidak memberitahukan perbuatan bejatnya itu kepada kakak korban," ungkap Kapolres.

Namun, akhirnya korban yang masih duduk di bangku kelas V SD ini tak tahan dan kemudian memberitahukan perihal yang menimpanya itu sama kawan sepermainannya.

"Kawannya itu kemudian menceritakan hal itu kepada kakak kandung korban. Kemudian kakaknya melaporkan kasus tersebut ke Polsek setempat," ungkap Kapolres.

Tak butuh waktu lama, pelaku yang melarikan diri ke Simeulue itu akhirnya berhasil dibekuk oleh Satreskrim Polres Aceh Selatan untuk dimintai pertangungjawaban hukum atas perbuatannya tersebut.

"Saat ini pelaku sudah diamankan di Mapolres Aceh Selatan berikut barang bukti, sedangkan korban saat ini masih dalam asuhan kakaknya," jelas AKBP Dedy Sadsono ST.

IR (22), pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur itu kepada wartawan mengakui perbuatannya itu.

Dia berdalih, perbuatan bejatnya tersebut dilakukan karena kemasukan setan.

"Ya, saya kemasukan setan," ungkapnya.

Sesuai keterangan yang diperoleh Satreskrim Polres Aceh Selatan, aksi bejat tersebut dilakukan IR di rumahnya.

Soalnya, Bunga yang masih merupakan saudara pelaku itu sering bermain ke rumah pelaku.

"Saat itu, dia mengajak Bunga ke kamar dan membuka pakaiannya, saat itulah pelaku melakukan aksi bejatnya," ungkap Kapolres.

Akibat perbuatannya itu, pelaku terancam dijerat dengan UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara.(*)

Baca: Viral Nenek Berusia 36 Tahun Berjalan Kaki Gendong Jenazah sang Cucu, Sikap Polisi Perhatian Netizen

Baca: VIDEO Pesta Pernikahan Ricuh hingga Para Tamu Baku Hantam Gara-gara Kehadiran Mantan Pacar

Baca: Video Pernikahan Kakek 57 Tahun dengan Gadis 16 Tahun di Lombok, Disinggung soal Pemuda Jomblo

Baca: Begini Cara Pria yang Sudah Beristri JK (37) Tega Menyekap Santriwati (17) 4 Hari hingga Disetubuhi

Sekap dan Cabuli Santriwati Selama 4 Hari

Setelah berhasil menangkap pria beristri JK (37) yang berdomisili di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara pada Rabu (18/9/2019) sore, polisi berhasil mengungkap kejahatan yang dilakukan pria tersebut terhadap korban selama penyekapan.

Ternyata JK menyekap korban, sebut saja Inong (17) santri asal Aceh Utara itu selama empat hari dan empat malam.

Lokasi penyekapan dalam sebuah rumah kosong milik kerabat istri tersangka di kawasan Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.

Bahkan selama empat hari korban berada dalam rumah tersebut.

“Tersangka menyekap korban di sebuah rumah kosong milik kerabat istrinya,” ujar Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim AKP Adhitya Pratama kepada Serambinews.com (Grup Tribun-Medan.com), Kamis (18/9/2019).

Pria Beristri Sekap Santriwati Aceh Utara di Sebuah Rumah, Usai Ancam Sebarkan Foto Ini
Polisi melakukan penyelidikan di sebuah rumah yang diduga digunakan untuk penyekapan seorang santriwati. |Dok. Polres Aceh Utara

Dalam penyekapan selama empat hari dan empat malam tersangka juga melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap santriwati tersebut.

“Tersangka melakukan pencabulan dan persetubuhan terhadap korban sebanyak empat kali dalam rumah tersebut,” ujar Kasat Reskrim.

Kemudian pada Jumat (13/9/201) sekira pukul 20.00 WIB, baru melepaskan korban di pinggir jalan Matangkuli.

Kemudian inong diantar masyarakat pulang ke rumah nenek korban di wilayah Kecamatan Tanah Luas.

Tersangka mulai disekap pada 9 September 2019, kemudian pada 11 September 2019, orang tua korban melaporkan kasus itu ke polisi.

Setelah dua hari mengadukan kejadian tersebut polisi berhasil meringkus tersangka di kawasan ALue Mudem Kecamatan Lhoksukon.

Ancam sebar foto ini

Kasus tersebut sekarang sudah dalam proses polisi, setelah menerima laporan pada 11 September 2019 di Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Aceh Utara.

Kasus itu dilaporkan oleh ayah korban, karena anaknya tidak pulang ke rumah.

“Berdasarkan keterangan dari saksi, pada 9 September 2019 sekira pukul 19.30 WIB pria berinisial JK tersebut membawa lari korban,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim AKP Adhitya Pratama SH kepada Serambinews.com, Kamis (19/9/2019).

Terlapor mengancam, jika korban tak bersedia mengikuti ajakannya untuk jalan-jalan, akan menyebarkan fotonya yang tidak memakai jilbab di media sosial.

Karena takut foto tidak menutup aurat tersebut tersebar, akhirnya santriwati itu pun mengikuti ajakan terlapor dengan terpaksa.

“Tapi ternyata terlapor menyekap korban di sebuah rumah di kawasan Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara,” kata Kasat Reskrim.

Karena korban tidak pulang ke rumah, lalu orang tua korban melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Orang tua melapor

Setelah menerima laporan pengaduan dari orang tua korban terkait penyekapan anaknya oleh seorang pria beristri lalu Polres Aceh Utara mulai melakukan penyelidikan.

Santriwati, sebut saja Inong (17) dilaporkan disekap di sebuah rumah di kawasan Matangkuli, Aceh Utara oleh seorang pria beristri JK (37) di sebuah rumah kawasan Matangkuli pada 9 September 2019.

Sedangkan kasus itu baru dilaporkan orang tuan korban ke Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Aceh Utara pada 11 September 2019, karena dua hari setelah mengetahui anaknya tidak pulang rumah.

“Setelah mendapat informasi tersebut menyelidiki kasus tersebut dan mencari keberadaan pria tersebut,” ujar kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim AKP Adhitya Pratama SH kepada Serambinews.com, Kamis (19/9/2019).

Disebutkan, kemudian personel Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres Aceh Utara yang didampingi KBO Reskrim Aiptu Dapot Situmorang melakukan penyelidikan berdasarkan bukti permulaan yang cukup serta penyelidikan keberadaan tersangka.

Belakangan kata Kata Reskrim diketahui terlapor berada di Desa Alu Mudem Kecamatan  Lhoksukon Aceh Utara.

Lalu pada Rabu (18/9/2019) personel  PPA bersama KBO Reskrim langsung melakukan penangkapan dan mengamankan tersangka JK ke Polres Aceh Utara.

“Kini tersangka sedang menjalani pemeriksaan untuk penyelidikan kasus tersebut,” ujar AKP Adhitya Pratama.

Baca: Ini Alasan Anies Baswedan Kembali Izinkan Jualan di Trotoar, PAN dan Nasdem Setuju, Golkar Menolak

Baca: Viral Video Mesum Wanita Berpakaian Dinas PNS di Dalam Mobil, Polda Jabar Buru Pelaku

Baca: Cemburu Lihat Gadis Pujaan Hati Gandeng Pria Lain, Pria Malaysia Bunuh Perawat dan Setubuhi Jasadnya

Pimpinan Pondok Pesantren Diduga Cabuli 4 Santriwati

Ratusan Warga di Sidoarjo Turun ke Jalan Minta Pondok Pesantren ini Ditutup, Dipicu Ulah Pengasuh ke Santriwati

Ratusan warga berunjukrasa di depan Balai Desa Kedungrejo, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Kamis (19/9/2019).

Sambil membawa sejumlah poster dan bergantian orasi, mereka menuntut sejumlah hal terkait kasus dugaan pencabulan terhadap sejumlah santriwati yang dilakukan oleh oknum pengasuh pondok pesantren diusut dan diproses secara hukum.

Warga meminta kasus itu diusut tuntas, dan pelakunya disanksi alias harus bertanggung jawab atas tindakan asusila yang telah dilakukan terhadap para santriwati.

Bahkan, warga juga meminta pondok tersebut ditutup.

"Tutup saja pondok pesantren putri itu," teriak beberapa warga di sela demonstrasi di depan Balai Desa Kedungrejo Sidoarjo.

Beberapa warga menyebut, kasus asusila itu terjadi sejak empat tahun silam.

Seorang pengasuh pondok pesantren dikabarkan melakukan pencabulan terhadap santriwatinya.

"Kabar itu beredar luas dari mulut ke mulut. Sudah banyak warga yang tahu," kata Sumarlan, seorang warga yang ikut dalam unjuk rasa ini yang dikutip dari TribunMadura.com.

Disampaikan pula, warga mendengar bahwa aksi asusila bukan hanya sekali.

Tapi sampai ada empat orang santriwati yang menjadi korban.

Dari sekian korban itu, sudah ada korban yang melapor ke polisi.

Dan kasus tersebut juga sedang diproses di Unit PPA Polresta Sidoarjo.

"Penanganan kasus itu sudah dilimpahkan ke Unit PPA Satreskrim Polresta Sidoarjo. Progresnya seperti apa, Polres yang menanganinya," jawab Kapolsek Jabon AKP Sumono.

Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Ali Purnomo saat dikonfirmasi menyampaikan, bahwa penyidik masih terus mengumpulkan keterangan terkait perkara pengaduan masyarakat tersebut terhadap dugaan pencabulan yang dilakukan pengasuh pondok pesantren terhadap para santriwatinya.

"Kejadian tahun 2015. Dan sejauh ini masih dilakukan permintaan keterangan atas pengaduan masyarakat tersebut," jawab Kasat Reskrim.

Perwakilan ratusan warga yang berunjukrasa sempat ditemui oleh Kepala Desa, beberapa perangkat, dan pejabat kecamatan.

Mereka juga sempat menggelar pertemuan tertutup yang juga dihadiri oleh perwakilan dari pondok pesantren.

Usai pertemuan itu, perwakilan dari pondok pesantren keluar dan membacakan pernyataan kepada pendemo.

Pihak pondok pesantren dalam hal ini diwakili oleh Zaky Mubarok.

Melalui surat pernyataan yang dibacakan oleh anak pengasuh pondok pesantren tersebut.

Disampaikan bahwa pihak pondok pesantren siap menutup pondok putri per hari ini.

Namun, mereka meminta waktu untuk memulangkan santri-santrinya terlebih dulu.

Artikel telah tayang di Serambinews.com dengan judul: Malam, Ini yang Dilakukan Pria Beristri Terhadap Santriwati Aceh Utara dan Tautan Artikel: Dalih Kerasukan Setan, Pria Beristri Tega Gagahi Keponakannya Sendiri Sejak Masih Lajang

Editor: Abdi Tumanggor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved