Gratis Tapi Dikutip Biaya Parkir, Warga Medan Keluhkan Retribusi di Depan Swalayan

Masyarakat Kota Medan merasa heran sekaligus resah terhadap kondisi perparkiran di sebagian besar swalayan.

Tribun Medan/ Dedy Kurniawan
Kapolsek Medan Kota saat memberikan pengarahan dan pembinaan kepada juru parkir yang dirazia kepolisian, Sabtu (14/11/2015). 

MEDAN, TRIBUN - Masyarakat Kota Medan merasa heran sekaligus resah terhadap kondisi perparkiran di sebagian besar swalayan.

Pasalnya, di tiap-tiap depan toko retail terpajang tulisan yang menyebutkan parkir gratis, namun pelanggan tetap dikutip retribusi oleh juru parkir (jukir).

"Saya pernah dimintai untuk bayar jasa parkir, padahal ada keterangan bebas parkir. Lokasinya di Jalan HM Yamin. Tentu saya merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu," ungkap seorang pengendara sepeda motor, Natan, kepada Tribun Medan, Senin (7/10/2019).

Ia bahkan mengaku pernah protes kepada jukir, tetapi malah diprotes ulang. Menurutnya, kondisi seperti ini perlu pembenahan dari Pemerintah Kota (Pemko) Medan, khususnya Dinas Perhubungan.

"Masih perlu pembenahan ke depannya soal lahan parkir ini. Sangat mengganggu. Masalah parkir yang lain juga, lalu lintas bisa macet di mana-mana," ujarnya.

Ia berharap persoalan ini perlu diperhatikan, seperti halnya lahan parkir. Mana yang harusnya membayar retribusi mana yang tidak. Ketika ada keluhan seperti ini, katanya, dinas terkait bisa menindaklanjuti dan melihat letak kesalahan untuk evaluasi.

"Minimal mengatur lahan parkir yang resmi dan menindak lahan parkir yang ilegal," terangnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Nazla. Ia pernah membayar uang retribusi di swalayan yang seharusnya digratiskan.

"Enggak setuju sebenarnya sama juru parkir yang minta uang parkir, padahal sudah jelas terpampang parkir gratis," katanya.

Terlebih lagi kebanyakan yang seperti itu adalah juru parkir liar. Harusnya, tambah Nazla, pihak swalayan mengambil tindakan dalam hal ini.

"Tetapi yang saya lihat malah pihak minimarket-nya ya diam saja. Jadi, sering muncul asumsi negatif yang menurut saya memang si juru parkir kerja sama dengan pihak minimarket-nya," katanya.

Nazla tidak menampil jika ia pernah melakukan protes. Namun, karena keengganan berbebat yang panjang, ia tetap memberikan uang yang diminta.

Menurutnya, persoalan parkir di Kota Medan ini masih sangat berantakan.

"Karena kita lihat saja di pinggir jalan masih banyak sekali mobil yang parkir, bahkan sampai memakan setengah badan jalan. Contohnya di tempat makan Titi Bobrok. Itu setengah jalan dipakai buat parkir. Dan ini tuh meresahkan masyarakat terutama saya," ungkapnya.

Hal ini membuatnya terkendala saat sedang terburu-buru di jalan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved