Daya Tawar PSK Medan Agar Pelanggannya Gunakan Kondom Rendah, Ini Penyebabnya
Bentuk perhatian kepada Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kota Medan hingga kini tak pernah membuahkan hasil
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bentuk perhatian kepada Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kota Medan hingga kini tak pernah membuahkan hasil.
Berbagai upaya untuk menghilangkan kehadiran para wanita malam ini, termasuk melakukan razia juga tak berhasil.
PSK di Kota Medan masih eksis hingga saat ini.
Namun poin yang diulas Komunitas Perempuan Peduli Pedila Medan (P3M) adalah upaya pencegahan Virus HIV/Aids tak menjalar kemana-mana.
"Daya tawar para PSK di Kota Medan untuk pelanggan seks agar menggunakan alat kontrasepsi rendah.
Teman teman PSK ini masih sulit menyetop kegiatan hubungan badan jika tanpa alat kontrasepsi," ujar Ketua P3M Wilda Wakkary kepada Tribun Medan, Selasa (19/11/2019).
Banyak faktor yang dinilai Wilda menjadi penyebabnya.
Ia menuturkan para PSK memiliki langganan (pria) bertahun-tahun yang kemudian menolak jika diedukasi menggunakan kondom.
Masalah lainnya, jika suasana sepi, tak jarang PSK mau tak mau menerima permintaan pelanggan.
"Belum lagi pendidikan rata-rata para PSK ini tamatan SMP dan SD.
Mereka tulang punggung keluarga, punya adik yang mau disekolahkan dan orangtua yang mau dibiayai," cetus Wilda.
Wilda berujar, upaya pemberantasan praktik prostitusi di kota sebesar Medan mustahil bisa dilaksanakan.
Alternatifnya adalah menanggulangi bagaimana prostitusi tidak menularkan HIV/Aids ke masyarakat yang lebih luas.
Apa yang diutarakan Wilda didapat dari tinjauan yang ia lakukan bersama teman teman P3M di dua titik hotspot di Kota Medan, kawasan Sambu dan Nibung.
Ada 170 PSK yang mereka jaring untuk dilakukan konseling dan perhatian kesehatan serta kecantikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/program-kecantikan-yang-dilaksanakan-teman-teman-komunitas.jpg)