Dibuat Berdasarkan Penelitian, Kumpulan Puisi Sajak Orang Laut Hancurkan Stereotipe Tentang Nelayan

Orang laut selalu dikatakan pemalas, ternyata setelah kami meneliti mereka pekerja keras. Lalu dikatakan pula orang laut jorok. .

Dibuat Berdasarkan Penelitian, Kumpulan Puisi Sajak Orang Laut Hancurkan Stereotipe Tentang Nelayan
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI br TARIGAN
Penampilan seni dalam acara peluncuran Kumpulan Puisi Sajak-Sajak Orang Laut, di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 33, Medan 

TRIBUN-MEDAN.com - Puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, namun puisi jiga dapat menjadi perlawanan budaya terhadap bangsa sendiri.

Demikianlah kata yang tepat untuk menggambarkan Kumpulan Puisi Sajak-Sajak Orang Laut yang didalangi oleh Forum Sastrawan Deliserdang (Fosad) dan Lingkar Nalar Indonesia (LNI) yang bersepakat menerbitkan karya ini, setelah melihat realitas sosial yang dialami masyarakat yang dekat dengan laut.

Kedua komuniti seni budaya tersebut diketahui telah melawat ke desa Perlis kecamatan Berandan Barat kabupaten Langkat provinsi Sumatera Utara. Tak sekedar membaca atau mendengar desa ini, tetapi juga melihat, berkomunikasi, merasakan dan menghayati.

Dalam peluncuran buku yang diselenggarakan di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Medan, Pimpinan Lingkar Nalar Indonesia, Tengku Zainuddin mengatakan proses pembuatan buku mulai penelitian, hingga peluncuran membutuhkan waktu hingga setahun.

"Kita tidak ingin teman-teman membuat puisi imajiner belaka, kali ini kita menemukan fakta kontradiktif dan dituangkan dalam puisi. Kawan-kawan penyair juga ikut turun dan berproses," katanya, Sabtu (23/11/2019).

Maksud dan tujuan penerbitan puisi ini katanya bukan semata membuat tontonan atau sekadar dibaca, namun dapat dijadikan tuntunan untuk perlawanan budaya.

"Orang laut selalu dikatakan pemalas, ternyata setelah kami meneliti mereka pekerja keras. Lalu dikatakan pula orang laut jorok, memang arus hidup mereka disebut kumuh. Tapi kita boleh meneliti lebih dalam. Jangan lihat halamannya, lihat isi dalam rumah, sangat bersih," katanya.

Hal teesebut katanya disebabkan okeh sampah kota yang terbawa obat hingga sampai di halaman rumah mereka dan tak bisa berbuat apapun. Ketiga yakni nelayan selalu dikategorikan dengan kehidupan yang miskin.

"Timbul pertanyaan, di tempat yangs sedemikian kaya, mereka miskin. Sementara mereka tidak malas. Artinya mereka termiskinkan dan tidak bisa melawan. Kerang, kepiting, madu dan lainnya ada di bakau, tapi bakau sudah berubah jadi tanaman sawit. Dan itu terus terjadi tanpa mereka bisa berbuat apapun," katanya.

Ia mengatakan melalui buku ini, para penyair melakukan perlawanan budaya dengan cara santun dan beretika. Selanjutnya buku sajak laut akan diterbitkan kembali di seri ke II hingga tercapai target 1000 sajak orang laut.

"Zona penelitiannya, tidak hanya terhenti di Langkat. Tapi bisa juga ke Labuhan Batu dan selanjutnya, di seri pertama belum lengkap sebab masih ada nilai religi atau keyakinan mistis yang perlahan hilang, belum lagi kuliner yang hilang, dan lainnya," katanya.

Ia mengatakan beberapa hari di Desa Perlis diperoleh beberapa fakta. Satu diantaranya, penduduk asli desa tersebut adalah suku Melayu dari Negeri Perlis Malaysia. Juga ada dari Kelantan dan negeri lain di kecamatan lainnya.

"Seperti yang disebutkan Abdul Rahim, Inilah bukti bahwa orang Malaysia pernah datang, menetap dan menjadi warga negara Indonesia sampai hari ini, jadi, kalau ada nelayan Perlis, Kelantan (Indonesia) ditangkap dan dipulangkan setelah dipenjara, misal karena melampaui garis lintas laut Malaysia, maka berarti mereka sedang menghukum saudaranya, keturunannya sendiri. Sejarah akan membuktikannya," pungkasnya

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved