Inilah Garista, Rumah Adat Karo Asli yang Diangkut ke Kota Medan

Material bangunan masih menggunakan kayu yang berasal dari bangunan lama tahun 1893.

Tayang:
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Berbagai kegiatan digelar di Garista-Siwaluh Jabu, rumah adat khas Karo yang diangkut ke Kota Medan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Garista adalah Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu Pertama di Kota Medan, yang dipindahkan dari lokasi awalnya di Desa Pernantin, Kec. Juhar Tanah Karo.

Konsep bangunan Garista masih menggunakan pola bangunan yang sama dengan aslinya yaitu dibangun tanpa menggunakan Paku. 

Adapun paku yang saat ini dipergunakan hanya untuk kunci pintu dengan alasan sebatas keamanan saja. Walaupun tanpa menggunakan Paku, bangunan ini tahan terhadap Gempa.

Material bangunan masih menggunakan kayu yang berasal dari bangunan lama tahun 1893. Adapun yang diganti hanya beberapa lembar kayu pada lantai dan 10.000 batang bambu untuk atap serta ijuk dikarenakan sudah sangat rusak dan tidak layak dipergunakan lagi.

Garista-Siwaluh Jabu, rumah adat khas Karo yang diangkut ke Kota Medan
Garista-Siwaluh Jabu, rumah adat khas Karo yang diangkut ke Kota Medan (TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI)

Manajemen Operasional Ekarina Ginting Munthe menyampaikan Garista memiliki 4 dapur yang selayaknya ada di Siwaluh Jabu. Ke 4 dapur tersebut dipergunakan saling berbagi oleh 8 keluarga.  

"Ukiran tangan pada kayu masih terjaga dengan baik, dan diberi warna agar lebih menarik. Ukiran yang mengelilingi Siwaluh Jabu pada kayu utuh tanpa sambungan dengan Panjang 14 Meter dan Lebar 16 Meter sangat menarik untuk dinikmati," ujar Eka.

Sungguh hal yang sangat menarik mempelajari dan menyelami kepandaian Nenek Moyang suku Karo yang berguru kepada alam lewat Bangunan ini.

Eka menyampaikan niatan membawa Siwaluh Jabu ke Medan adalah inisiatif seorang pria bernama Barus. Alasannya cukup menarik bagaimana masyarakat bisa menikmati suasana dan menyelimuti sejarah Siwaluh Jabu dan Masyarakat Suku Karo.

"Belum diketahui siapa pemilik awal. Bukan pemilik asli lagi yang punya rumah. Rumahnya sudah 126 tahun. Jangankan anak anak, orangtua aja juga jarang ke Pernantin. Rumah rumah adat di Karo Biasanya di Desa Dokan sama Desa Lingga. Kalau di Medan bisa diakses oleh masyarakat," terang Eka.

Filosofis kemasyarakatan Karo bakal ditampilkan kepada masyarakat di Medan.

"Siwaluh Jabu biasanya ditinggali oleh orang-orangtua dan anak anaknya dibawah 14 tahun. Kemudian jika laki-laki sudah akhir baligh. Laki laki tinggal ke Kesain Jambur sementara perempuan akhir baligh harus tinggal di rumah keluarganya yang janda," ceritanya.

Akan Diisi Kafe, Tradisi dan Informasi Sejarah

Ekarina menyampaikan dalam Siwaluh Jabu ada kafe dan sejarah kemasyarakatan karo. Selain itu pula setiap waktu, akan digelar tema tema makanan tradisional yang bisa dinikmati dengan harga Rp 2.000 untuk kue kue hingga Rp 25 ribu untuk makanan inti.

"Ada cafee di sana. Kemudian ada beberapa hari khusus menyajikan masakan Karo modifikasi," ujar Eka.

Makanan tradisional seperti Gat-Gat itu serupa anyang khas Karo yang menggabungkan kelapa, kecombrang dan ayam. Selanjutnya ada Sayur Jambe, labu kuning yang diolah bersama kan asap. Timpan, pulut yang dikreasikan bersama Jambe (labu kuning) dan kue Cimpa.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved