Tanah Perkampungan di Dairi Mendadak Ambles, Tim PVMBG Sarankan Pemerintah Bikin Drainase

Kemunculan lubang besar atau sinkhole di Dusun Kutanangka, Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi membuat warga takut.

TRIBUN MEDAN / PVMBG
Penampakan lubang besar alias sinkhole yang merusak empat rumah di Dusun Kutanangka, Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Minggu (1/12/2019). 

DAIRI,TRIBUN-Kemunculan lubang besar atau sinkhole di Dusun Kutanangka, Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi membuat warga takut. Sebab, fenomena ini terjadi secara tiba-tiba, dan nyaris meruntuhkan empat rumah warga. Berdasarkan informasi yang disampaikan masyarakat, lubang terakhir yang muncul sedalam lima meter, dengan diameter 20 meter.

"Terus terang saja, kemunculan lubang ini sempat membuat kami semua panik. Karena tiba-tiba saja terjadi," ungkap Kepala Desa Kempawa, Ardath Ginting, Minggu (1/12). Ia mengatakan, fenomena lubang besar ini sudah beberapa kali terjadi. Pada tahun 2016 lalu, lubang muncul dengan kedalaman empat meter, dengan lebar dua meter.

Kala itu, lubang muncul di tengah gedung Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Kutanangka, Desa Kempawa. Lantai gereja ambles. Kemudian, lubang kembali muncul di awal 2019. Dan selanjutnya, sinkhole muncul pada Minggu (17/11) lalu.

"Di dusun ini ada 78 kepala keluarga. Saat peristiwa terjadi, tidak ada korban jiwa," kata Ardath. Ia mengatakan, akibat peristiwa terakhir, warga yang rumahnya terdampak memilih mengungsi. Mereka tidak mau ambil resiko, karena khawatir diameter lubang sewaktu-waktu akan bertambah.

Ditanya lebih lanjut mengenai fenomena ini, Ardath mengatakan kemunculan lubang itu pertama kali diketahui oleh warga bernama Sabar Ginting, yang juga pemilik salah satu dari empat rumah terdampak.

Saat itu, hujan baru saja reda. Karena merasa tanah rumahnya bergetar, Sabar Ginting lalu keluar rumah hendak melihat situasi di belakang. Belum lama Sabar memperhatikan, tiba-tiba saja barisan ilalang di atas tanah belakang rumahnya kembali bergetar, dan sejurus kemudian ambles.

"Cepat kejadiannya, enggak seperti longsor yang masih ada tahapannya. Ini ambruk sekaligus," ujar Ardath, seraya mengatakan lokasi sinkhole itu selama ini dijadikan tempat pembuangan sampah. Warga Kutanangka lainnya, Herman Karokaro mengaku heran, karena genangan air yang biasanya berkumpul di lokasi lubang sehabis hujan, tak ada hari itu.

"Aku heran, ke mana larinya air-air ini. Biasanya jadi genangan di situ. Kuperhatikan terus, eh tiba-tiba gemuruh. Enggak lama, longsor. Terbentuk lubang besar," kata Herman.

Pascakejadian, tim peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi Kementerian ESDM RI telah turun ke lokasi bencana. Mereka menemukan, lapisan tanah di bawah Dusun Kutanangka, Desa Kempawa ternyata tersusun oleh batu gamping, yang sifatnya mudah luluh oleh air.

Sebelum sinkhole muncul, curah hujan di Kabupaten Dairi termasuk di Kutanangka, cukup tinggi. Hujan membuat jumlah air yang masuk ke dalam tanah membesar, sehingga meluluhkan lapisan batu gamping tersebut.
Alhasil, lapisan tanah di atasnya ambles dan membentuk lubang.

"Fenomena alam sinkhole di Kutanangka, Desa Kempawa bukan baru ini terjadi. Di sana kita menemukan ada sembilan titik sinkhole. Salah satunya ada yang sudah lama sekali, sampai-sampai di lubangnya ada pohon-pohon besar," ujar Kasubbid Mitigasi Gerakan Tanah Wilayah Barat PVMBG, Sumaryono.

Sumaryono menyebut, dari sembilan titik sinkhole yang mereka temukan, tujuh di antaranya berada di perladangan yang berjarak 300 hingga 550 m dari permukiman warga.

"Kemunculan sinkhole di permukiman warga pertama kali tahun 2014, yaitu di depan gedung Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Kutanangka, dengan kedalaman sekitar 3 m dan diameter 5 m. Setahun kemudian, sinkhole muncul lagi di dalam gereja. Lantai gereja ambles," kata Sumaryono.

Diterangkan, Dusun Kutanangka merupakan bukit yang banyak cekungan. Potensi sinkhole ada ketika terjadi genangan air atau banjir di daerah cekungan. Tebal tanah pelapukannya mencapai 5 hingga 6 meter.

Untuk mengantisipasi terjadinya kembali sinkhole, pemerintah daerah dianggap perlu membangun saluran drainase yang memadai, agar air tak menumpuk di permukiman. Selain itu, pendirian rumah baru jangan pada daerah cekungan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved