News Video
Lantunan Musik Tradisional Karo di Garista Siwaluh Jabu
Berwisata sekaligus belajar sejarah rumah adat Karo tak perlu jauh-jauh ke Kabupaten Tanah Karo, sudah ada Garista Siwaluh Jabu di Medan
Penulis: Alija Magribi | Editor: Hendrik Naipospos
TRIBUN-MEDAN.COM - Berwisata sekaligus belajar sejarah rumah adat Karo tak perlu jauh-jauh ke Kabupaten Tanah Karo.
Di Kelurahan Sempakata, Kecamatan Medan Selayang, sudah ada Garista Siwaluh Jabu.
Rumah adat Karo yang didatangkan dari Desa Pernantin, Kecamatan Juhar, Kabupaten Tanah Karo.
Di lokasi ini, pengunjung juga disuguhkan lantunan musik tradisional Karo yang menambah suasana tempo dahulu.
Christopher Sembiring adalah pemusik di Garista Siwaluh Jabu.
Ia bermain bersama rekan-rekannya yang merupakan mahasiswa Etnomusikologi USU.
"Rencananya Sabtu- Minggu di sini. Nah, ke depan selain main musik ada juga Gundala Gundala (tarian topeng) dan Dikar (silat khas Karo)," ucap Christopher Sembiring.
• Karo United Lolos ke Babak Nasional Liga 3 Kandaskan PSLS Lhokseumawe, Ini Kata Pelatih
• Pegawai Tirta Malem Tak Gajian 9 Bulan, Bupati Karo Kaget Tunggakan Pelanggan PDAM Capai Rp5 M
Grup musik tradisional Christopher Sembiring bernama Jambe yang bermakna sier jabaten atau punya jabatan.
Maksudnya adalah sebagai pemusik yang punya jabatan di pesta atau menggambarkan orang yang terhormat.
"Jadi kami sudah terbentuk selama setahun, dari seluruh mahasiswa Etnomusikologi USU. Awalnya cuma sering jumpa dan nongkrong bareng, namun kenapa gak kita buat grup musik aja, apalagi kita semua orang Karo," ujarnya.
Formasinya sebagai berikut, Sarunei Karo dimainkan Christopher Sembiring, Gendang Indung dimainkan Rio Hosea Bangun dan Gendang Anak ditangan Sergius Tarigan.
Sementara Gong Penganak dimainkan Mario M Purba dan Kulcapi dipetik Gilang Ginting.
Cristopher mengaku ada jiwa yang meresapi dirinya dan kawan-kawan untuk melestarikan budaya Karo, sehingga kesulitan apapun memainkan alat alat musik tradisional menjadi tak terlihat lagi.
Grup musik ini memiliki filosofis Ensamble Gendang Telu Sedalanen Lima Sada Perarih.
"Jadi dulu pemain musik yang diundang tiga orang (telu). Sedalenen artinya sejalan. Kemudian dipanggil dua orang lagi sebagai pemain Gong. Jadikan lima. Selanjutnya ada Sada, Sada maksudnya menjadi kompak, se-iya sekata," pungkas Christopher Sembiring.
(cr15/tribun-medan.com)