Dirundung Kasus Penyelundupan Harley Davidson, Begini Catatan Keuangan Garuda Indonesia
Di tengah ramai pemberitaan soal penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton, kinerja maskapai Garuda tidaklah secemerlang nama besarnya.
KOMPAS.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mencopot Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara menyusul ditemukannya motor Harley Davidson dan sepeda Brompton ilegal di pesawat baru milik maskapai tersebut.
Penemuan barang mewah oleh petugas Bea dan Cukai di lambung pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA9721 bertipe Airbus A330-900 Neo terjadi pada Minggu (17/11/2019) lalu.
Di tengah ramai pemberitaan soal penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton, kinerja maskapai Garuda tidaklah secemerlang nama besarnya.
Bahkan salah satu perusahaan pelat merah tersebut pernah mengalami kerugian selama dua tahun berturut-turut
Namun pada periode sembilan bulan pertama 2019, Garuda berhasil meraup untung.
Berikut catatan kinerja keuangan Garuda Indonesia:
1. Triwulan ketiga 2019, untung Rp 1,7 Triliun
Garuda Indonesia berhasil mencatatkan laba bersih senilai USD 122,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,7 triliun.
Dikutip dari Kompas.com, 1 November 2019, jumlah tersebut naik signifikan jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencatatkan rugi sekitar 127,97 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,5 triliun.
Melonjaknya laba bersih sejalan dengan kenaikan pendapatan Garuda pada kuartal III 2019 senilai 3,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 49 triliun.
2. 2018, rugi Rp 2,45 Triliun
Maskapai pelat merah ini pada 2018 mencatatkan rugi bersih sebesar 175,02 juta dollar AS atau setara Rp 2,45 triliun.
Dikutip dari Kompas.com, 26 Juli 2019, Garuda Indonesia harus mempublikasikan ulang (restatement) laporan keuangan tahun 2018.
Hal tersebut merespons hasil keputusan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Sebelumnya, Garuda Indonesia memoles laporan keuangan pada 2018 dengan mencetak laba bersih 5 juta dollar AS meningkat tajam dari 2017 yang rugi 216,58 juta dollar AS.
3. 2017, rugi Rp 2,98 Triliun
Maskapai Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan kerugian bersih (net loss) sebesar 213,4 juta dollar AS sepanjang 2017 atau sekitar Rp 2,98 triliun (kurs Rp 14.000)
Dikutip dari Kompas.com, 26 Februari 2018, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengatakan, kerugian perseroan sebagian besar disebabkan peningkatan biaya bahan bakar avtur, yakni sebesar 16,5 persen secara tahunan.
Sepanjang 2017, biaya bahan bakar yang dikeluarkan Garuda mencapai 1,155 miliar dollar AS, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 924,7 juta dollar AS.
Adapun pendapatan operasi Garuda tercatat sebesar 4,2 miliar dollar AS pada 2017. Angka tersebut meningkat sebesar 8,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 3,9 miliar dollar AS.
4. 2016, untung Rp 124,5 Miliar
Pada 2016, Garuda Indonesia mampu mencatatkan laba bersih senilai 9,36 juta dollar AS atau Rp 124,5 miliar.
Dikutip dari Kompas.com, 22 Maret 2017, Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, penurunan laba bersih disebabkan persaingan bisnis aviasi yang ketat pada 2016.
Salah satunya, persaingan harga tiket antar maskapai.
Tetapi, pada sembilan pertama 2016, Garuda Indonesia masih membukukan kerugian sebesar 43,6 juta dollar AS.
5. 2015, untung Rp 1,075 Triliun
Dikutip dari Kompas.com, 16 Februari 2016, Garuda Indonesia membukukan laba bersih sebesar 77,97 juta dollar AS sepanjang 2015 atau sekitar Rp 1,075 triliun (kurs Rp 13.788).
Laba yang dicacatkan perusahaan pelat merah ini lebih disebabkan oleh penyusutan beban usaha. Pasalnya, pendapatan Garuda Indonesia masih menurun.
Pada 2014, pendapatan Garuda Indonesia mencapai 3,93 miliar dollar AS. Sementara pada 2015, pendapatannya turun menjadi 3,81 miliar dolar AS.
6. 2014, rugi Rp 4,87 Triliun
Garuda Indonesia mencatatkan kerugian sebesar 371,9 juta dollar AS selama tahun buku 2014 atau sekitar Rp 4,87 triliun (kurs Rp 13.100)
Capaian tersebut merosot jika dibandingkan capaian keuangan Garuda Indonesia pada 2013 yang meraup laba sebesar 13,583 juta dollar AS.
Dikutip Kompas.com, 20 Maret 2015, Direktur Keuangan Garuda Indonesia Arof Wibowo mengatakan, kerugian tersebut diakibatkan adanya tekanan dari faktor eksternal dan internal yang membuat kinerja melemah.
(Sumber:Kompas.com/Mutia Fauzia, Sakina Rakhma Diah Setiawan, Achmad Fauzi, Estu Suryowati, Yoga Sukmana, Akhdi Martin Pratama | Editor:Sakina Rakhma Diah Setiawan, Bambang Priyo Jatmiko, M Fajar Marta, Erlangga Djumena)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sering Rugi, Berikut Catatan Kinerja Keuangan Garuda Indonesia 2014-2019"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pesawat-garuda-indonesia_turunkan-harga-tiket.jpg)