Karin, Karya Filmmaker Lokal Umaru Shoddiq yang Angkat Fenomena Sosial
Layar Indie Project (LIP) hadir kembali untuk yang kelima kalinya. Event yang digelar secara berkala
Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Layar Indie Project (LIP) hadir kembali untuk yang kelima kalinya. Event yang digelar secara berkala ini merupakan wadah pemutaran film-film indipenden, khususnya di Kota Medan.
Seperti gelaran sebelumnya, LIP memutar film-film pendek karya anak muda Medan dan sekitarnya.
Sebagai bioskop alternatif, LIP menyajikan suguhan film indi berkualitas yang layak untuk ditonton.
Sebuah cafe di J&M Cofee-Tea, Jalan Harmonika Baru No.111, menjadi tempat pemutaran film akhir tahun ini. LIP memutar lima film yang bertemakan horor.
Di antaranya adalah TAMU yang disutradarai oleh Dinda Aina, Dembalan yang disutradarai oleh Zainal, Tahayul yang disutradarai oleh Agung, Lepas dan KARIN yang disutradai oleh Umaru Shoddiq.
Gelaran LIP keenam dibuka dengan penayangan film-film pendek tersebut, hingga puncaknya, film KARIN diputar perdana di hadapan para penonton. Film ini diawali dengan adegan ban mobil yang melaju kencang.
Seorang wanita yang adalah Karin tengah menyetir, dengan satu tangannya meraba-raba sekitar untuk mencari handphonenya. Tanpa sengaja, Karin menabrak sesuatu. Namun karena kondisi sudah malam hari dan gelap, dia berlalu begitu saja.
Sesampainya di kost, Karin merasa tidak nyaman. Dia kemudian membaca cuitan dari temannya yang bernama Arif, mengatakan ada tetangganya yang menjadi korban tabrak lari. Cerita kemudian berlanjut, Karin mulai merasa diteror oleh makhluk halus.
Teror yang dialaminya semakin kuat. Ia dihantui oleh pocong dan terornya semakin mengerikan. Puncaknya, saat dia dikejar-kejar oleh pocong tersebut, Karin lari dan akhirnya tertabrak mobil. Orang-orang disekitarnya tidak menolong, malah sibuk merekam dan membuat story di akun media sosial masing-masing.
Film ini ditutup dengan adegan penjelasan mengapa Karin diteror oleh pocong tersebut. Ternyata pada malam itu, Karin menabrak seorang pemuda yang baru saja keluar dari masjid. Karena kondisi gelap, Karin tidak melihatnya. Ibu si korban kemudian sengaja tidak melepaskan tali pocongnya saat dikubur, dengan niatan anaknya akan tetap berada di sisinya. Namun ternyata, anaknya menjadi pocong dan menghantui Karin.
Sutradara KARIN Umaru Shoddiq mengatakan, film ini mengangkat isu-isu yang sedang terjadi saat ini. Seperti penggunaan handphone tidak pada tempatnya.
“Penggunaan dan pencitraan melalui media sosial, yang semua itu menyebabkan kerugian pada orang lain. Dalam film ini, penggunaan handphone saat membawa mobil dan menyebabkan kecelakaan serta kematin orang lain,” katanya, pekan lalu.
Umaru menambahkan, hal ini menjadi perhatian bagi semua orang, bahwa apa yang kita lakukan akan mendapatkan balasannya. Uniknya, hal sederhana yang sekarang menjadi sebuah fenomena di masyarakat saat ini tersebut, dibungkus dalam balutan film bergenre horor.
Hal ini tentunya membuat isu tersebut menjadi lebih menarik untuk ditonton. Proses pembuatan film yang berdurasi 24 menit ini memakan waktu 8 bulan dan melibatkan 27 kru. “Secara treatment bercerita melalui media yang menjadi pokok permasalahan dalam film KARIN,” katanya.
Menurut Umaru, film KARIN diterima dengan baik oleh penonton. Pesan yang disampaikan mengena kepada penonton, karena isu yang diangkat merupakan hal yang paling dekat dengan kehidupan saat ini.
“Sebenarnya hampir kita semua melakukan ini. Memang karena mengamati sekitar, kemudian sadar diri sendiri juga saya pernah melakukan hal yang diangkat dalam film KARIN ini. Karena itu isu ini diangkat untuk menyadarkan yang lain juga,” ucap Umaru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/keseruan-nonton-bareng-film-film-karya-generasi-lokal-kota-medan.jpg)