Kedai Tok Awang

Entah Apa yang Merasuki Barcelona

Fakta lain menunjukkan, sebagai pelatih Betis, Setien tujuh kali menghadapi Barcelona dan hanya mampu satu kali menang. Enam laga lainnya kalah.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
www.fcbarcelonanoticias.com
Pelatih Barcelona, Quique Setien 

Para pengunjung Kedai Tok Awang punya jago di tiap liga Eropa. Tak terkecuali La Liga Spanyol. Dan sebagaimana kecenderungan di negara-negara di luar Spanyol, pengunjung Kedai Tok Awang, baik yang tetap maupun tentatif, terbagi ke dalam dua besar. Jika tidak Barcelona tentunya Real Madrid.

Memang, terkadang, ada juga yang mendukung Atletico, Valencia, Sevilla, bahkan Espanyol dan Deportivo La Coruna. Namun bisa dipastikan dukungan ini bukan sungguhan. Kalau pun ada persentasenya kecil sekali.

Polanya mudah ditangkap. Tatkala Atletico berhadapan dengan Real, maka pendukung Barcelona akan ramai-ramai mendukung Atletico. Tiba-tiba mereka jadi pecinta Diego Simeone. Pula demikian apabila Barcelona bentrok dengan Espanyol. Tak perlu bantuan analis sepak bola untuk menyimpulkan pendukung Real Madrid berpihak ke mana.

Maka, meski pun hanya dua golongan, duel terjadi sepanjang tahun. Mereka meributkan semua hal yang berkaitpaut dengan musuh masing-masing. Di dalam maupun di luar lapangan. Saat Cristiano Ronaldo masih di Real Madrid, bahkan urusan gaya rambutnya dirasa perlu untuk dipertentangkan dengan Lionel Messi.

Hari ini mereka ribut lagi. Perkaranya, pendepakan Ernesto Valvarde dari kursi pelatih kepala Barcelona. Adalah Jontra Polta yang pertama kali buka calak.

Jon sebenarnya anomali di Kedai Tok Awang. Dia bukan suporter klub mana pun. Dia mendukung klub mana saja, sepanjang klub itu potensial memberikan keuntungan baginya. Sikap yang pada dasarnya membuat dia tidak pernah terlibat saling sindir saling ejek.

Namun kali ini berbeda, Jon menyerang Barcelona. "Aneh kali kutengok Barcelona ini. Kok, bisa, lah, pelatih kayak gitu yang mereka pilih," katanya.

Senin malam, 13 Januari 2020, waktu Barcelona, manajemen klub memberhentikan Valverde dan menyerahkan posisi kepada Quique Setien. Siapa Setien? Jika bukan analis sepak bola atau orang yang intens mencermati La Liga Spanyol, pastinya tidak akan tahu.

"Awak udah gugling-gugling ini, Ketua," ujar Sangkot. "Ini dapat awak tim yang pernah dilatihnya. Racing Santander, Poli Ejido, Equatorial Guinea, Logrones, Lugo, Las Palmas, dan Real Betis."

"Makjang, klub-klub papan bawah semua, ya," ucap Sudung.

"Equatorial Guinea itu klub bola atau negara?" tanya Ane Selwa. "Kok, aku belum pernah dengar?"

Sudung cepat menyahuti. "Negara, Ne, bukan klub. Negara di Afrika. Makanya, dulu waktu pelajaran geografi jangan tidur aja kerja Ane."

"Banyak kali cakap kau. Macam kau bisa aja. Tahunya aku pelajaran geografi kau juga dulu ponten empat. Jangan sok, lah. Kalok cumak nengok di gugel nenek-nenek belum ganti kulit jugak bisa."

Pertengkaran tak berlanjut karena Jontra Polta buru-buru memotong. Melanjutkan kesan heran, Jon bilang tidak memahami apa yang menjadi pertimbangan manajemen Barcelona memilih Setien.

"Cobak kelen tengok riwayat kariernya. Sudah, lah, megang klub gurem, enggak ada pulak yang pernah juara. Paling lama dia ngelatih Lugo, klub Divisi Dua," sebutnya.

Quique Setien enam tahun di Lugo. Catatan paling baik dibuatnya di tahun 2012 saat membawa klub ini naik dari Segunda Division B. Setelah itu, sampai tiga tahun berselang, tak ada gebrakan hingga pindah ke Las Palmas.

"Tapi dia pernah main di Liga Champions, Ketua. Tahun 2018. Waktu pegang Real Betis," kata Sudung.

"Juara?" tanya Sangkot dan Ane Selwa nyaris bersamaan.

"Ya, enggak. Langsung tebuntang di babak grup."

"Itu, lah. Makanya awak bingung. Entah apa, lah, yang merasuki manajemen Barca ini, ya. Pelatih kelas tiga pulaknya mereka rekrut. Macam enggak ada yang lain," kata Jontra Polta diikuti tawa berderai. Sudung, Sangkot, dan Ane Selwa ikut tertawa.

"Ah, kalian sama aja kayak netizen-netizen alay. Sok tahu," sergah Lek Tuman yang sedari tadi bermain catur dengan Pace Pae.

Lek Tuman Cules sejati. Dia telah menjadi suporter Barcelona sejak era Ronald Koeman. Dia mengaku memotong ayam peliharaan dan meminta istrinya untuk memasak opor untuk merayakan kemenangan Barcelona atas Sampdoria di Piala Champions 1992.

Pace Pae pun begitu. Selain Persipura, hanya Barcelona yang ada di hatinya. Untuk Spanyol tentu saja. Di Jerman dia menyukai Borusia Dortmud, di Perancis PSG, di Belanda Ajax, di Italia Inter Milan, dan di Inggris, Manchester United. Khusus Inggris, ini perpaduan yang agak unik. Sebab biasanya, suporter Manchester United lebih condong ke Real Madrid.

"Saya suka Ronaldinho. Kata saya punya Bapa, dulu di Persipura ada pemain nama Timo Kapisa. Kata Bapa, mainnya mirip Ronaldinho. Jadi tiap lihat itu Ronaldinho main, saya membayangkan Timo," katanya tiap kali ditanya alasan mengapa dia menjadi Cules. Dan sejurus itu, Pace Pae akan selalu menyanyikan lagu Black Brother. Timo Kapisa, Johanes Auri, dan kawan-kawannya. Bermain gemilang, menerjang lawan dan selalu menang.

Pace mencoba menampik tudingan Jontra Polta yang menyebut Setien pelatih kelas tiga. Menurut dia, saat melatih Betis, Setien pernah membawa timnya mengalahkan Barcelona dan Real Madrid.

Kelitan ini tak cukup kuat. Sudung yang jadi juru googling, menemukan fakta bahwa memang benar Betis di bawah Setien pernah menekuk Barcelona dan Real Madrid. Namun fakta lain menunjukkan, sebagai pelatih Betis, Setien tujuh kali menghadapi Barcelona dan hanya mampu satu kali menang. Enam laga lainnya kalah.

"Lawan Madrid agak mendingan sikit," sebut Sudung. "Delapan kali main, dua kali menang, dua kali seri, empat kali kalah."

Lek Tuman mengambil jalan lain. Ia mengatakan pemilihan Setien hanya merupakan semacam langkah antara. Maksudnya, Setien hanya bagian dari skenario besar manajemen yang ingin mengembalikan filosofi Tiki Taka yang mulai luntur sejak ditangani Valverde.

"Manajemen telah menyiapkan Xavi Hernandes sebagai pelatih masa depan. Tadinya Xavi diminta untuk langsung menangani Barca sekarang, tapi dia menolak karena ingin menghormati kontraknya di Qatar," kata Lek Tuman.

Argumentasi Lek Tuman justru memperpanjang debat. "Kalok kayak gitu, awak rasa agak aneh, lah, Lek," kata Ane Selwa.

"Aneh macam mana?"

"Barca ambil resiko terlalu besar."

"Terlalu besar bagaimana?"

Ane Selwa bilang, meski gagal dapat tropi Piala Super Spanyol, sampai sejauh ini Barcelona masih punya peluang untuk membawa tiga tropi lain ke Camp Nou. Mereka sedang memimpin klasemen La Liga. Mereka juga masih hidup di Copa Del Rey dan Liga Champions.

"Jadi kalau alasannya cuma untuk menunggu Xavi, kurasa bengak kali, lah, orang tu. Ibarat kata ini, Lek, berharap hujan di langit air tempayan dicurahkan," ujar Ane Selwa.

Lek Tuman tidak sepakat. Menurut dia, Barcelona bukan sekadar klub bola. Barcelona, sebutnya, adalah sebuah sistem. Dalam hal ini, sistem yang sudah dibangun secara solid, hingga siapa pun yang menjalankannya, tetap saja bisa berjalan.

Giliran Jontra Polta yang tertawa. "Begini, Lek. Aku ibaratkan Si Setien ini sopir, lah, ya. Sehari-hari, biasa bawa angkot dia. Lalu tiba-tiba disuruh bawa Ferrari. Jalan memang jalan Ferrari ini. Cuma enggak jaminan bisa mulus. Bisa-bisa nyosor masuk paret."

Tok Awang yang sedang menonton siaran ulang Master Chief di televisi, tiba-tiba menyeletuk. "Iya, sama, lah, kayak PSMS kelen itu. Target mau masuk Liga 1, eh, Si Philip Hansen pulak yang dijadikan pelatih."

"Eh, pelatih kelas itu, Tok. Orang Belanda," kata Sudung menimpali.

"Belanda kepala otak kau."

Sudung tertawa. Jontra Polta, Sangkot, Ane Selwa, tertawa. Pace Pae dan Lek Tuman juga ikut tertawa. Sementara di televisi, Chief Juna memarahi seorang kontestan karena salah memasak terong.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved