Hutan Mangrove akan Dialihfungsikan, Aktivis Minta Pemko Medan Jelaskan Dampaknya

"Apakah bisa dipastikan kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitar hutan mangrove?" kata Wibi.

Tribun Medan/Riski Cahyadi
Pengunjung menikmati ekowisata dan sekolah alam mangrove di pinggiran Danau Siombak, Medan Marelan, Medan, Sumatera Utara, Minggu (22/12/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com - Menanggapi rencana pengalihan fungsi hutan mangrove yang dibahas Ranperda tentang Perubahan Peraturan Daerah 13 tahun 2011 tentang Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Medan, aktivis lingkungan Wibi Nugraha berharap agar ditinjau ulang dan dijelaskan secara rinci.

"Aku minta ditinjau ulang atau pun dijelaskan secara rinci, maksudnya pengalihan hutan mangrove yang bagaimana. Apa manfaatnya ke masyarakat kalau alih fungsi hutan itu terjadi," katanya, Kamis (16/1/2020).

Ia mengatakan kalau pun alih fungsi hutan mangrove harus dilakukan, harus dipastikan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat. Apakah bisa dipastikan kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitar hutan mangrove?

"Aku bukan anti pembangunan, jika masyarakat mendapatkan manfaat dan kesejahteraan, aku enggak masalah. Namun jika Perda itu tidak bisa dipastikan memberi manfaat kepada masyarakat ya harus ditinjau ulang," katanya.

Meski demikian kata Wibi, persoalan pengalihan hutan mangrove bukan hanya terletak di kesejahteraan masyarakat semata. Namun harus juga memperhatikan dampak dari ekosistem yang berubah dan efeknya terhadap lingkungan.

Dikritik, Rencana Alih Fungsi Hutan Mangrove Demi Majukan Kawasan Utara Medan

"Kalau misalnya hutan mangrove dihabisi mungkin akan lebih dari yang kita duga, sebab jangankan gundul, sekarang aja kita masih punya mangrove kita mengalami rob (banjir besar). Kalau misalnya ada bencana tumpahan minyak, siapa lagi yang menetralisir tumpahan minyak itu? Sebab mangrove yang punya kemampuan menetralisir," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa mangrove merupakan satu-satunya tumbuhan yang mampu menyerap karbon lima sampai 20 kali. Sejarah sudah membuktikan ketika tsunami Aceh di daerah Simelu terkena terjangan sunami 33 meter, namun ketika masuk ke perkampungan air sudah biasa karena ada pohon mangrovenya," katanya

Pendiri Sekolah Alam Medan Mangrove Education School ini, juga menjelaskan bahwa mangrove menjadi bagian penting ekosistem dibawahnya sebab menjadi rumah bagi ikan, udang, kepiting dan lainnya.

"Mangrove untuk sebuah peradaban penting, Tuhan menciptakan mangrove untuk melindungi kita, kadang kita yang enggak sadar, intinya kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita," katanya.

Selain itu, keberlangsungan hewan yang hidup di hutan mangrove seperti kera dan lutung kata Wibi juga perlu diperhatikan.

"Kalau mangrove habis, ekosistem hancur. Jangan harap kita bisa makan udang, kepiting bakau dan lainnya. Dan lagi jangan kaget kalau dulunya itu hutan mangrove dan gundul masyarakat sering diganggu sama lutung atau kera karena rumah mereka hancur," katanya.

Selain itu, lelaki yang pernah diundang ke istana negara ini mengatakan, keberadaan mangrove juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup para nelayan.

"Sangat berpengaruh, sehingga harapan saya ini bisa dijelaskan secara rinci dan tentunya sebelum perdanya keluar ada dilakukan penelitian, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan, masyarakat, ekonomi, dan kesejahteraan. Dan lagi anggota DPRD, Pemko serta dinas dan pemerintahan terkait, bisa turun langsung ke lokasi, bawa tim akademisinya jangan dengar dari a,b,c," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved