Pendemo Bawa Keranda Kawal Dua Terdakwa Masyarakat Adat, Komisi Yudisial Pantau Persidangan

"Ini adalah bentuk keprihatinan kami terhadap masyarakat adat Sihaporas," ujar aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)

Pendemo Bawa Keranda Kawal Dua Terdakwa Masyarakat Adat, Komisi Yudisial Pantau Persidangan
Istimewa
Pendemo bawa keranda kawal dua terdakwa masyarakat adat di PN Simalungun, Senin (27/1/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com,SIANTAR - Puluhan aktivis Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Adat (AMMA) kembali menggelar unjuk rasa berketepatan dengan sidang yang ke-9 atas aktivis masyarakat adat Lamtoras Sihaporas di Pengadilan Simalungun, Jalan Asahan, Pematang Siiantar, Senin (27/1/2020).

Dalam kasus ini terdakwa dua yaitu, Thomson Ambarita selaku Bendahara Umum Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) dan Jonny Ambarita (Sekretaris Umum Lamtoras).  

"Ini adalah bentuk keprihatinan kami terhadap masyarakat adat Sihaporas," ujar aktivis  Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Pematang Siantar-Simalungun Theo Naibaho, saat berorasi, di depan kantor Pengadilan Simalungun di Jalan Asahan Pematang Siantar.

Pengunjuk rasa mengaku sangat kecewa menghadapi penegakan hukum di Kabupaten Simalungun.

"Kenapa masyarakat saja yang diproses hukum. Kenapa pekerja TPL belum diproses. Bagaimana perasaan kalian ini kepada kami, yang setiap sidang selalu hadir. Kami tidak sekaya kalian. Pengadilan adalah wakil Tuhan di dunia ini. Tolonglah beri kami keadilan. Kami ingin Jonny Ambarita dan Thomson Ambarita dibebaskan," ujar Theo.

 “Kami dari AMMA (Aliansi Mahasiswa Masyarakat Adat) menuntut agar Pengadilan Negeri Simalungun membebaskan Jhonny Ambarita dan Thomson Ambarita, dan mendesak Polres Simalungun untuk segera menangkap Humas PT TPL Bahara Sibuea, atas laporan Thomson Ambarita atas dugaan tindak pidana penganiyaan yang dilakukan oleh Bahara Sibuea, Humas PT Toba Pulp Lestari (TPL)”.

Adapun sidang ke-9 ini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, di mana terdakwa Jonny Ambarita bertindak sebagai saksi untuk Thomson Ambarita dan begitu juga sebaliknya. 

Aliansi Mahsiswa dan Masyarakat Adat (AMMA) terdiri atas masyarakat adat Sihaporas (Lamtoras), Perhimpunan Mahasisiwa Katholik Republik Indonesia (PMKRI)) Cabang Pematangsiantar, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Pematangsiantar, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Tano Batak.

Pendemo bawa keranda kawal dua terdakwa masyarakat adat di PN Simalungun, Senin (27/1/2019)
Pendemo bawa keranda kawal dua terdakwa masyarakat adat di PN Simalungun, Senin (27/1/2019) (Istimewa)

Dalam aksi tersebut para massa aksi membawa keranda hitam, aksi ini dilakukan sebagai bentuk matinya keadilan buat masyarakat adat terkhusus di Sihaporas. 

Salah satu demonstran dalam orasinya mengatakan, ”kami akan tetap mengawal persidangan ini hingga selesai. Kami meminta Pengadilan Negeri Simalungun selaku lembaga peradilan yang sedang menangani aksi ini agar dapat bertindak objektif, mandiri, dan bebas dari intervensi dari pihak mana pun, terutama pihak-pihak yang ingin mencederai keadilan.“

Halaman
1234
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved