Batik Cap Kian Menjamur, Sanggar Seni Pendopo Tetap Pertahankan Tradisi Mencanting

Batik tulis erat kaitannya dengan proses mencanting. Berbeda zaman, saat ini banyak masyarakat yang ingin mendapatkan hasil instan

Batik Cap Kian Menjamur, Sanggar Seni Pendopo Tetap Pertahankan Tradisi Mencanting
TRIBUN MEDAN/KARTIKA SARI
Kegiatan mencanting yang dilakukan dalam proses pembatikan. Dalam proses ini, pengrajin batik memerlukan alat canting untuk mengukirkan lilin cair di kain. 

TRIBUN-MEDAN.com, Medan - Batik tulis erat kaitannya dengan proses mencanting. Berbeda zaman, saat ini banyak masyarakat yang ingin mendapatkan hasil instan dan murah.

Melihat kebutuhan pasar tersebut, pengrajin batik hampir  kebanyakan menggunakan cap untuk menghasilkan batik dengan cepat dan cenderung murah.

Pengrajin Batik Melayu Batak, Waritri Mumpuni menuturkan bahwa proses mencanting dalam batik tulis akan berbeda dengan batik cap yang kini sudah menjamur dimana-mana.

"Kalau batik cap, dia sekali melakukan proses ngecap dapat dipakai ribuan kali. Tapi kalau batik tulis ini dengan menggunakan canting punya daya seni yang tinggi. Kadang di kalangan tertentu bisa nilainya tidak terdeteksi karena dia hanya ada satu dan batik tulis ini limited edition," tutur Waritri, Rabu (29/1/2020).

Selain memiliki nilai seni tinggi yang terdapat di batik, proses mencanting ini dapat melatih dalam aspek kesabaran dan pernapasan. Ia mengungkapkan bahwa dalam mencanting, pengrajin batik kan memiliki napas yang teratur.

"Mencanting ini melatih kesabaran dan ketekunan. Kalau mencanting ini ada unsur sehatnya, jadi ketika lilin ini panas, dia akan berhembus untuk mencapai titik kepanasan tertentu yang harus ditorehkan ke kain itu. Jadi bernapas bisa lebih teratur dan memiliki ketelatenan," ungkap Waritri.

Senada dengan Waritri, Wahyu Tri Atmojo, Perancang batik melayu sekaligus suami dari Waritri juga menuturkan bahwa dalam seni mencanting ini akan melatih kesabaran yang ia bandingkan dengan perilaku orang zaman dulu.

"Pada prinsipnya ketika kita mencanting itu kita menulis tapi alat dan tinta yang dipakai beda. Canting ini diisi lilin kemudian kita goreskan ke kain. Kenapa orang Jawa dulu itu telaten dan sabar karena dalam mencanting ini kita melatih kesabaran dengan meniup hingga tidak terlalu panas. Ketika mencanting itu ada keunikan tersendiri," ungkap Wahyu.

Waritri menjelaskan bahwa dalam proses mencanting ini tergantung kepada karakter dan kultur masyarakat Sumatra Utara.

"Proses dalam membatik ini terpengaruh terhadap karakteristik masyarakat Sumatra Utara. Kalau orang Batak kan sukanya ingin cepat, jadi yang seharusnya lurus jadi dibelokkan untuk motifnya. Tapi disitulah keunikan tersendiri karena tercipta model baru. Itulah ciri khas batik Sumatra karena kultur san karakter yang ingin serba cepat," ujar Waritri.

Menurut Waritri, Sumatra Utara masih minim dengan pengrajin batik dibandingkan dengan pengrajin batik yang berada di pulau Jawa. Bahkan ia mengungkapkan bahwa hanya di Sanggar Seni Pendopo yang memiliki konsentrasi terhadap batik tulis dengan seni mencanting.

"Kalau pengrajin batik bisa dihitung dengan jari yang tidak sampai 20 pengrajin di Sumatra Utara. Kalau di Jawa bisa satu kelurahan bisa lebih dari 100. Dan yang konsen terhadap batik tulis hanya ada di Sanggar Seni Pendopo ini," ungkapnya.

Dalam proses pewarnaan, Sanggar Seni Pendopo menggunakan bahan pewarna kimia seperti Naptol, Digosol, dan Remasol. Selain pewarna kimia, Waritri menjelaskan bahwa ia juga menggunakan pewarna dari bahan alami seperti kulit rambutan, daun ceri, daun jati, kulit manggis dan daun pace.

Ia menuturkan bahwa untuk pewarna alami digunakan untuk warna yang lembut dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi untuk dipakai karena tidak menggunakan bahan kimia. Namun, untuk hasil batik yang warna terang menggunakan remasol.

Hingga saat ini, Galeri Seni Pendopi tetap menjaga kualitas dalam batik yang memiliki ornamen Melayu dan Batak yang sudah terjual ke berbagai kota hingga ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, dan China. (cr13)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved