Banjir Tapanuli Tengah

Penebangan Hutang Secara Ilegal Diduga Jadi Biang Kerok Banjir Bandang di Tapteng

WALHI Sumut, menduga adanya penebangan hutan secara liar atau ilegal logging di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Penulis: Satia |
huffpost.com
Ilustrasi banjir 

TRIBUN MEDAN.COM, MEDAN - Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumut, menduga adanya penebangan hutan secara liar atau ilegal logging di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Menurutnya, tidak akan mungkin air hujan dapat meluluhlantakkan daerah tersebut, apabila hutan masih terjaga dengan baik.

"Kita duga pasti ada kerusakan lingkungan di sana. Kawasan tersebut memang sering banjir. Tidak bisa menyalahkan curah hujan penyebab bencana ini," kata Direktur WALHI Sumut, Dana Tarigan, melalui sambungan telepon genggam, Rabu (29/1/2020).

Akibat intensitas hujan yang tinggi, sebanyak 7 desa/kelurahan di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) direndam bencana banjir pada Rabu (29/1/2020) sekitar pukul 01.00 WIB.

Banjir dengan tinggi muka air sekitar 2 sampai 2,5 meter tersebut juga menyebabkan 1 warga meninggal dunia, 22 luka-luka dan sebanyak 700 KK terdampak banjir.

Ia mengatakan, daya tampung atau resapan air pada kawasan hutan di Kabupaten Tapteng sudah tidak baik. Bahkan, dirinya menyebut, kondisi hutan di Tapteng sudah masuk dalam kategori tidak layak, atau rusak.

"Jadi ini bicara daya tampung dan data dukung lingkungan, hutan di sana sudah tidak layak lagi atau rusak," ujarnya.

Dirinya heran melihat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Tapteng terkesan mengabaikan kondisi hutan, di mana tidak melakukan pemetaan daerah-daerah rawan bencana.

Menurutnya, kali kedua sudah banjir bandang ini terjadi di Sumut, pertama di Kabupaten Labuhanbatu Utara dan sekarang ini.

"Aneh jika Pemprov Sumut tidak bisa memetakan wilayah rawan bencana ekologis di Sumut. Harus ada evaluasi mengenai kejadian ini. Pemerintah telah lalai dalam menjalankan tugas untuk melindungi dan mengawasi kawasan hutan," ujarnya.

Setelah kejadian ini, pihaknya akan melakukan investigasi terhadap kerusakaan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Tapteng.

Tidak hanya di Tapteng, pihaknya juga akan membuka data kerusakan lingkungan pada daerah-daerah lain.

(cr19/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved