TERKAIT ISIS - Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu Ungkap Operasi Our Eyes, Hingga Perintah ISIS
Ada upaya kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memindahkan basisnya di Asia Tenggara dari Marawi di Filipina ke Indonesia.
"Apapun keputusan kita, kita pulangkan atau tidak itu menunjukkan kepedulian kita atau kehadiran negara pada masalah mereka."
Lantas, ia kembali menegaskan kehadiran pemerintah dalam hal ini tak berarti harus memulangkan WNI eks ISIS tersebut.
"Saya kira seperti itu, tidak bermakna harus dipulangkan," ucap dia.
Namun saat ditanya lebih lanjut, Fachrul Razi enggan bicara banyak.
Ia pun menyinggung nama Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Tapi dengan Bapak Presiden mengatakan kita bahas bersama lagi tentang positif negatifnya itu sudah menunjukkan kehadiran negara di sana," kata Fachrul Razi.
Bahkan, Fachrul Razi enggan menjawab saat ditanya sisi positif dan negatif pemulangan WNI eks ISIS.
Menurut dia, hal itu adalah wewenang Menko Polhukam Mahfud MD. Fachrul Razi menyebut dirinya tak akan banyak bicara di depan media.
Jika ada usulan, Fachrul Razi akan langsung berdikusi dengan Mahfud MD.
"Saya kan bagian dari pemerintah, kami sudah sepakat yang ditunjuk untuk koordinasi adalah Menko Polhukam."
"Nanti saat saya duduk sama beliau lah saya bicara lebih teknis," tutup Fachrul Razi.
Simak video berikut ini menit ke-19.20:
Tanggapan Pengamat Intelijen
Pada kesempatan itu, Pengamat Intelije Soleman B Ponto menilai pemulangan WNI eks ISIS dari Timur Tengah tak perlu dilakukan.
Dilansir TribunWow.com, Soleman B Ponto menyebut tak ada alasan untuk melakukan pemulangan tersebut.
Menurutnya, WNI eks ISIS itu bahkan sudah pernah berkomitmen meninggalkan Indonesia. Sehingga kini tak perlu meminta untuk dipulangkan.
Sejak awal, Soleman sudah terang-terangan tak setuju terkait rumor pemulangan WNI eks ISIS dari Timur Tengah itu.
"Bagi saya jelas tidak perlu, untuk apa?," tanya Soleman.
"Mereka sudah berangkat siap mati di sana untuk bertempur membela negara yang lain."
Ia menambahkan, WNI eks ISIS yang pernah berani mati demi kelompok teroris itu tak perlu dipulangkan.
Sebab, ada kekhawatiran mereka akan melakukan aksi terorisme jika sudah kembali ke Indonesia.
"Dia sudah siap mati ya sudah, forget it, buat apa lagi," terang Soleman.
"Tidak perlu, apapun alasannya, tidak ada alasan untuk itu."
Lantas, ia pun menyinggung peraturan perundang-undangan yang terkait dengan aksi terorisme.
Menurut Soleman, siapapun yang meninggalkan tanah air untuk berperang membela negara lain, maka yang bersangkutan tak lagi menjadi warga negara Indonesia.
"Undang-undang kita sudah jelas, bertempur untuk negara asing, kehilangan kewarganegaraan," kata Soleman.
"Jadi ketika mereka pergi ya sudah forget itu, dia juga sudah forget Indonesia kok."
Bahkan, ia menyebut pemerintah tak perlu memikirkan pemulangan WNI eks ISIS itu.
"Jadi kenapa kita harus mikir-mikir dia kembali? Tidak perlu," kata dia.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Anggota DPR RI Fraksi Nasional Demokrat (NasDem), Willy Aditya.
Menurut dia, pemerintah sudah melakukan kesalahan hanya dengan memikirkan ingin memulangkan WNI eks ISIS dari Timur Tengah.
"Kita sepakat dengan apa yang dibilang oleh Pak Soleman Ponto," ujar Willy Aditya.
"Berpikir untuk mengembalikan ini aja sebuah kesalahan."
Ia bahka menduga adanya propaganda dalam isu pemulangan WNI eks ISIS ini.
"Kenapa? Terorisme itu ada counter terorisme, ada counter propaganda," terang dia.
"Artinya counter propaganda kita sangat lemah, ketika ini ada propaganda seperti ini maka dua hari lalu saya statement."
"Apakah ini orang-orang yang termakan propaganda? Atau itu bagian dari propaganda ISIS sendiri?," sambung dia.
(Tribun-Medan.com/TribunJogja.com)
Artikel telah tayang di TribunJogja.com dengan judul:ISIS Pilih Orang Indonesia karena Memiliki Jiwa Militansi
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menhan Sebut ISIS Berupaya Pindahkan Basis dari Marawi ke Indonesia"
Artikel ini telah tayang di Tribunwow.com dengan judul Ditanya soal Isu Pemulangan WNI Eks ISIS, Menag Fachrul Razi: Saya Tidak Mau Lagi Ngomong di Media