Makin Banyak Tunanetra Turun ke Jalan Cari Nafkah, Pertuni Medan Minta Guiding Block Diperbaiki

"Maunya pembuatan jalur pedestrian untuk tunanetra itu bukan hanya sebatas formalitas saja," kata Mardizon.

Tribun Medan/Natalin Sinaga
Saiful Iman, seorang tunanetra tampak berdiri di pinggir Jalan T. Amir Hamzah Medan, untuk menjual dagangannya berupa kerupuk. 

TRIBUN-MEDAN.com - Sejumlah trotoar di kota Medan sudah dipasangkan guiding block, namun sebagian orang yang menyalahgunakan jalur tersebut demi kepentingan pribadi. Sebagian guiding block telah rusak.

Tidak jarang guiding block tersebut terlihat sudah rusak, menipis, bahkan sebagiannya hilang hingga terputusnya arah jalan. Tentunya hal tersebut sangat membahayakan bagi pejalan tuna netra.

Guiding block merupakan keramik atau ubin yang memiliki desain khusus seperti bulatan-bulatan dan garis lurus yang diperuntukkan membantu mengarahkan pejalan kaki yang memiliki kebutuhan khusus, terutama bagi penyandang tunanetra.

Guiding block juga menjadi penunjuk arah bagi pejalan tuna netra. Umumnya guiding block berwarna kuning yang umumnya disertai dua simbol yang memiliki perintah untuk jalan terus atau berhenti.

Rusaknya sejumlah guiding block yang kerap digunakan oleh penyandang disabilitas tuna netra, terlihat di beberapa tempat seperti di sekitaran Lapangan Merdeka dan Jalan Imam Bonjol. Beberapa guiding block terlihat terpisah karena kerusakan dan digantikan dengan papan kayu, terdapat pula beberapa guiding block yang hilang, menipis, tertutupi oleh pot bunga, hingga hancur, dan penanda arah yang kurang jelas.

Jasa Pijat Refleksi Kurang Laku, Saiful Iman Ganti Berjualan Kerupuk di Pinggir Jalan

Tentunya kondisi tersebut dapat membahayakan penyandang tuna netra di jalan. Kepada Tribun Medan, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Medan, Mardizon Tanjung menceritakan pengalamannya menggunakan sejumlah jalur pedestarian guiding block di Medan, ia mengaku kesulitan sebab banyak penghalang yang ia dapati seperti pot bunga, serta beberapa guiding block yang hilang.

"Pernah saya coba di inti kota, Lapangan Merdeka. Dan saya merasa kesulitan karena ada penghalang seperti pot bunga dan beberapa petunjuk jalannya sudah rusak dan terputus, jadi itu cukup membingungkan bagi kami yang penyandang disabilitas tuna netra," katanya, Jumat (7/2/2020).

Mardizon mengatakan jalur pedestarian yang dipasang guiding block harusnya diperhatikan kondisinya oleh Pemko Medan, agar tidak terkesan sekadar memasang saja.

"Pembuatan jalur pedestrian untuk tunanetra itu bukan hanya sebatas formalitas saja namun dijaga jalan yang dibuat itu, jangan sampai ada penghalang ya, karena kalau misalnya ada penghalangan ya sama aja kami pasti sulit berjalan," katanya.

Ia mengatakan selain karena terputusnya beberapa petunjuk jalan guiding block, ia juga merasa kesulitan karena adanya pot bunga besar, serta adanya orang yang parkir sembarangan.

"Kayak di Lapangan Merdeka kan. Ada pula yang pecah atau hilang gitu guiding block-nya, terus ada pula yang dia itu jalannya terputus kita nggak tahu mau ke mana, mau lurus atau mau belok kanan atau kiri itu petunjuknya nggak jelas, padahal itu kan di Lapangan Merdeka ya seharusnya itu bisa jadi tempat yang bagus untuk jalan-jalan ataupun olahraga bagi kami," katanya.

Guiding block di Lapangan Merdeka yang rusak.
Guiding block di Lapangan Merdeka yang rusak. (Tribun Medan/Gita Tarigan)

Ia mengatakan jalur pedestarian dengan guiding block sangatlah diperlukan oleh pejalan kaki tuna netra, sebab saat ini semakin menipisnya minat orang untuk menggunakan jasa urut sehingga sebagian besar mereka turun ke jalan beralih profesi menjadi penjaja kerupuk dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

"Apalagi sekarang kan, dengan kurangnya minat orang memijat jadi kan kita ini tunanetra mencari alternatif lain seperti berjualan kerupuk. Kami menjalani kerupuk ke beberapa tempat, ada pula yang mengamen dan lainnya. Nah tentu jalan itu, pasti sangat kami butuhkan dalam kondisi yang baik," katanya.

Ia mengatakan semakin mendesaknya kebutuhan ekonomi membuat pejalan tuna netra sangat membutuhkan trotoar yang ramah bagi mereka.

"Jadi harapan kita itu dibuat dengan serius dan dijaga dengan baik, supaya uang pemerintah nggak habis gitu-gitu saja, istilahnya tepat sasaran. Tahun lalu kita berterimakasih sudah dibangun cukup banyak Jalan pedestarian untuk akses tunanetra terutama di jalan kota, dan di 2020 ini kami berharap juga jalan-jalan pelestarian untuk yang tunanetra Ini, bisa juga diaplikasikan di jalan-jalan yang basis ekonomi, agar kami lebih mudah untuk berjualan," katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved