Ridwan Saidi Sebut Tak Ada Kerajaan di Ciamis, Gubernur Jabar: Jangan Sembarangan Bikin Statement

"Apa yang tidak perlu disampaikan, jangan disampaikan. Apalagi tidak berfakta sehingga menimbulkan keresahan," tutur Emil.

Tayang:
Kompas.com
Gubernur Jawa Barat Ingatkan Ridwan Saidi: Jangan Sembarangan Bikin "Statement" 

Ridwan Saidi Sebut Tak Ada Kerajaan di Ciamis, Gubernur Jabar: Jangan Sembarangan Bikin Statement

TRIBUN-MEDAN.com - Ridwan Saidi budayawan Betawi menyampaikan pernyataan bahwa tidak ada kerajaan di Ciamis. Pernyataan itu disampaikan Ridwan di kanal Youtube Macan Idealis yang tayang pada Rabu (12/2/2020).

"Mohon maaf ya dengan saudara-saudara di Ciamis. Di Ciamis itu enggak ada kerajaan," kata Ridwan Saidi pada tayangan video tersebut.

Selain itu ia menyebut arti 'Galuh' di Kabupaten Ciamis berarti brutal. Padahal menurut Dedi Mulyadi budayawan Jawa Barat, galuh atau galeuh artinya hati.

Galuh memiliki nilai spiritual yang bersifat petunjuk akan turun kepada orang-orang yang memiliki kebersihan hati.

Dedi yang pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta mengatakan pernah menggulirkan gagasan pemikiran tentang Dangiang Galuh Pakuan.

"Dangiang artinya wibawa, Galuh artinya hati, Galeuh hati. Pakuan adalah konsistensi," kata Dedi.

Selain menyebut tak ada kerajaan di Ciamis, Ridwan Saidi pernah mengeluarkan pernyataan kontrovesial lainnya.

Berikut pernyataan Ridwan Saidi yang dihimpun Kompas.com:

1. Sebut Kerajaan Sriwijaya fiktif 

Perhiasan emas berupa cincin dan anting-anting di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Perhiasan emas berupa cincin dan anting-anting di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.(DOK.KOMPAKS)

Pada Agustus 2019 lalu, Ridwan Saidi secara tegas menyebut jika Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan fiktif.

Pernyataan tersebut dikatakan Ridwan Saidi di sebuah kanal Youtube Macan Idealis yang diunggah pada Jumat (23/8/2019).

Bahkan, Ridwan Saidi mengklaim telah 30 tahun mempelajari bahasa kuno guna menelisik jejak-jejak keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Hasil penelusuran itu membawanya pada satu hipotesis bahwa kerajaan tersebut fiktif belaka.

“Saya sudah 30 tahun mempelajari bahasa-bahasa kuno. Banyak kesalahan mereka (arkeolog), prasasti di Jawa dan Sumatera adalah bahasa Melayu, tapi sebenarnya bahasa Armenia," ujar Ridwan ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (28/8/2019).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved