Mengenal Tarian Lenggok Gambus, Zapin Khas Pekan Labuhan Sumatra Utara

Tarian Zapin dikenal dengan tarian khas masyarakat suku melayu. Menurut artinya, Zapi berasal dari bahasa arab yaitu Zaffan

Istimewa
Dokumentasi kegiatan penari dalam menarikan tarian Lenggok Gambus yang identik dengan Gambus. Lenggok Gambus ini merupakan tari zapin khas Sumatra Utara. 

TRIBUN-MEDAN.com, Medan - Tarian Zapin dikenal dengan tarian khas masyarakat suku melayu. Menurut artinya, Zapi berasal dari bahasa arab yaitu Zaffan yang berarti penari dan Alzapin yang artinya gerakan kaki.

Zapin yang identik dengan melayu tidak hanya terkenal di daerah Riau saja. Sumatra Utara juga memiliki tarian melayu yang sangat mirip dengan Zapin yaitu Lenggok Gambus yang lahir dari tanah Pekan Labuhan Sumatra Utara.

Lenggok Gambus ini memiliki gerakan yang sama dengan Zapin pada umumnya, namun banyak yang tidak mengetahui bahwa di Sumatra Utara sendiri memiliki nama khas Lenggok Gambus.

Lenggok memiliki arti menari dan Gambus yang berarti alat musik penggiring tarian.

Pegiat tarian Lenggok Gambus, Irfansyah mengungkapkan bahwa tarian Lenggok Gambus ini ditarikan oleh pria dan tidak boleh ditarikan oleh wanita. Ia menuturkan bahwa

"Melayu itu identik dengan Islam karena perempuan itu tidak boleh diperlihatkan apalagi untuk menari. sehingga tari tradisi tidak ada penarinya perempuan. Kalau ada di Sumatra Utara memang udah pakemnya untuk ditarikan oleh Laki-laki dan kami sudah komitmen untuk hanya ditarikan oleh laki-laki untuk tari tradisi," ungkap Irfan, Senin (17/2/2020).

Dalam melestarikan tarian tradisi dan sebagai bentuk pengabdian terhadap tari, di tahun 2001 Irfansyah mendirikan sanggar Nusantara Indonesia (Nusindo) yang terletak di Taman Budaya Sumatra Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan No.33 Medan.

Bersama Nusindo, Irfan bergerak kembali untuk membangkitkan dan mengenalkan kepada masyarakat mengenai tarian khas Sumatra Utara. Ia menuturkan bahwa Menteri Pendidikan 2014-2016, Anies Baswedan pernah membuat Festival Zapin Nusantara untuk mempertemukan pegiat tari Zapin se-Indonesia.

"Tahun 2015 pernah diundang oleh Menteri Pendidikan untuk mengikuti Festival Zapin Nusantara atas inisiatif Anies Baswedan. Ia ingin ada satu tari yang membuat Indonesia bersatu. Ada 18 provinsi yang ikut dalam festival tersebut. Besoknya workshop dan disitu ketahuan bahwa tari Zapin itu banyak di daerah namun tidak mengirimkan karena mereka menyebutnya di daerah bukan Zapin," tutur Irfan.

Tarian Lenggok Gambus ini diiringi oleh beberapa musik, diantaranya Gambus, Marwas, dan Akordion. Tarian ini biasanya dibawakan pada saat acara sunatan, malam berinai, dan pesta pernikahan.

Irfan menuturkan bahwa untuk mengembalikan eksistensi Lenggok Gambus ini, ia membuat kreasi 8 tarian diantaranya Lenggok Gambus Anak Ayam, Lenggok Gambus Elang, Lenggok Gambus Pecah Tiga, dan Lenggok Gambus Pecah Kuning yang memiliki keunikan dari provinsi lain.

"Banyak keunikan dengan 8 tari kreasi tradisi itu memiliki motif seperti berpasangan, menari satu shaf dan ganjil bertiga. Sementara kalau di tempat lain hanya satu saja. Nah kita punya kombinasi dari itu semua. Uniknya berpasangan itu ada kanan kiri bahkan ada yang sama-sama kanan. Itu keunikannya," kata Irfan.

Pada tahun 50an, Lenggok Gambus dulunya dapat dimainkan dengan musik manapun dan tidak memiliki waktu. Jadi kalau misalnya penarinya lelah, nanti penarinya yang memberi kode begitu juga sebaliknya.

Irfan menjelaskan bahwa Lenggok Gambus ini juga memiliki nilai yang sangat menjunjung tinggi rasa hormat dan sopan santun.

"Kalau untuk belajarnya tidak begitu sulit kalau ada jiwa penarinya. Kalau untuk tarinya sendiri itu memang memiliki makna yang dalam. Untuk menari saja kita dimulai dari si tahsim si pemusik. Jadi pemusik itu dicoba dulu gendangnya. Sang penari masuk, itu jalannya saja sudah ber tabik itu ya menunduk dengan tangan kanan di bawah, itu saja sudah hormatnya luar biasa kepada siapapun," ujar Irfan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved