Dampak Kematian Babi, Penjualan Daging Babi Menurun, Berikut Pengakuan Pedagang

Dampak Kematian Babi, Penjualan Daging Babi Menurun, Berikut Pengakuan Pedagang

Tayang:
Editor: Salomo Tarigan
T r i b u n Medan/Natalin Sinaga
Lidia, pedagang daging babi di Kompleks Medan Metropolitan Trade Centre (MMTC) Jalan Willem Iskandar, Kamis (20/2/2020). 

T R I B U N-MEDAN.COM, MEDAN-
Walau kasus kematian babi di beberapa wilayah sudah mulai mengalami penurunan, pedagang daging babi belum bisa merasakan kembali ramainya pembeli. Hal tersebut dikarenakan keraguan konsumen untuk membeli dan mengkonsumsi daging babi masih ada sehingga berpengaruh terhadap transaksi yang masih terasa sepi.

Pedagang daging babi di Pasar Pasar Raya di Komplek Medan Metropolitan Trade Centre (MMTC) Jalan Willem Iskandar Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, Lidia mengaku penjualan daging babi masih sangat sepi.

Longsor Timpa Rumah Warga Saat Tertidur di Bogor, Tewaskan 4 Orang, Identitas Lengkap Korban

Surya Paloh Akhirnya Blak-blakan Ungkap Alasan Dukung Menantu Jokowi Bobby Nasution di Pilkada Medan

"Penjualan daging babi menurun, enggak seperti dulu 100 persen, sekarang penjualan hanya 80 persen saja, dulu sempat juga cuma 20 persen, pembeli enggak ada nampak," ucap Lidia, Kamis (20/2/2020).

Dikatakannya, pembeli yang semakin sedikit, mengharuskan ia mengurangi stok babi yang akan dijual. Tak hanya itu saja, harga daging babi di pabrik juga tak menentu.

Saat ini, stok daging babi yang dijualnya hanya 1,5 ekor hingga dua ekor.

Sebelum ada wabah virus babi itu mereka mampu menjual sampai tiga ekor babi dan semua dagingnya habis.

Ia mengaku, sebelum ada wabah virus babi ia mampu menjual 400 kilogram babi dan saat ini turun 50 persen pemotongannya.

"Kalau sekarang sudah susah, sudah payah, harga daging babi juga enggak menentu. Sekarang harga daging babi Rp 60 ribu per kilogram, tapi kadang Rp 55 ribu dan ada juga Rp 50 ribu dikasih juga daripada enggak laku," ungkapnya.

Meski tidak ada kasus kematian babi yang membahayakan kesehatan manusia, keraguan masyarakat untuk membeli daging babi masih terjadi.

Hal itu membuat menurutnya dan menjadi penyebab menurunnya pembelian daging babi.

Kata Lidia, masih sedikit peningkatan penjualan sejak kasus kematian babi meski berbagai informasi yang menyatakan daging babi aman dikonsumsi dan penyakit tidak menular ke tubuh manusia.

"Konsumen masih takut, ada juga yang beli tapi masih sepi, mereka yang konsumsi enggak terjadi apa apa sama mereka. Kita jual babi PT bukan babi sembarangan, babi yang kita jual ini sudah teruji kesehatannya," ucapnya.

Lidia menjual dagangannya mulai pukul 05.00 pagi dan kini jualan daging babinya habis terjual, rata rata pada siang hari pukul 14.00 WIB. Diakuinya, saat ini stok daging babi mulai sedikit.

"Dulu itu biasanya jam 12 sudah habis terjual daging babi ini," katanya.

Ia berharap bagi pemilik babi yang punya babi yang sakit agar segera mengobati babinya dan pemerintah turut membantu mengatasi masalah tersebut.

Terungkap Masalah Cekcok dengan Calon Istri Sebelum UG Tewas Gantung Diri Jelang Hari Pernikahan

"Saya berharap semakin ramai pembeli, enggak ada orang sakit gara gara makan daging babi. Konsumen harus lebih bijak, jangan mau termakan isu," ucapnya.

Pedagang Mengaku Penjualan Daging Babi Belum Normal

Dalam kesempatan yang sama, konsumen daging babi, Lisna mengatakan ia merasa aman mengkonsumsi daging babi, meskipun begitu ia sempat berhenti konsumsi daging babi selama seminggu.

"Setelah itu hajar terus, enggak ada takut," ucap Lisna.

Diakuinya, saat ini setiap harinya,  Lusia mengkonsumsi daging babi, sebab ia juga jualan masakan daging babi untuk rumah makannya.

"Memang agak menurun sebentar pembeli, tapi sekarang sudah mulai normal, rata rata 50 porsi terjual tiap hari," katanya.

(nat/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved