Smart Woman

Cherlydea Gladys: Anak Muda, Produktivitas Tanpa Batas

Setiap orang diberikan waktu 24 jam dalam sehari. Namun, setiap orang punya cara sendiri untuk menghabiskan waktu yang dimilikinya.

Dokumentasi Pribadi
Cherlydea Gladys 

TRIBUN-MEDAN.com-Setiap orang diberikan waktu 24 jam dalam sehari. Namun, setiap orang punya cara sendiri untuk menghabiskan waktu yang dimilikinya.

Pilihannya adalah menggunakan waktu untuk hal yang bermanfaat atau hanya menunggu matahari lewat begitu saja.

Memilih untuk produktif, Cherlydea Gladys menjalankan lima pekerjaan sekaligus sambil meneruskan pendidikannya di jenjang magister. Dara kelahiran Kota Medan ini berprinsip anak muda harus bisa memanfaatkan waktunya dengan baik dengan mengerjakan hal-hal berguna untuk mencapai impian mereka.

"Motto aku: time is money. Waktu itu sangat berharga. Satu hari kita malas, scroll instagram sebentar saja, waktu kita selama dua jam sudah habis. Padahal dalam dua jam sudah banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan," kata Gladys.

Baginya sebagai anak muda itu tidak boleh menunda waktu. Menunda waktu berarti juga menunda kesempatan.

"Kita enggak bisa berfikir 'Ah nanti ajalah kerjanya, masih muda'. Bukan berarti kita nyari duit gak bisa have fun. Tapi bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu untuk mengejar impian sambil have fun," katanya.

Perempuan 23 tahun ini memulai karirnya menjadi penyiar radio pada 2017 hingga saat ini. Dari sana, ia menekuni pekerjaan lainnya sebagai presenter tv, pengisi suara (dubber), master of ceremony (mc), dan kini aktif menjadi influencer di sosial media.

"Dari dulu, aku sudah hobi dan ingin jadi presenter karena emang senang ngobrol. Tapi dari kecil merasa ini hanya akan jadi cita-cita yang tidak tersampaikan. Aku kan datang dari keluarga yang latar belakangnya enggak ada yang berhubungan dengan dunia entertainment. Jadi rasa-rasanya mimpinya terlalu jauh," katanya.

Tapi bagi Gladys, mimpinya harus dikejar. Pada 2017 untuk pertama kali ia mencoba peruntungan di radio saat masih kuliah di Universitas Pelita Harapan Medan dengan jurusan Business Management, dengan konsentrasinya entrepreneur.

"Akhirnya masuk radio dan enggak bisa langsung jadi penyiar, aku mulai dari baca news and traffic sambil training selama tiga bulan. Setelah tiga bulan, baru aku jadi penyiar. Memang ada yang pernah bilang kalau kamu mau berkecimpung di presenter, ada baiknya di dunia radio dulu," kata Gladys.

Dari radio, kata Gladys ia benar-benar belajar banyak hal, dari cara bicara dan membangun suasana. Apalagi dengan menjadi penyiar radio, ia dilatih untuk bicara tanpa ada lawan bicara.

"Setelah jadi penyiar radio, aku coba menjadi mc. Karena aku juga aktif di vihara, aku sering mc di acara keagamaan. Tapi dari sana belum ada yang ngajak keluar kan masih anak baru," katanya.

Memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman sebagai penyiar radio, Gladys mencoba melamar menjadi pembaca berita di salah satu tv swasta lokal. Setelah berbagai proses seleksi, ia diterima dan hingga kini menekuni pekerjaan tersebut.

"Sampai sekarang aku masih ada rasa khawatir untuk keluar dari zona nyaman. Tapi aku merasa sebagai anak muda aku harus coba. Menang atau kalah itu untuk pembelajaran hidup aku," katanya.

Dari situ, ia mulai dipercaya untuk menjadi mc atau pembawa acara. Kesempatan perlahan datang, kini ia juga sebagai pengisi suara untuk channel Indozone di Youtube.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved