Lestarikan Kesenian Karo, Seniman Winarto Buat Topeng Gundala-Gundala dari Kardus

Melalui Workshop Topeng Tradisional Gundala-Gundala Karo, Seniman Winarto memperkenalkan Gundala-Gundala sebagai warisan dari suku Karo.

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN-MEDAN.com/Kartika Sari
Winarto mendemonstrasikan pembuatan topeng Gundala-Gundala Karo dari kardus di Workshop Topeng Tradisional Gundala-Gundala di Yayasan Seni Rupa Simpassri, Medan, Minggu (3/1/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sumatera Utara memiliki beragam warisan budaya mulai dari tarian, musik, ataupun lukisan. Kebudayaan tidak boleh hilang begitu saja dan bisa dikreasikan.

Melalui Workshop Topeng Tradisional Gundala-Gundala Karo, Seniman Winarto memperkenalkan Gundala-Gundala sebagai warisan dari suku Karo.

Workshop ini diselenggarakan di Yayasan Seni Rupa Simpassri Jalan Teratai No 1, Medan, Minggu (1/3/2020).

Winarto memaparkan bahwa Gundala-Gundala merupakan topeng tradisional khas karo ini merupakan topeng yang dibawakan dalam upacara pemanggil hujan.

"Topeng ini sebagai media, biasanya berhubungan dengan ritual memanggil hujan dan tetua kampung yang akan menarikan. Kemudian ada menyiram garam sambil meneriakkan Der Koari (Deraslah kau hujan)," ujar Winarto

Winarto menuturkan bahwa banyak cara dalam melestarikan dan membuat anak muda untuk tertarik melestarikan budaya.

Dalam workshop tersebut, Winarto mendemonstrasikan cara pembuatan topeng Gundala menggunakan kardus.

"Saya berpikir bahan topeng apa yang gampang di dapat dan murah ya menggunakan kardus. Sebenarnya kita ambil kardus, panjangnya sudah pas hanya dirapikan untuk membuat lingkaran. Kita tentukan dari mata dan hidung," ujarnya.

Budayawan, As Atmadi juga turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak generasi milenial yang tidak tahu mengenai kesenian khas Karo ini.

"Bagus ya karena Gundala ini adalah kesenian tradisional asli Indonesia yang sekarang ini generasi milenial banyak yang tidak tahu. Workshop dan penjelasan narasumber diterima mahasiswa sangat baik yang konteksnya itu memelihara kesenian Indonesia," ujar Atmadi.

Ia juga berharap ke depannya anak muda khususnya di Medan tidak hanya mengenal patung Sigale-Gale namun juga turut melestarikan topeng Gundala-Gundala sebagai kesenian Sumut.

"Ke depannya tidak hanya mengenal Gale-Gale rupanya ada topeng karo yaitu Gundala-Gundala. Diharapkan ke depannya kesenian tradisional delapan etnis ini juga dikembangkan dan dibuat workshop seperti ini," harap Atmadi.

Peserta yang hadir juga mayoritas merupakan mahasiswa seni, di antaranya ada Joel Manalu. Joel mengungkapkan bahw workshop ini sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat dalam memperkenalkan kesenian Karo.

"Acara ini bagus karena hadirnya workshop ini membuat warga Sumut untuk lebih sadar kelestarian budayanya. Semoga dilaksanakan workshop ini banyak seniman Sumatera Utara bermunculan kembali yang karyanya dapat dipamerkan di kancah nasional," pungkas Joel.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved