75 Tahun Hanya Bermodal Lampu Teplok, Dusun Lau Buron dan Dusun Pengambetan Bakal Dialiri Listrik
Warga Dusun Lau Buron dan Dusun Pengambetan, Desa Kutambaru, Kecamatan Kutambaru, Kabupaten Langkat akan merasakan hidup dengan listrik
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRI BUN-MEDAN.com, STABAT - Warga Dusun Lau Buron dan Dusun Pengambetan, Desa Kutambaru, Kecamatan Kutambaru, Kabupaten Langkat akan merasakan hidup dengan listrik untuk pertama kalinya setelah 75 tahun Indonesia merdeka.
Anggota DPRD Langkat Komisi A, Zulhijar berjanji akan terus memperjuangkan hak warga desa tersebut.
Pihaknya sudah pernah memanggil sejumlah pihak terkait dalam Rapat Dengar Pendapat untuk menganalisa kendala dan proyeksi solusi pengaliran arus listrik.
Dikatakannya, pihak eksekutif yakni Pemkab Langkat bersama perusahaan terkait telah menggelar rapat setelah kinerjanya menjadi perhatian Komisi A DPRD Langkat.
Dan hasilnya, pihak PT LNK dan PTPN bersedia bekerja sama terkait lahan mereka yang akan dipasangi perangkat arus listrik, dan PT PLN meminta waktu untuk pemasangannya.
"Kemaren setelah kita (Komisi A) blow up ekspos, mereka eksekutif ada gelar rapat dan kita soroti. Jadinya Pemkab 'kebakaran jenggot' dan ikut campurlah. Hasil rapat ada LNK, PTP dan PLN mereka minta waktu seminggu. Jadi sekarang bola panasnya ada di PLN, PTPN mendesak PLN yang tanggungjawabi, tanggal 19 berarti dikerjakan. Kita lihatlah seminggu ke depan ini," kata Zulhijar, Minggu (15/3/2020).
Artinya, rencana jadwal lanjutan RDP pada Selasa (17/3/2020) mendatang untuk kepastian eksekusi pengaliran listrik dipastikan batal berlangsung.
Kendati demikian, Komisi A akan terus mengawal dan memperjuangkan hak listrik bagi warga dua dusun di Kutambaru ini.
• Penjernih Udara Semakin Dilirik, Masyarakat Cari yang Canggih dan Hemat Listrik
"Harusnya kan Selasa RDP. Tapi kita kasih waktulah. Kalau tidak pasti juga, kami akan turun langsung ke lokasi. Karena ini intinya demi masyarakat. Kasihan selama ini mereka hanya memanfaatkan lampu teplok. Kalau kita ekspos terus jadi perhatian nasional ini, tapi syukurnya respon mereka bagus, kita tunggulah," jelasnya.
Warga Desa Kutambaru, AS mengakui selama 75 tahun kemerdekaan warga dua dusun tersebut bertahan hidup dalam kegelapan hanya bermodal lampu teplok (lampu tempel yang bersumbu yang menggunakan bahan bakar minyak).
Tidak sekali pun warga dua dusun ini merasakan aliran listrik PLN.
"Selama ini tiap malam ya cuma pakai lampu teplok, disitu payahnya anak-anak mau belajar. Urusan rumah tangga penerangan juga paling utama butuh listrik, selama ini ya nyetok minyak buat lampu teplok. Sekali pun belum pernah masuk listrik, kami nggak ada yg ang pakai mesin genset, harganya kan mahal, kami ini bertani rata-rata," kata AS.
Menyikapi ini Wakil Bupati Langkat, Syah Affandin mengatakan telah merespon cepat kondisi warganya.
Katanya, permasalahan PT LNK yang sebelumnya bersikeras tak mau memberikan lahan untuk pengaliran listrik sudah selesai, dan PLN meminta tenggat waktu seminggu.
"Itu sudah ada penyelesaian, dan dibahas dalam rapat tinggal pelaksanaan. Tetap ada ganti rugi sifatnya tanah yang terpakai, pohon tidak, kita juga minta PLN gunakan kabel yang terbungkus," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/listrik-langkat.jpg)