Ekspor Produk Berbahan Keripik Singkong ke Korsel Batal

UMKM sudah berproduksi bahkan sudah menitip jual produknya ke beberapa tempat seperti pusat oleh-oleh

Tayang:
Istimewa
Ketua Asosiasi UMKM Sumut Ujiana Sianturi. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Penyebaran virus Corona telah memukul pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Mereka mengalami kerugian hingga 70 persen. Demikian disampaikan
Ketua Asosiasi UMKM Sumut, Ujiana Sianturi, Senin (30/3/2020).

Menurutnya, kerugian ini disebabkan karena sebelum adanya corona, UMKM sudah berproduksi bahkan sudah menitip jual produknya ke beberapa tempat seperti pusat oleh-oleh, supermarket, atau pusat perbelanjaan.

Namun dengan adanya Corona ini produk-produk yang hanya bertahan tiga minggu sampai satu bulan dikembalikan lagi kepada pelaku usaha.

KELONGGARAN BAYAR CICILAN KREDIT UMKM karena Dampak Covid-19, Nih Penjelasan Lengkap OJK

Bukan hanya itu, bahkan produk yang masa kedaluwarsa berlaku satu tahun juga dikembalikan dengan alasan tidak terjual akibat dari adanya penutupan tempat belanja maupun tempat oleh-oleh.

"Nah, setelah dikembalikan mau dijual kemana lagi? Enggak ada lagi. Akhirnya dibiarkan begitu saja," ungkapnya.

Ia mengatakan, ada juga pelaku UMKM yang sudah berproduksi untuk kebutuhan ekspor malah pengirimannya dibatalkan beberapa negara lockdown untuk pengiriman barang.

"Misalnya produk kripik singkong, produk yang sudah disiapkan tidak bisa dikirim sejak adanya Corona. Bahkan kita sangat susah untuk mendapatkan container," jelas Ana.

Ana menuturkan, harusnya pada 23 Maret lalu pihaknya akan mengadakan pelepasan ekspor perdana untuk produk berbasis singkong tapi batal dilaksanakan.

"Jadi produknya mau tidak mau kita jual murah yang biasanya Rp 8.000 menjadi Rp 3.000 dari pada pegawai tidak makan. Padahal produk UMKM kita ini sangat diminati di Korea Selatan dengan produk berbasis singkong dan kopi," imbuhnya.

Menurutnya, saat ini pelaku UMKM juga menghadapi kesulitan bahan baku karena selain bahan bakunya mahal juga susah untuk didapatkan.

"Biasanya singkong sampai ke gudang dengan harga Rp 1.300 per kilogramnya namun sekarang sampai Rp 1.700. Itu pun bahannya langka karena petani juga tidak ada menanam dan memanen dengan alasan takut tidak ada yang beli," katanya.

Hal senada disampaikan pemilik Toph 19th Fatimah, yang mengalami penurunan omzet signifikan.
"Corona ini dampaknya sangat terasa untuk kita. Kita punya tiga store yang sekarang semua sudah ditutup untuk sementara. Jadi penurunan omzetnya besar banget," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini seluruh penjualan dialihkan menjadi secara online melalui Instagram. Ia mengatakan, selama ini pembelian dari ojek online hanya dilayani di toko, sehingga saat toko tutup pihaknya tak bisa berjualan melalui aplikasi.

"Kita sudah tutup store seminggu terakhir. Kita juga di rumah saja. Belum ada keputusan akan buka kapan lagi, kita tunggu arahan saja, kalau sudah aman baru kita buka lagi. Toh juga banyak jalan yang ditutup," jelasnya.

Ia mengatakan, untuk saat ini pegawai juga ikut dirumahkan sementara. Jika sudah buka baru pegawai akan dipanggil kembali.

Hal yang sama juga dirasakan pengusaha katering, Putri. Ia mengatakan, biasanya jelang bulan Ramadan sudah banyak pesanan katering untuk berbagai acara.

"Tapi ini malah enggak ada sampai sekarang. Bahkan sepanjang Maret saja sudah ada delapan event yang dibatalkan termasuk juga kateringnya," ucap Putri.

Namun, usaha makanan beku atau frozen food miliknya hingga saat ini masih stabil. Ada pun produk frozen food yang ia jual diantaranya kebab, dimsum, pempek, roti cokelat, dan sebagainya.
"Kalau frozen food justru sampai saat ini masih sangat tinggi permintaan. Rata-rata satu hari kita bisa jual hingga 200 box. Mungkin karena orang mau nyetok juga kan," jelasnya

Ia mengatakan, Corona tetap membawa efek apalagi dengan naiknya harga beberapa bahan baku. Misalnya bawang bombai yang sempat mencapai Rp 200 ribu per kilogram.

"Kalau harga bahan bakunya lagi tinggi ya kami siasati seperti penggunaan bawang bombai nya kami sesuaikan. Karena kan kalau bahan baku naik enggak mungkin harganya juga kami naikkan, takut pembeli protes," pungkasnya.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved