Banyak Penyalahgunaan Disinfektan, Zero Waste Nusantara Gelar Kuliah Online

Selama masa pandemi Covid-19 berlangsung sangat banyak didapati penggunaan cairan disinfektan yang kurang tepat.

TRIBUN MEDAN/HO
PENYEMPROTAN disinfektan secara massal untuk meminimalisir tingkat penyebaran virus Corona (Covid-19) di beberapa ruas jalan di kota Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Komunitas yang aktif bergerak di bidang lingkungan, Zero Waste Nusantara melalui grup whatsapp TaMpah (Pantang Nyampah) membuat kuliah WhatsApp (kulwap) dengan tema Serba-Serbi Disinfektan , Jumat (27/3/2020) lalu.

Dalam paparannya, Katherine yang merupakan dosen bioteknologi mengatakan, selama masa pandemi ini berlangsung sangat banyak didapati penggunaan cairan disinfektan yang kurang tepat.

"Kita bisa lihat di berbagai media ada banyak sekali kabar mengenai penggunaan disinfektan yang tidak benar dan justru berbahaya. Selain itu juga ada banyak sekali misinformasi tentang penggunaan disinfektan," terang Katherine.

Penggunaan disinfektan secara umum, terang Katherine, lebih efektif pada permukaan yang sudah bersih. Hal ini dikarenakan semakin kotor sebuah permukaan maka semakin banyak disinfektan yang diperlukan.

"Makanya kalau tangan kita kotor atau berminyak, lebih dianjurkan untuk mencucinya dengan air yang mengalir dibandingkan dengan menggunakan hand sanitizer," jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa cairan disinfektan dengan konsentrasi yang tinggi dapat berbahaya bagi manusia yang terpapar cairan ini. Disinfektan, terang Katherine, juga tidak boleh diminum ataupun dihirup uapnya.

"Dalam konsentrasi tinggi akan beracun bagi manusia, sehingga sebisa mungkin tidak terpapar. Juga tidak boleh diminum dan uap tidak boleh dihirup," katanya.

Menurutnya, penggunaan disinfektan sepatutnya digunakan di area yang sering disentuh oleh tangan manusia, penggunaan disinfektan di jalanan justru tidak efektif karena merupakan kawasan terbuka.

Penggunaan cairan pemutih pakaian untuk disemprotkan ke tubuh, menurut Katherine juga berbahaya karena bisa membuat iritasi.

"Konsekuensi yang paling ringan adalah menyebabkan iritasi. Konsentrasi rendah mungkin tidak berbahaya. Cuma bisa dibayangkan kalau frekuensi pemakaian terlalu sering jadi apa. Bahkan untuk penggunaan Bayclin saat mencuci baju saja disarankan untuk pakai sarung tangan. Kalau Bayclin bisa membunuh bakteri dan virus, itu benar. Tapi pada umumnya semua disinfektan punya efek samping untuk kesehatan," terangnya.

Katherine juga menyarankan untuk lebih mengutamakan mencuci tangan dibandingkan menggunakan antiseptik atau sanitizer. Hal ini dikarenakan mencuci tangan dapat menghilangkan virus dan microba lainnya.
Pembuatan hand sanitizer oleh orang awam juga tidak disarankan.

"Pembuatan sendiri hand sanitizer sendiri tidak disarankan karena pembuatan dalam konsentrasi tinggi dibutuhkan penanganan khusus dan dibutuhkan pengukuran yang tepat. Dalam pembuatan hand sanitizer juga dibutuhkan kondisi dan tempat yang steril," pungkasnya. 

Komunitas Zero Waste Nusantara (ZWN) menggagas berbagai kegiatan berwawasan lingkungan sejak 2016.
Founder Zero Waste Nusantara Jeanny Primasari mengatakan, komunitas ini didirikannya karena melihat kesadaran masyarakat terhadap sampah yang diproduksinya masih rendah.

"Masih banyak sekali yang memproduksi sampah tanpa peduli akan dikemanakan sampah tersebut," katanya.
Jeanny mengatakan, sejak 2018, komunitas Zero Waste Nusantara memiliki grup whatsapp dengan nama TaMpah. Nama TaMpah, terangnya merupakan singkatan dari Pantang Nyampah. Meskipun begitu bahasannya tak hanya berkutat mengenai sampah.

"Seperti namanya, Pantang Nyampah, fokus dari grup ini adalah seputar isu sampah dan lingkungan. Bagaimana kita bisa meminimalkan produksi sampah dalam keseharian kita, serta isu-isu lingkungan lain yang sebenarnya jauh lebih luas dari sekadar masalah sampah," katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved