Bomb Ink Clan, Hajatan Seniman Visual Jalanan dan Wadah Berkarya Bersama Seni Grafiti di Medan
Menggambar di tempat yang bisa dilihat orang banyak menjadi alasan tersendiri agar hasil dari karya seni mereka bisa lebih diterima.
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Geliat seni rupa di Medan terus bergulir seolah tak ingin mati ditelan zaman.
Hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya acara-acara kolektif yang dibuat para perupa untuk terus menghidupkan skena seni rupa di Kota metropolitan ini.
Satu di antara acara kolektif tersebut bertajuk Bomb Ink Clan.
Seorang pegiat seni rupa khususnya grafiti, Bast mengatakan bahwa acara ini merupakan kegiatan untuk mengumpulkan kembali para pegiat seni rupa di Kota Medan untuk berkarya bersama.
"Sebenarnya tujuannya pengin jadi wadah ngumpul para pelaku seni, khususnya di bidang seni rupa. Nanti kita juga bakal jamming gambar sama-sama. Tapi karena acaranya kolektif tentu enggak mewah-mewah gitu, yang paling penting silaturahminya," ujar Bast saat diwawancarai Tri bun Medan, Minggu (5/4/2020).
Dalam acara kolektif ini, ujar Bast, juga didukung oleh para perupa Medan dari berbagai skena.
Beberapa di antaranya yakni Street Art Medan, Lowrider, dan skena Silap 13 Gang.
Dikatakannya, acara ini sebagai hajatan memperingati satu tahun Bomb Ink Clan.
"Selain nama event nanti, Bomb Ink Clan ini sebenarnya tim gambar, semacam kru gitu. Brawal dari coret-coret di tembok, terus jumpa kawan jadi bikin wadah untuk bisa kumpul. Harapannya sih dengan bareng-bareng stigma negatif yang bilang kalau gambar kita itu bikin polusi mata bisa berubah," kata dia.
Untuk lokasi jamming gambar nanti, Bast mengatakan bahwa mereka akan mengambil lokasi di sebuah gang di Jalan Gatot Subroto Medan.
Ia mengaku respon warga di sana cukup baik dan mendukung acara mereka.
"Kebetulan lokasi untuk jamming gambar nanti juga pernah jadi tempat kami gambar-gambar untuk latihan dulu, jadi warga sudah welcome," ujarnya.
• Seniman Kota Medan Tunjukkan Kepedulian Lewat Konser Amal We Care We Share
Bast mengatakan bahwa menggambar di tempat yang bisa dilihat orang banyak menjadi alasan tersendiri agar hasil dari karya seni mereka bisa lebih diterima dan dekat dengan masyarakat. Terlebih, ujar Bast, grafiti merupakan seni untuk dinikmati dari kejauhan.
"Motivasinya sebenarnya biar gambar kita bisa di terima masyarakat. Sebagian orang ada yang enggak suka sama grafiti, tapi sebagian orang ada yang suka, bahkan mau kasih wadah. Sekalian kasih pesan juga kalau berkarya itu enggak harus di tempat-tempat bagus, tapi di manapun kalau ada kemauan pasti bisa. Soalnya juga grafiti itu seni yang dilihat dari kejauhan," katanya.
Acara yang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari ini, terpaksa ditunda terlebih dahulu karena masa pandemi corona. Bast mengatakan mereka belum bisa memastikan kapan waktunya, tapi akan dilaksanakan saat keadaan membaik.
"Untuk tanggalnya kami belum bisa tentukan, tapi yang jelas akan dilaksanakan saat situasi pandemi Corona ini telah usai," pungkasnya.(cr14/tri bun-medan. com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/seni-grafitti.jpg)