Puasa Diklaim Sebagai Penangkal Virus Corona? Berikut Penjelasan Para Ahli
Menurut ahli, dengan menjalani puasa, justru dapat membunuh virus dan bakteri, termasuk virus corona. Berikut penjelasannya.
Menjalani puasa di tengah pandemi virus corona, tentu tidak mudah.
Tapi menurut ahli, dengan menjalani puasa, justru dapat membunuh virus dan bakteri, termasuk virus corona.
TRI BUN-MEDAN.com - Hingga kini kita belum tahu kapan pandemi corona ini akan berakhir.
Seiring degan berjalannya waktu makin banyak pertanyaan muncul.
Salah satunya adalah apakah corona masih akan mewabah saat bulan puasa nanti?
• Setelah Sembuh dari Corona, Anggota DPRD Sumut Aulia Agsa Diminta Isolasi Mandiri 14 Hari di Rumah
Salah satu manfaat puasa bagi kesehatan adalah mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon, yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 18 jam.
Dengan berpuasa, sebagaimana dikutip dari National Health Service, saluran pencernaan dapat istirahat selama 14 jam.
Saat sistem pencernaan beristirahat itulah, energi tubuh menjadi lebih terarah untuk proses perbaikan sel-sel dan sistem jaringan yang rusak.
Salah satunya adalah mengeluarkan toksin atau racun tubuh, sehingga mencegah toksemia (keracunan dalam darah).
Toksemia adalah kondisi yang terjadi ketika toksin atau racun menumpuk di dalam tubuh, termasuk bakteri dan virus.
Lantas, bagaimana cara puasa mengeluarkan racun tubuh?
• 5 Cara Alami Hilangkan Kantung Mata dengan Cepat, Mudah dan Murah
Gambarannya, sel-sel tubuh kita memperoleh makanan dari darah, sedangkan darah memperolehnya dari usus. Usus menyerap makanan dari setiap zat yang kita konsumsi.
Jika ada racun dalam saluran usus, racun akan terserap dan ikut beredar bersama darah ke setiap sel-sel tubuh. Proses detoksifikasi tersebut terjadi pada usus besar, hati, ginjal, paru, kelenjar getah bening, serta kulit.
Racun bisa berasal dari dalam (endogenus) atau dari luar (eksogenus). Racun endogenus adalah racun yang berasal dari sisa metabolisme, radikal bebas, produksi hormon berlebihan akibat stres, gangguan fungsi hormon, dan bakteri penyakit yang sudah ada di dalam tubuh.
Sementara racun eksogenus adalah polutan, obat-obatan, hormon pada ternak, produk susu, makanan yang diproses, lemak trans, dan mikroba.