Hidup Berkesadaran dan Minimalis, Intan Arusman Bagikan Tips Memilah Sampah Anorganik dari Rumah
Intan membagikan kegiatan memilah sampah yang bisa dimulai untuk mengisi waktu selama di rumah.
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Memulai belajar untuk hidup berkesadaran (mindfulness) dan minimalis sejak dari kecil, wanita yang akrab disapa Intan ini tengah menjalani hobi barunya yakni membuat vlog dan membagikan aktivitas gaya hidup yang ramah lingkungan di channel youtubenya.
Pada vlog yang ia beri judul Intan's Journal, Intan membagikan kegiatan memilah sampah yang bisa dimulai untuk mengisi waktu selama di rumah.
Tak hanya mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke TPA, memilah sampah sedari dini yakni dimulai dari rumah juga dapat menumbuhkan kesadaran tersendiri untuk lebih menjaga lingkungan.
"Hidup berkesadaran dan minimalis itu sebenarnya sederhana, intinya mensyukuri yang ada saat ini, yang kita miliki, kita juga sedikit belajar gimana merasa cukup, tidak konsumsi berlebih, dan tanggung jawab akan apa yang sudah kita konsumsi. Sesimpel itu sih," ujar Intan saat berbincang dengan Tribun Medan, Selasa (14/4/2020).
Mengisi masa-masa karantina karena pandemi yang membuat dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di kos, Intan membagikan kegiatan memilah sampah anorganiknya.
Ia berharap banyak juga yang tergerak untuk memulai memilah dan memanfaatkan sampah anorganiknya di rumah, momen karantina ini baginya menjadi saat yang tepat untuk memulai.
"Saya biasanya memilah sampah anorganik itu dengan memisahkan berdasarkan bahannya. Misalnya sampah botol-botol kemasan yang dari plastik atau kaca, sampah plastik kemasan. Saya masukkan ke dalam kotak eskrim bekas yang berukuran agak besar," katanya.
Untuk sampah plastik kemasan, Intan juga mengolahnya menjadi ecobrick.
Ecobrick merupakan satu cara mengolah sampah plastik kemasan agar bisa digunakan kembali sebagai pengganti batu bata pada bangunan, atau untuk membuat tempat, wadah, atau keranjang sampah.
"Cara buat ecobrick sederhana, tinggal plastik kemasan bekas digunting kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam botol plastik bekas, diisi hingga padat. Jika sudah banyak bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, bisa jadi keranjang atau raknsepatu. Seperti yang kita tahu di beberapa daerah sudah ada bangunan yang terbuat dari ecobrick," jelas Intan.
• Komunitas Pecinta Lingkungan Galang Dana untuk Pemulung dan Petugas Persampahan
Intan juga pernah berbagi cara membuat beeswax foodwrap sebagai pengganti plastik pembungkus dan juga upscycle reusable wipes sebagai pengganti tisu dan kapas. Kesemuanya dibuat sendiri (Do It Yourself/DIY).
Ia mengatakan dirinya juga sebisa mungkin tidak menghasilkan banyak sampah plastik. Sehingga membuat ecobrick tidak jadi alasan untuk tetap menghasilkan sampah plastik dalam jumlah yang banyak.
Intan mengaku ketertarikan dirinya terhadap lingkungan ditularkan oleh orang-orang terdekatnya yakni keluarga. Sejak kecil dirinya sudah dibiasakan untuk memilah sampah dan menjaga lingkungan.
"Kebetulan memang ayah dan kakak saya kuliah di jurusan kehutanan, jadi sedikit banyak terbawa di kehidupan sehari-hari. Saya juga ikut komunitas Earth Hour," katanya.
Bagi Intan, memilah sampah dari rumah juga menjadi hal sederhana yang bisa dilakukan selama masa pandemi corona. Membiasakan hal-hal baru yang bermanfaat bisa menjadi kebiasaan-kebiasaan baik yang akan dibawa seterusnya bahkan usai virus corona usai.
"Sejauh ini hidup minimalis dan berkesadaran itu memang karena suka dan tertarik sih, tapi jauh lebih dari itu sebenarnya memang merasa lebih baik dari yang kemarin. Seperti lebih in control sama diri sendiri, memikirkan resiko dari kebiasaan-kebiasaan buruk, serta lebih bersyukur akan banyak hal," pungkasnya.(cr14/tri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/intan-arusman-pegiat.jpg)