Kiper PSMS Ady Satryo jadi Penjaga Gawang karena Dihukum Pelatih
Sewaktu masih berlatih di sekolah sepak bola (SSB) dulu, dirinya pernah hadir terlambat dalam sebuah latihan.
TRIBUN-MEDAN.com - Tak ada yang menyangka, kiper muda PSMS Medan Muhammad Adi Satryo sebelum menjadi seorang penjaga gawang adalah pemain yang berposisi sebagai penyerang (striker).
Adi menuturkan, hal itu terjadi lantaran sewaktu masih berlatih di sekolah sepak bola (SSB) dulu, dirinya pernah hadir terlambat dalam sebuah latihan.
Akibatnya oleh sang pelatih, Adi yang berposisi sebagai striker justru mendapat hukuman untuk menjadi kiper. Namun rupanya, berkat hukuman itu, disitulah anak muda kelahiran 7 Juli 2001 ini mulai menemukan ruh sebagai pesepakbola. Meski akhirnya bukan berposisi sebagai seorang striker yang semula diminatinya sama seperti kebanyakan orang pada umumnya.
"Jadi waktu itu aku posisi striker. Tapi pas latihan datang terlambat. Dihukumlah, disuruh jadi kiper. Tapi setelah itu ternyata pelatih bilang sama orangtua, saya lebih cocok jadi kiper saja. Kata pelatih, mentalku lebih kuat jadi kiper. Setelah itu ya mulai jadi kiper di SSB ASA Milo di Bintaro," tuturnya, Senin (13/4/2020).
Adi menceritakan, sejak kecil ia mencoba banyak jenis olahraga. Selain sepak bola, ia berlatih taekwondo, bola basket, atletik, badminton hingga renang.
"Aku dulu sempat coba macam-macam hobi. Kelas 1 SD itu pertama kali coba sepak bola tapi belum dapat feel-nya. Waktu itu pun masih jadi striker. Nah akhirnya coba cari hobi lain taekwondo, ikut basket juga pernah, macam-macamlah. Aku serius latihannya, cuma ya tidak sampai 2-3 bulan sudah ganti. Enggak cocok gitu," katanya.
Memasuki kelas 3 sekolah dasar, ia mulai fokus pada bola basket dan sepak bola.
"Akhirnya, di kelas 5, aku 100 persen di sepak bola hingga akhirnya menjadi kiper," terang pemain berusia 18 tahun ini.
Setelah menekuni posisi sebagai kiper di SSB tempatnya berlatih, mulailah Adi mengikuti event bersama timnya dan salah satunya di Kota Bandung. Rupanya kepiawaiannya dalam membendung si kulit bundar dilirik oleh salah satu tim asal Kota Kembang itu yakni SASWCO Bandung.
"Pertama kalinya jadi kiper itu. Ternyata dilirik sama tim SASWCO Bandung. Kebetulan di tim itu kipernya waktu itu lebih pendek. Jadi aku diminta buat ke sana. Soalnya aku dilihat menonjol dulu sebagai kiper," katanya.
Setuju untuk bergabung dengan tim SASWCO Bandung, membuat Adi harus merantau dan meninggalkan kedua orangtuanya di kampung halaman Pamulang, Tanggerang Selatan. Namun, bagi Adi inilah batu loncatan untuk mewujudkan mimpi sebagai atlet profesional.
"Pertama-tama takut sih merantau, tapi akhirnya bisa beradaptasi. Sekitar umur 10 tahun lah ke Bandung. Orangtua saya juga mendukung. Ada sekitar enam tahunan di Bandung. Mulai tinggal di Bandung di rumah orangtua salah satu murid sekolah dulu. Lalu pertama kali bela SASWCO berhasil bawa juara kompetisi di di Cijantung. Di final menang 1-0 dan aku berhasil tepis penalti. Setelah itu sempat masuk Persib U-16 juga," tuturnya.
Setelah berkelana di Bandung, Pemain bertinggi badan 180 centimeter ini kemudian pindah ke Jakarta. Adi yang saat itu duduk di kelas XI SMA berhasil masuk ke Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) DKI Jakarta.
Setelah menyelesaikan pendidikan di PPLP, Adi sempat memperkuat salah satu klub Liga 3 di Cirebon, hingga akhirnya dirinya direkrut PSMS Medan untuk berlaga di Liga 2.Tahun lalu, ia pun dipanggil untuk memperkuat Tim Nasional (Timnas) U-18 saat Kejuaraan Remaja U-22 AFF 2019.
"Mulai yang betul-betul karir pro ya di PSMS sekarang ini. Targetku berikan yang terbaik buat PSMS Medan," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/25022020_adi_satryo_danil_siregar-1.jpg)