H-7 Ramadan Pemakaman di Medan Timur Masih Sepi Pelayat, Imbas Pandemi Corona

Masuk Kawasan Zona Merah, Dua Taman Wakaf Perkuburan di Medan Timur Sepi Pelayat

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN-MEDAN.com/Kartika Sari
Suasana pemakaman di Kecamatan Medan Timur yang sepi pelayat pada H-7 Ramadan, Jumat (17/4/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ziarah makam merupakan tradisi di Indonesia menjelang Ramadan tiba. Dalam tradisi ini, para pelayat mendatangi kuburan untuk mendoakan sanak keluarga yang telah meninggal.

Namun, jelang Ramadan tahun ini, pemandangan berbeda tampak di Taman Wakaf Perkuburan Islam Al Ikhlas, Jalan Muchtar Basri, Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

Pemakaman ini tampak terlihat sepi yang hanya dihadiri dua hingga tiga pelayat yang datang terpisah.

Pengurus Taman Wakaf Perkuburan Islam Al Ikhlas, Rizky mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi tahun tersepi dari tahun-tahun sebelumnya.

Biasanya pada H-7 Ramadan, Taman Wakaf Perkuburan Islam Al Ikhlas sudah ramai pelayat.

"Biasanya rame, nah sekarang kakak lihatlah kondisinya sekarang ini sepi. Biasanya H-7 ini pelayat yang datang di seluruh GD (Glugur Darat) ini full. Dari pagi juga sedikit satu dua orang. Mungkin juga faktor hujan, tapipun sampai reda ya gini-gini juga," ungkap Rizky, Jumat (17/4/2020).

Rizky juga menuturkan bahwa faktor sepi pelayat juga pengaruh dari masuknya zona merah di Kecamatan Medan Timur.

"Kalau sepinya ini mungkin karena di kecamatan ini juga udah masuk kawasan zona merah. Warga juga takut keluar karena wabah Corona ini kan. Penjual bunga juga ikutan sepi. Cuma ya yauda nikmati saja, mau bagaimana lagi," tuturnya.

Kondisi yang sama juga diungkapkan oleh Sulaiman, Pengurus perkuburan muslim kelurahan Pulo Brayan II, kecamatan Medan Timur.

Suasana area seluas 1 hektare ini biasanya jelang H-7 didatangi oleh 250 hingga 300 pelayat.

"Kondisinya sepi sekali sampai sore ini. Biasanya tahun-tahun lalu seminggu sebelum puasa itu penuh, makin sore makin rame, paling enggak 300-an pelayat ada," ungkap Sulaiman.

Sulaiman berharap agar wabah ini cepat berakhir. Ia mengungkapkan bahwa selama pandemi Covid-19 ini, banyak jenazah yang dikuburkan malam hari guna menghindari keramaian.

"Saya berharapnya wabah ini cepat berakhirlah. Jadi kitapun tidak susah kali, jadi kalau ada orang meninggal pun tidak diburu-buru. Kalau sekarang inikan tidak boleh kumpul-kumpul, kalau ada meninggal ya malam pun dikubur," tuturnya.

Imbas wabah Covid-19 ini tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi suasana pemakaman saja, melainkan juga kondisi pendapatan para pedagang bunga ziarah.

Amidah, pedagang bungan ziarah, mengungkapkan mengalami penurunan omzet di masa pandemi Covid-219 ini. Kondisi serupa dialami pedagang bunga lainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved