Jalani Karantina RS GL Tobing, Pasien Ini Dapat Doa dan Dukungan dari Teman di Medsos

Friska Barita Purba, tetap ceria menjalani hari-hari sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di RS GL Tobing, Tanjungmorawa, Deliserdang.

TRIBUN MEDAN/HO
FRISKA Barita Purba merupakan sorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang sedang menjalani karantina di RS GL Tobing Tanjung Morawa, Deliserdang. 

TRIBUN-MEDAN.com - Friska Barita Purba, tetap ceria menjalani hari-hari sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di RS GL Tobing, Tanjungmorawa, Deliserdang. 

Ia dikarantina sejak awal April lalu dan dibawa terpisah dari keluarganya. Melalui akun Facebooknya, Friska sering bercerita mengenai kesan dan pengalamannya selama menjadi pasien PDP di rumah sakit PTPN II tersebut. 

Ia diantaranya menceritakan pengalaman saat dibawa ke rumah sakit, tentang makanan, layanan perawat, hingga cerita keseharian lainnya di rumah sakit yang sampai hari ini sudah berjalan 18 hari.

"Saya ingin orang-orang tidak memandang kami sebagai momok. Cerita-cerita positif itu penting supaya kita bisa selalu ceria dan berpikiran baik. Makanya saya senang menceritakan pengalaman saya lewat Facebook," katanya, Senin (27/4/2020).

Melalui media sosial ia juga tetap terhubung dengan sanak saudara dan rekan-rekannya. 

"Pengalaman pertama dibawa dalam ambulans dan sampai di tempat asing membuat saya rasanya tidak percaya. Saya turun dari ambulans dan melihat sekeliling orang-orang menggunakan baju seperti astronot. Rasanya saya seperti alien di tengah-tengah astronot. Instruksi diberikan dengan TOA, ambulans disemprot disinfektan dan saya juga disemprot disinfektan."

"Awalnya shock dan masih belum bisa terima dengan keadaan," tulis Friska dalam catatan hariannya yang diunggah melalui akun Facebooknya pada 22 April lalu.

Ia kemudian menjelaskan ruangan tempat ia isolasi yang cukup luas untuk ukuran satu orang. Ia juga menceritakan mengenai konsultasi via telepon genggam dengan dokter dan psikolog yang difasilitasi oleh pihak rumah sakit.

"Di sini enggak ada kenderaan keluar masuk, benar-benar seperti daerah terisolasi. Seluruh kamar tertutup rapat. Saya hanya bisa membaca-baca grup WhatsApp. Komunikasi pasien dengan dokter dilakukan via WhatsApp. Ternyata di RS ini ada pendampingan dari tim psikolog klinis." 

"Saya dihubungi mereka dan diajak ngobrol panjang  lebar. Dua hari berturut-turut psikolog menelepon, ngobrol berjam-jam, memberi pencerahan dan bimbingan buat semua pasien baru. Akhirnya lega rasanya, berdamai dengan keadaan seperti ini," lanjut Friska.

Halaman
12
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved