Breaking News:

Ramadhan 2020

Manisan Pucuk Daun Pepaya dan Cabai Khas Langkat, Buruan Warga Saat Ramadhan Tiba

Berbagai jenis manisan Halua dari bahan aneka buah, seperti pepaya, nenas, asam glugur, labu, renda, terong, hingga daun pepaya dan manisan dari cabai

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN/DEDY KURNIAWAN
PEDAGANG manisan Halua Sri Langkat, Erwin di lapak dagangan manisannya. 

TRI BUN-MEDAN.com, STABAT - Manisan Halua merupakan makanan khas asal Kabupaten Langkat jadi buruan masyarakat di kala Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri.

Halua dikenal sebagai manisan aneka buah dan sayuran khas kearifan lokal turun temurun.

Menariknya, pada tahun ini, Halua semakin diminati oleh masyarakat di saat daya beli menurun terdampak Covid-19.

Peningkatan omzet dirasakan pengusaha Manisan Halua pada Ramadhan 1441 Hijriah ini.

Pedagang manisan Halua Sri Langkat, Erwin (45) mengaku sempat khawatir usaha mereka akan sepi pembeli di saat pandemi Covid-19.

Apalagi imbauan larangan mudik sudah diserukan pemerintah, dengan alasan memutus mata rantai penyebaran virusCorona tersebut.

"Awalnya bakalan sepi Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Alhamdulillah omzet dangangan manisan Halua meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Pemerintah larang mudik, warga Melayu perantau yang ada di luar daerah dan negeri justru berburu manisa. Mereka melakukan pemesanan melalui online. Saat ini saya lagi sibuk melakukan pengemasan dan pengiriman paketan manusan Halua," ungkapnya di lapak dagangannya di Jalan Zainul Arifin Kecamatan Stabat, Selasa (28/4/2020).

Berbagai jenis manisan Halua dari bahan aneka buah, seperti pepaya, nenas, asam glugur, labu, renda, kolang kaling, gundur, jagung, wortel, terong, hingga daun pepaya dan manisan dari cabai merah.

ibis Styles Medan Tawarkan Sajian Nusantara untuk Berbuka

Aneka manisan dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 120 ribu rupiah per kilogram.

Dikatakannya, saban tahun, manisan yang paling banyak diminati dan diorder online adalah manisan pucuk pepaya, buah pepaya dan cabai.

Dari luar Langkat, terbanyak yang memesan adalah masyarakat dari Pekanbaru, Rantauparapat, bahkan ada juga yang dari Bandung.

"Bisnis ini sudah turun temurun selama 30 tahun. Awalnya ayah saya yang buka usaha, sekarang sayalah anaknya. Alhamdulillah tetap ramai pesan online. Yang jadi kendala sekarang harga gulanya saja melambung tinggi. tapi walaupun begitu (mahal gula), harga jual masih sama seperti tahun sebelumnya," pungkasnya.(dyk/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved