UPDATE Covid19 Sumut 29 April 2020

Bertugas Selama Ramadan, Dokter Relawan Covid-19 Aditya Ginting Sempat Tak Sahur dan Telat Berbuka

Aditya mengaku sempat stres dan tertekan karena pasien yang harus ditangani semuanya memiliki keluhan yang cukup parah dan dengan penyakit bawaan.

TRIBUN MEDAN/HO
ADITYA Ahmadi Ginting, dokter relawan Covid-19 yang bertugas di rumah sakit Martha Friska Medan. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Martha Friska Medan, menjadi tanggung jawab besar yang diemban lelaki dengan nama lengkap Aditya Ahmadi Ginting ini.

Ia bertugas berdasarkan arahan dari organisasi profesi tempatnya bernaung yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Sumut.

Hampir genap satu bulan Aditya bertugas dan jauh dari keluarga.

Memasuki hari ke enam Ramadan pun ia harus habiskan tanpa menjalani momen berpuasa dengan anak dan istri.

Bertugas sembari menjalankan ibadah puasa menjadi tantangan tersendiri baginya.

"Ya tantangannya pasti ada. Misalnya saat memakai APD lebih rentan dehidrasi karena tidak bisa minum karena sedang berpuasa. Memakai APD itu kalau sedang dinas kan enggak singkat, paling cepat dua jam. Jadi cairan keluar dari tubuh melalui keringat sangat banyak, sementara tidak ada yang masuk dalam waktu yang lama," ungkapnya saat diwawancarai Tri bun Medan, Rabu (29/4/2020).

Menangani pasien dengan kategori sedang dan berat juga menjadikan tugas yang diemban seluruh tenaga medis di Rumah Sakit rujukan Covid-19 tempat Aditya bertugas lebih berat.

Ia mengaku sempat stres dan tertekan karena pasien yang harus ditangani semuanya memiliki keluhan yang cukup parah dan dengan penyakit bawaan.

"Kalau kesan yang enggak enaknya karena di sini merupakan rujukan khusus untuk pasien sedang dan berat pasti ada rasa tertekan. Karena pasiennya kan dengan keluhan yang lumayan kronis dan dengan penyakit bawaan," tambahnya.

Kota Medan Jadi Episenter Virus Corona di Sumut, 90% Hasil Positif di Lab USU Berasal dari Medan

Bercanda dan saling menghibur antar sesama dokter dan tenaga medis lainnya menjadi usaha Aditya untuk melepaskan diri dari rasa tertekan yang dialami nya.

"Untuk mengurangi rasa stres ya paling tertawa bersama rekan-rekan yang lain, bercanda. Karena sudah menjadi resiko yang harus diterima, bagian dari tugas yang diemban," katanya.

Karena harus bertugas dengan tiga shift secara bergantian, Aditya mengatakan tak jarang dirinya dan rekan muslim lainnya tidak sempat sahur atau telat berbuka.

Karena ketika memakai APD dan sedang menangani pasien, sulit untuk bisa melakukan kegiatan yang lain.

"Ya pastilah, karena ini rujukan pasien sedang dan berat dari seluruh wilayah di Sumut. Jadi misalnya kalau lagi shift malam, terus ada pasien yang datang dari daerah sampainya di rumah sakit pada saat jam-jam sahur ya terpaksa enggak bisa sahur," ungkapnya.

Jika hal seperti itu sudah terjadi, Adit mengatakan yang paling penting adalah niat dan ketulusan. Meskipun tidak bisa sahur ataupun terkadang sering telat berbuka.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved