Ada Aplikasi Kepul, Kini Pengepul Tak Perlu Habiskan Tenaga dan Bahan Bakar untuk Kumpulkan Sampah

Terdapat 33 jenis sampah yang bisa dijual di aplikasi Kepul. Mulai dari aki motor atau aki mobil bekas, TV bekas, hingga sampah organik dapur.

TRIBUN MEDAN/HO
TIM startup Kepul berfoto di depan gedung fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi USU beberapa waktu lalu. Kepul adalah aplikasi yang mempertemukan pemilik dan pengepul sampah. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Apakah selama ini Anda merasa bahwa sampah yang Anda hasilkan sehari-hari, khususnya sampah daur ulang harus terbuang begitu saja? Atau apakah Anda sebagai pengepul sampah merasa kalau seharian berkeliling mencari sampah, tetapi tak kunjung menemukan sampah yang dapat didaur ulang?

Jika ya menjadi jawabannya, maka ini saatnya Anda sebagai warga memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan pemanfaatan sampah daur ulang dan sebagai pengepul, Anda bisa memaksimalkan pengumpulan sampah daur ulang.

Teknologi tersebut hadir melalui Kepul, sebuah aplikasi yang mempertemukan pengepul sampah dan warga yang memiliki sampah. Dua alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara (USU), Afrizal Yusuf Rangkuti dan Abdul Latif Nasution berada di balik berdirinya aplikasi Kepul ini.

Pendiri Kepul, Abdul Latif mengatakan, Kepul berdiri pada tahun 2018 lalu. Hal utama yang melatarbelakangi pendirian Kepul adalah karena melihat tingginya angka produksi sampah di Indonesia. Sementara itu, kapasitas masyarakat terhadap pengelolaan sampah belum bisa mengimbangi besarnya jumlah sampah yang dihasilkan.

"Kami melihat permasalahan sampah ini adalah masalah yang kompleks dan membutuhkan peran multi pihak. Untuk Kota Medan sendiri sampah yang kita hasilkan 2000 ton per hari. Oleh karena itu sebagai warga Sumut khususnya kota Medan, kami ingin membuat inovasi di era digital ini. Bagaimana caranya bisa ikut andil dalam pengurangan jumlah sampah yang dihasilkan," katanya kepada Tri bun Medan, akhir pekan lalu.

Latif  menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, dari sebanyak 65 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahunnya, sebanyak 70 persen dapat didaur ulang.

Selain itu, banyaknya pengepul yang tidak menemukan barang-barang bekas untuk didaur ulang karena kurang memaksimalkan teknologi yang ada.

Latif mengatakan para pengepul banyak menghabiskan tenaga dan bahan bakar untuk berkeliling sementara hasil yang didapatkan tidak sesuai. “Karena itu, kita coba memaksimalkan usaha pengepul untuk mendapatkan sampah rumah tangga dengan cara menjembatani antara si pemilik sampah dengan pengepul," katanya.

"Terlebih banyak sampah yang seharusnya tidak sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan bisa dijadikan lebih bermanfaat dengan diolah kembali. Selain itu bisa meningkatkan kemampuan ekonomi para pengepul serta masyarakat pada umumnya," tambahnya.

Latif menjelaskan, sesuai dengan fungsi teknologi yang memudahkan, maka pengoperasian Kepul juga tidak sulit.

Halaman
1234
Penulis: Rechtin Hani Ritonga
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved