Wisuda Virtual Bikin Penjual Souvenir Wisuda Terpuruk, Omzet Anjlok hingga 95 Persen

Penurunan signifikan dirasakan oleh Nisa, penjual souvernir di sekitaran wilayah Universitas Negeri Medan.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/KARTIKA
DOKUMENTASI penjual souvernir wisuda yang tampak menyusun barang dagangannya di sekitaran jalan wilayah Unimed, Senin (20/7/2020). 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Selama pandemi masih berlangsung, beberapa universitas khususnya di Sumatra Utara membuat kebijakan untuk melaksanakan wisuda secara daring atau online tanpa harus adanya dilaksanakan tatap muka.

Pelaksanaan wisuda daring ini tentu memberikan dampak signifikan bagi penjual souvernir wisuda yang biasanya laris manis menjual buket bunga, boneka, dan lukisan untuk wisudawan.

Penurunan signifikan dirasakan oleh Nisa, penjual souvernir di sekitaran wilayah Universitas Negeri Medan.

Ia mengakui semenjak pemberlakuan lockdown di kampus, omzet turun mencapai 95 persen.

"Tahun ini menurun drastis kali. Biasanya kalau mahasiswa sidang atau wisuda penghasilan mau Rp 500 ribu sehari ketika ada sidang atau wisuda. Sekarang ini seperti buka dasar saja alhamdulillah. Ini terasa sekali," ungkap Nisa kepada Tribun Medan, Senin (20/7/2020).

Rektor USU Runtung Sitepu Lantik 981 Wisudawan USU, Prosesi Wisuda Daring, Live Premiere YouTube

Nisa sudah berjualan selama setahun di depan Unimed dengan berjualan buket bunga dengan varian harga mulai Rp 10 ribu hingga seratusan ribu. Selain itu ia juga turut menjual tempah selempang dan boneka.

Penurunan omzet ini mulai dirasakan Nisa sejak Maret lalu. Selama hampir empat bulan lamanya ia menghentikan penjualan lantaran total tidak ada pemasukan sedikit pun dari pembeli.

"Kita mulai lockdown dari bulan tiga sudah dirumahkan. Disitu penghasilan kita sudah tidak ada. Kita jualan satu bulan belakangan ini. Alhamdulillah ada BLT jadi ada bisa bantu untuk makan sama anak," ungkapnya.

Sepanjang jalan di depan Unimed, ada sekitaran tujuh penjual souvernir wisuda yang berjualan. Dulunya, sempat para penjual ini mengalami penertiban dari Satpol PP namun hingga kini mereka masih tetap eksis berjualan souvernir.

Alternatif Belajar di Masa Pandemi, Guru YPSA Datangi Rumah Siswa Untuk Bimbingan Belajar

Selain Nisa, hal yang sama juga turut dirasakan Emni Eka, penjual yang tampak membereskan barang dagangannya ketika ditemui Tribun Medan.

Emni sendiri sudah memasuki tahun kedua berjualan souvernir wisuda. Baginya, tahun ini menjadi titik terendah ia berjualan lantaran harus

"Saat ini belum normal karena mahasiswa masih banyak wisuda online. Penjualan lebih dari 50 persen menurun dari biasanya. Kalau dulu lumayan tinggi hingga ratusan ribu. Ini empat bulan kita vakum. Abis wisuda bulan Februari lalu, masuk bulan Maret mahasiswa diliburkan, kita stop penjualan hingga awal Juli kita mulai berjualan lagi," ujar Emni.

Emni menuturkan bahwa empat bulan terakhir, ia tidak ada mendapatkan pemasukan sama sekali. Hingga pada awal Juli dia dan penjual lainnya memberanikan diri untuk berjualan lantaran sudah mendekati masa wisuda dengan meminjam modal.

HARI INI USU Gelar Wisuda Online, Pertama Kali Dalam Sejarah, Pesan Rektor Runtung Sitepu

"Awal jualan kita betul tidak ada orang. Baru inilah ada sedikit-sedikit. Ini bukan terasa penurunan, sudah terduduk pun kita berjualan ini. Total tidak ada pemasukan. Baru inilah minjam modal sama saudara baru ada barang lagi. Kalau tidak minjam bagaimana, kemarin coba jualan tidak ada laku sedikitpun," tuturnya.

Emni berharap agar keadaan berjalan normal kembali agar ia dan keluarga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan lancar.

"Bulan tujuh kita mulai lagi. Kita berharap corona ini berlalu biar mahasiswa kembali belajar normal, pokoknya perekonomian normal lagi. Saya jadinya andalkan suami dari pengahasilan mengantarkan barang, dari situlah kami bertahan hidup," pungkas Emni.(cr13/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved