Cara Mencegah Stunting, Perilaku Hidup Sehat Dalam Kehidupan Sehari-hari Jadi Keharusan
Stunting atau kekurangan gizi dalam waktu lama yang membuat anak pendek dan otak tidak berkembang, merupakan masalah gizi terbesar pada balita
Marlina mengatakan pemerintah sudah memiliki strategi. Langkah yang dilakukan adalah perbaikan gizi dan pola asuh, terutama pemenuhan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan, dan penurunan infeksi melalui peningkatan kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan.
Pemahaman masyarakat yang rendah pada kondisi stunting atau penyebabnya, menurut Risang Rimbatmaja dari Yayasan Cipta, disebabkan karena istilah stunting sendiri tidak dipahami.
“Istilah stunting sangat abstrak bagi orang yang tidak bekerja di bidang kesehatan. Istilahnya juga berubah terus. Dulu disebut stanting, lalu kerdil, lalu pendek, sekarang stunting,” ujar Risang.
Ia menambahkan, membangun kepercayaan merupakan kunci keberhasilan program komunikasi perubahan perilaku. Pembuatan poster dan penggunaan istilah juga harus berhati-hati agar tidak menimbulkan stigma.
“Jangan sampai ada anak yang diejek temennya sebagai cebol atau pendek, atau seorang ibu malu membawa anaknya ke posyandu karena takut anaknya disebut kurang gizi,” katanya.
Risang menegaskan, komunikasi perubahan perilaku tidak serta merta mengubah orang. Apalagi advokasi masalah ini harus dilakukan dalam jangka panjang.
“Komunikasi perubahan perilaku tetap diperlukan, tapi harus bergandengan dengan intervensi model lain. Misalnya tidak hanya soal pemenuhan gizi, tapi juga pemahaman, sanitasi, hingga higienitas,” katanya.
Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul Jalan Panjang Mengubah Perilaku Kesehatan untuk Cegah Stunting
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/anak-dengan-kondisi-stunting-di-kabupaten-langkat_20180429_143205.jpg)