Kisah PPDB Tercepat Lakukan Coklit, Dikejar Anjing Galak hingga Ditolak Warga karena Pakai APD
Yuli Fransisca (24) menjadi satu di antara pejuang demokrasi yang rela mendedikasikan waktunya sebagai Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP).
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Juang Naibaho
Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan
TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Yuli Fransisca (24) menjadi satu di antara pejuang demokrasi yang rela mendedikasikan waktunya sebagai Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP).
Pengalaman perdana ini ikhlas dilakoninya, dengan penuh suka duka ketika terjun ke masyarakat melakukan pencocokan dan penelitian (Coklit) di masa pandemik Covid-19.
Yuli Fransisca mafhum betul bahwa sebagai PPDP harus bertanggung jawab menjamin hak pilih warga dan kesehatan warga di masa pandemi Covid-19.
Dengan berbekal APD berupa masker, face shield, sarung tangan dan hand sanitizer ibu dua anak ini mendatangi pintu-pintu rumah warga untuk didata agar bisa mendapat hak pilih pada Pilkada 2020.
"Ini pengalaman pertama sebagai penyelenggara pemilu. Dan kebetulan kami bertugas di masa pandemi Covid-19, pastilah ada tantangan dan pengalaman yang berbeda. Demi hak pilih dan kesehatan masyarakat kami yang mendatangi ke rumah warga untuk didata," katanya, Senin (3/8/2020).
Sebagai ibu rumah tangga, Yuli dihadapkan dua peran sebagai seorang ibu dan PPDB yang membuatnya harus pintar membagi waktu kerja dan untuk dua buah hatinya yang masih kecil dan butuh perhatian.
Katanya, anak pertama masih empat tahun dan satu lainnya masih bayi usia enam bulan.
"Anak saya dua Alhamdulillah bisa bagi waktunya mengganggu. Kalau bayinya tidur barulah saya kerja, dari jam 8 sampai jam 11, syukurnya ada juga ibu dan neneknya yang bantu jaga. Pokoknya kalau bayinya nangis saya pulang untuk menyusui, kalau sudah diam dia, saya bisa kerja lagi," ungkapnya.
Sebagai PPDP, Yuli telah melakoni pengalaman yang tak akan bisa terlupakan seumur hidupnya.
Saat hendak mendata warga di lapangan tak semudah yang dibayangkan. Ia merasakan pahitnya ditolak warga, bahkan hingga dikejar-kejar anjing galak.
"Awalnya tahu PPDP dari keluarga makanya mendaftar, jadi sedikit banyak sudah tahu tugasnya. Tapi ternyata di lapangan tak seindah yang dibayangkan. Yang paling berkesan pas dikejar-kejar anjing galak, saya kira dirantai, rupanya langsung dikejar saya lari-lari menyelamatkan diri. Beruntungnya ada warga lain yang menolong, dan datanya juga selesai dikerjai," ungkapnya.
Yuli juga tak jarang ditolak warga yang hendak didata, karena dianggap petugas Covid-19 dari Dinsos atau Dinkes yang memonitor korban Covid-19.
Keadaan itu tak menyurutkan semangat Yuli demi menjamin hak pilih warga pada Desember 9 2020 mendatang.
"Kalau warga ada juga yang menolak karena dikiranya Saya tim Gugus Covid-19, jadi saya minta bantuan sama kepling setempat untuk mendampingi. Alhamdulillah sekarang tugas saya sudah selesai," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ppdp-binjai-tercepat.jpg)