Viral Medsos

Pendidikan Makin Heboh! Setelah Gilang Fetish, Muncul Dosen Diduga Pelecehan Modus Riset Swinger

informasi yang beredar, ia berhentikan setelah banyaknya laporan tentang dugaan pelecehan seksual yang dilakukan dia kepada banyak perempuan.

Tayang:
Ilustrasi 

TRI BUN-MEDAN.com -  Beberapa hari ini heboh di media sosial tentang aksi dugaan pelecehan seksual di bidang pendidikan.

Setelah kasus Gilang Fetish, mahasiswa di perguruan tinggi Surabaya, kali ini menyangkut seorang dosen.

Dosen ini bernama Bambang Arianto. Bambang, diketahui adalah seorang dosen tidak tetap di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Namun, belakangan, dari informasi yang beredar, ia berhentikan setelah banyaknya laporan tentang dugaan pelecehan seksual yang dilakukan dia kepada banyak perempuan.

Mencuatnya nama Bambang Arianto tak lepas dari viralnya kasus Gilang Bungkus Jarik, yang melecehakan para korbannya dengan dalih penelitian.

Akun facebook Laeliya Almuhsin yang pertama kali membuka kasus ini.

Laeliya Almuhsin menceritakan, ia sempat punya pengalaman buruk mengarah kepada aksi pelecehan seksual.

Demi Nikahi Pria yang 15 Tahun Lebih Muda, Wanita 38 Tahun Berikan Mahar Sebesar Rp 11 Miliar

Tangkapan layar pengakuan korban Bambang Irianto.
Tangkapan layar pengakuan korban Bambang Irianto. (facebook)

"Sedang viral berita fetish bungkus kain jarik. Seorang mahasiswa PTN yang mengaku sedang riset bungkus membungkus yang kemudian terindikasi fetish. Dia mendapatkan kepuasan seksual menyaksikan orang dibungkus jarik menyerupai pocong. Dan, banyak korbannya," tulis Laeliya Almuhsin di awal penjelasannya, dikutip Wartakotalive.com, Senin (3/8/2020).

Duh, Ini mengingatkan saya pada seorang kenalan di Facebook yang mengaku sedang riset sensitif. Dia alumni sebuah PTN dan dosen di sebuah universitas swasta Islam. Saya tidak pernah jumpa langsung, tetapi karena mutual friends cukup banyak, saya terima pertemanan di Facebook.

Dia hubungi saya dengan alasan katanya saya dianggap berpikiran terbuka dan tidak akan kaget soal penelitiannya. Dia awalnya hubungi via message FB untuk minta nomer HP saya dan akan menjelaskan soal risetnya.

Saya berkhusnudhon, jadi saya kasih nomor HP saya. Saya pikir awalnya yang dimaksud riset sensitif itu terkait perkara intoleransi atau radikalisme gitu. Soalnya dia ngajar di institusi Islam gitu. Ternyata tralala...

Dia bilang pernah baca status saya terkait riset PSK anak. Dia ingin tahu. Memang betul saya pernah riset tentang para korban PSK anak atas kerjasama dengan sebuah lembaga internasional. Saya jelaskan bahwa riset itu banyak sekali etika yang harus dipenuhi.

Ambil data tidak boleh sendiri, ada pendamping aktivis yang ditunjuk. Dilarang menghubungi langsung korban meskipun korban punya HP. Harus atas izin orangtua atau wali korban saat wawancara. Tidak boleh memeluk atau menyentuh fisik jika korban menangis atau bersedih saat wawancara. Dan, banyak aturan lainnya.

Saya ceritakan padanya sebatas etika dan aturan pengambilan data. Lalu, dia cerita bahwa dia akan riset sensitif macam itu, tepatnya tentang gaya hidup swinger di kalangan kelas sosial menengah ke atas. Swinger? Yup. Tukar pasangan seks, khusus pasangan suami istri katanya.

Hm...Ada gitu ya riset begitu di Indonesia? Gak begitu kaget sih, saya pikir itu bagian riset sosial atau psikologi.

Sumber: Warta kota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved