Guiding Block di Medan untuk Tertutup PKL dan Parkir, Tuna Netra Kesulitan

Keberadaan guiding block di Medan yang diperuntukan membantu penyandang tuna netra semakin memprihatinkan.

TRIBUN MEDAN/KARTIKA
Penjual minuman menggunakan fungsi guiding block sebagai lapak berjualan di Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Keberadaan guiding block di Medan yang diperuntukan membantu penyandang tuna netra semakin memprihatinkan.

Banyak guiding block ditutupi pedagang kaki lima atau menjadi lahan parkir. Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumut Khairul Batubara menyayangkan tidak efektifnya fasilitas yang telah dibuat oleh pemerintah itu. 

"Sebenarnya bukan hanya saya, tapi semua disabilitas tuna netra merasa keberatan. Tapi, bagaimana? Kami tiada daya untuk melarang itu. Ini memang sangat mengganggu," katanya, Sabtu (5/9/2020). 

Amatan Tribun Medan, banyak guiding block yang beralih fungsi sebagai lapak berjualan di sepanjang Jalan Brigjen Katamso. Di atas trotoar yang telah dipasangi guiding block ini ada penjual rujak, minuman, hingga jasa tambal ban. 

Para pelaku usaha tersebut menimpa atau menutupi guiding block yang berbentuk keramik dan bulatan-bulatan berwarna kuning tersebut dengan barang dagangannya. Pemandangan yang sama dapat di lihat di Taman Gajah Mada.

Menurut Khairul, sekarang ini banyak tuna netra yang tergabung di Pertuni menjadi penjual kerupuk di pinggir jalan. Akibat tidak efektifnya penggunaan guiding block, katanya, pernah seorang anggota Pertuni menabrak becak yang parkir di atas guiding block

Khairul berharap agar pemerintah memastikan para tuna netra ini mendapatkan haknya, seperti yang telah diatur dalam UU 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. 

"Harapan kami kepada semua pihak pemerintah maupun BUMD dan BUMN, tolonglah orang-orang yang berjualan itu bisa ditertibkan agar kami juga bisa secara mandiri dapat menjalankan aktivitas," pungkasnya. 

Lokasi Strategis

Para pedagang kaki lima telah mengetahui fungsi dari guiding block yang tertimpa aktivitas jualan. Namun, mereka memilih untuk tetap berjualan dikarenakan lokasi yang strategis. 

Wirman, pemilik usaha jasa tempel ban memilih bertahan untuk membuka usahanya di atas guiding block

"Saya disini lumayan lama. Ya, saya tahu (fungsinya) tapi disini yang ramai, tengah kota juga. Kalau tempat lain enggak tentu dapet segini. Lagi pula ini kan enggak pernah dipakai sama pejalan tuna netra. Jarang kali lah. Ya, saya pakailah," ungkapnya, Sabtu (5/9/2020). 

Pemandangan serupa juga tampak di sekitaran Taman Gajah Mada, Kecamatan Medan Baru, Medan. Guiding block di seputaran taman tampak dijadikan lokasi untuk tempat berjualan minuman dan cemilan.

Tampak kursi dan meja menutupi penunjuk jalan. Sudirman, penjual es kelapa yang telah berjualan selama 12 tahun ini mengaku tidak tahu fungsi dari guiding block

"Ini dicat aja ini warna kuning. Kalau untuk fungsinya kurang tahu juga saya untuk tuna netra atau bukan. Zaman Eldin lah dibuat ini. Ya mungkinlah untuk tuna netra. Tapi enggak pernah juga dipakai saya lihat. Ya, saya pakailah," ucapnya. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved