Dua Eksekutor Hakim Jamaluddin Divonis Mati di PT Medan, Pengacara Zuraida Hanum Sebut Sudah Tepat

Reza Fahlevi dan Jefri Pratama, dua eksekutor hakim Jamaluddin divonis mati oleh Pengadilan Tinggi (PT) Medan.

TRIBUN MEDAN
Tiga pelaku pembunuhanan hakim Pengadilan Negeri Medan Jamaluddin, Zuraida Hanum (kiri atas), Reza Fahlevi (kiri bawah) dan Jefri Pratama (kanan) menjalani Hakim menjatuhi vonis hukuman mati terhadap terdakwa Istri Hakim Pengadilan Negeri Medan Jamaluddin Zuraida Hanum, Jefri Pratama divonis hukuman penjara seumur hidup dan Reza Fahlevi dihukum penjara 20 tahun.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dua eksekutor hakim Jamaluddin divonis mati oleh Pengadilan Tinggi (PT) Medan.

Di tingkat pertama Pengadilan Negeri (PN) Medan, Reza Fahlevi (29) sebelumnya divonis hukuman 20 tahun penjara, sedangkan Jefri Pratama (42) dengan hukuman seumur hidup.

Sementara Zuraida Hanum, istri hakim Jamaluddin, yang divonis mati oleh PN Medan, tetap dijatuhi hukuman serupa oleh PT Medan.

Onan Purba, penasihat hukum Zuraida Hanum, belum bersedia berkomentar terkait putusan PT Medan yang menguatkan vonis mati terhadap kliennya itu.

"Bagaimana saya mau mengomentari hal ini, pemberitahuannya saja belum sampai ke saya," ujarnya, Senin(21/9/2020) sore.

Meski begitu, ia menyatakan akan melakukan upaya hukum kasasi bila kliennya tetap divonis mati di PT Medan.

"Tapi, kalau memang itu benar, kami akan melakukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Kami akan mengajukan hal itu," kata Onan.

Saat ditanyakan tanggapan keluarga soal putusan banding ini, Onan lagi-lagi mengatakan hal yang serupa, dan enggan mengomentarinya.

"Kan sudah saya katakan tadi, belum ada pemberitahuan, jadi bagaimana mau saya beritahukan," katanya.

Ia pun kemudian mengomentari hukuman mati yang diberikan terhadap dua eksekutor pembunuhan hakim Jamaluddin.

Ia mengatakan, putusan mati untuk Reza Fahlevi dan Jefri Pratama, sudah tepat menurut hukum.

Sebab, ketiganya melakukan pembunuhan tersebut secara bersama-sama.

"Kalau dari pasal 55 (KUHP), itu sebenarnya sudah tepat menurut hukum. Karena tidak ada kata ikut serta, namun jelas bersama-sama. Beda kata kalau mereka dijatuhkan hukuman dengan pasal 56 (KUHP)-nya, kalau dengan itu saya tidak dapat berkomentar," jelasnya.

Ditanyakan soal dampak putusan ini terhadap persidangan hak asuh anak Jamaluddin dan Zuraida Hanum yang masih berlangsung di Pengadilan Tinggi Agama (PTA), ia juga masih enggan berkomentar.

Ia hanya mengatakan tetap optimistis dalam sidang tersebut.

"Kita percaya diri saja, sebab faktanya kita sudah dapat. Kalau hanya dengan hukuman mati, itu sangat tidak kuat. Kenny itu siapa? Kakaknya, namun dia belum berkerja. Bagaimana dia bisa membiayai adiknya yang masih kecil," ujarnya.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa selama Zuraida belum dihukum mati, maka Zuraida Hanum tetaplah ibu dari Khanza.

"Ya sampai saat inikan proses hukum masih berjalan, Zuraida juga belum dihukum mati. Jadi selama dia masih hidup, maka dia tetaplah menjadi ibunya," pungkasnya.

(cr2/TRIBUN-MEDAN.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved