TRIBUN-MEDAN-WIKI: Mengenal Ritual Erpangir Ku Lau pada Etnis Karo

Dalam masyarakat Karo erpangir berarti upacara religius yang berdasarkan kepercayaan tradisional suku Karo (pemena)

Pemirintahan Kabupaten Karo
Proses Upacara Erpangir Ku Lau, Kamis 15 Oktober 2020 Foto Bersumber Pemirintahan Kabupaten Karo 

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Indonesia merupakan negara tropis, yang kaya dengan sumber daya alamnya. Begitu juga negara yang memiliki kemajemukan agama dan budayanya. Maka dari itu, sangat wajar negara Indonesia dikatakan banyak memiliki tradisi dari berbagai etnisnya. Seperti, tardisi ritual yang di temui pada etnis Karo di Sumatra Utara.

Ritual itu disebut Erpangir Ku Lau, yang merupakan upacara mandi untuk mengusir roh jahat atau menyucikan diri dari pengaruh roh jahat, memberikan sesajen kepada leluhur nenek moyang agar menerima rezeki. Erpangir berasal dari kata pangir, yang berarti langir. Oleh sebab itu erpangir artinya berlangir.

Akan tetapi, dalam masyarakat Karo erpangir berarti upacara religius yang berdasarkan kepercayaan tradisional suku Karo (pemena), di mana seseorang atau keluarga tertentu melakukan upacara berlangir dengan tanpa bantuan guru, dengan maksud tertentu. Upacara ini memang menggunakan pangir sebagai medianya.

Dilangsir Jurnal Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial yang diterbitkan oleh Universitas Negeri Medan, bahwa ritual yang merupakan salah satu warisan budaya Karo memiliki makna dan nilai budaya. Walaupun saat ini ritual jarang dilakukan bahkan jarang di temui di kalangan masyarakat Karo.

Hal ini disebabkan oleh pengaruh masuknya agama di Tanah Karo. Jadi, mengenai ritual Erpangir Ku Lau ataupun ritual lainnya yang menggunakan ramuan-ramuan tradisional jarang dilaksanakan sebagaimana yang diwariskan leluhur mereka terdahulu.

Berdasarkan pendapat masyarakat, mereka tidak melakukan ritual ini dikarenakan takut dikenai sanksi sosial dari masyarakat sendiri karena dianggap memuja berhala.

Tetapi banyak juga yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena hal itu mereka anggap sebagai sugesti yang dapat mempengaruhi kejiawaan (dikeramatkan).

Bahkan ritual ini sudah dijadikan sebagai seni pertunjukan atau entertaint. Hal ini membuktikan pelestarian mereka terhadap budaya leluhur mereka. 

Erpangir Ku Lau memiliki nilai kebudayaan seperti nilai kebersamaan atau gotong royong, disiplin, kesehatan, pendidikan, kesopansantunan, kejujuran, kesetiakawanan, pikiran positif atau rasa syukur, kekerabatan dan lain lain.

Nilai-nilai tersebut tentunya telah disepakati dan diterima oleh masyarakat Karo secara umum yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan, simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan perilaku serta tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.

Dalam ritual Erpangir ku lau juga menggunakan ercibal yaitu berupa bunga-bunga, air, jeruk, kemenyan, sirih, dan lain sebagainya, sementara alat- alat yang digunakan adalah ember, pisau atau parang, rokok, dan lain sebagainya.

Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana peranan ritual Erpangir bagi kehidupan etnis Karo itu sendiri untuk membebaskan mereka dari bala kehidupan berupa penyakit.

Berdasarkan artikel yang diterbitkan oleh Info Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada beberapa alasan mengapa seseorang atau keluarga tertentu melakukan upacara erpangir. Alasan-alasan tersebut seperti,

a. Ucapan terima kasih kepada Dibata, misalnya: memperoleh keberuntungan, terhindar dari kecelakaan, memperoleh hasil panen yang berlimpah, sembuh dari penyakit, dan lain sebagainya.

b. Menghindarkan suatu malapetaka yang mungkin terjadi, biasanya sudah terlebih dahulu diterka melalui firasat suatu mimpi atau berdasarkan keterangan dan saran dari guru.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved