Cara China Cegah Wabah Flu Babi, Ternakkan Babi di Apertemen Bertingkat Dilengkapi Lift

Perusahaan swasta Guangxi Yangxiang sedang membangun kawasan apartemen tinggi di pegunungan Yaji, bisa memproduksi sekitar 840 ribu babi setahun.

Editor: Tariden Turnip
Reuters: Dominique Patton
Cara China Cegah Wabah Flu Babi, Ternakkan Babi di Apertemen Bertingkat Dilengkapi Lift . Apartemen bertingkat untuk ternak babi 

"Ekspor daging merah kami ke China sebelum flu babi Afrika sudah tinggi, dan pertumbuhan itu naik berlipat ketika kemudian terjadi wabah flu Afrika," katanya.

"Permintaan akan bij-bijian saat ini juga disebabkan karena kebutuhan China untuk meningkatkan cadangan."

Namun menurut Herrmann sudah ada tanda-tanda China mulai bergerak ke arah peternakan yang lebih canggih, dan karenanya akan ada peningkatan produksi di sana yang pada gilirannya akan membuat harga akan turun.

"Kita sudah melihat adantya bukti ternak bibit babi yang dikapalkan dari Jerman ke China, itu sudah terjadi, dan sekarang tampaknya jumlahnya semakin besar," katanya.

"Saya kira perkiraannya adalah diperlukan waktu dua tahun untuk mengembalikan keadaaan seperti sebelum adanya wabah. Saya kira kita bisa memperkirakan produksi penuh akan terjadi tidak lama setelah itu."

Pekerja memindahkan anakan babi di peternakan Guangxi Yangxiang dalam usaha meningkatkan produksi babi dalam negeri di China.
Pekerja memindahkan anakan babi di peternakan Guangxi Yangxiang dalam usaha meningkatkan produksi babi dalam negeri di China. (Reuters: Dominique Patton)

Robert Herrmann mengatakan bahwa 'tidak tersedianya protein daging merah di China" saat ini karena adanya wabah telah memberikan kesempatan bagi peternak sapi dan domba Australia untuk menguasai pasar.

"Dan diperkirakan pasar itu akan menurun di saat angka produksi babi meningkat," katanya.

Namun analis pasar independen Simon Quilty mengatakan usaha China meningkatkan produksi babi terus mengalami masalah, dan diperkirakan China akan tetap mengimpor bij-bijian, sapi dan domba dalam jumlah besar beberapa tahun ke depan.

"Walau keadaan membaik, kita tahu bahwa wabah flu babi Afrika ini terus membuat babi mati, karena kita tahu harga anakan babi di China masih sangat tinggi," kata Quilty.

"Kita tahu harga daging babi yang diternakkan, dan juga babi liar di China masih terus naik.

"Jadi ini menunjukkan bahwa wabah flu babi Afrika ini masih menimbulkan masalah besar dan kemampuan pasok pasar domestik daging babi di China masih mengalami masalah."

Babi Jumbo

Sebelumnya peternak babi di China juga mencoba membiakkan babi super yang lebih berat dari beruang kutub yang kebal penyakit.

Seorang petani babi di wilayah provinsi Guangxi, Zhao Hailin, mengatakan kepada Bloomberg, mereka ingin membesarkan babi 'sebesar mungkin.'

Harga daging babi yang tinggi telah mendorong peternak untuk memelihara babi sebesar 175 kilogram hingga 200 kilogram.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved