Breaking News:

Raih Penghargaan Internasional, Semut Sumut Wadahi Anak Putus Sekolah Asah Kemampuan Secara Gratis

Semut Sumut menjadi wadah bagi anak putus sekolah untuk mengembangkan kemampuan diantaranya Desain Komunikasi Sosial dan Cinematography.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN/HO
SUASANA belajar anak didik Semut Sumut beberapa waktu lalu di Basecamp Semut Sumut. 

Tribun-Medan.com, Medan - Putus sekolah bukan berarti harus memutuskan impian dan masa depan.

Prinsip ini yang dipegang Yogie Adjie hingga akhirnya mendirikan start up Semut Sumut pada tahun 2018.

Semut Sumut  menjadi wadah bagi anak putus sekolah untuk mengembangkan kemampuan diantaranya Desain Komunikasi Sosial dan Cinematography.

Menariknya, pendiri Semut Sumut, Yogie juga ternyata tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal lantaran masalah finansial.

Ia mengungkapkan, melalui program sosial tersebut, dirinya turut mendukung anak didiknya berkarir dengan skill tanpa harus ada belas kasihan.

"Aku nggak selesai pendidikan formal di universitas karena faktor finansial. Setelah ikut komunitas sosial, aku ingin orang bisa lihat program sosial itu keren tanpa ada harus belas kasihan. Disini kita juga jual jasa dari anak-anak yang kita sekolahkan. Jadi setelah mereka tamat setelah belajar setahun, kita bisa oper mereka ke company atau start up yang di Jakarta, atau kita juga buka agensi sendiri seperti jasa desain atau video bagi anak-anak yang tidak punya identitas diri, mereka kita gaji disitu," ungkap Yogie, Sabtu (17/10/2020).

Baca juga: Putus Kuliah, Yogi Bantu Sekolahkan Anak Muda Lewat Semut Sumut

Menimba ilmu di Semut Sumut, anak-anak didik Yogie juga diasramakan dengan di penuhi segala kebutuhan hidup selama satu tahun.

Yogie punya cara sendiri untuk menarik minat anak-anak putus sekolah untuk bergabung ke Semut Sumut. Tidak ada ajakan diplomatis untuk pendidikan melainkan ajakan realitas.

"Kita itu no bullshit motivation. Kita nggak pernah ajak murid 'ayo belajar dengan rajin biar pintar'. Aku bilang kalau mau duit ya kerja yang layak. Kita sentuh mereka dengan hal-hal yang realistis. Alasan mereka untuk semangat biar mereka yang temukan sendiri," kata Yogie.

Dua tahun berdiri, Semut Sumut sudah meraih segudang prestasi baik nasional hingga internasional, seperti The Best Social Program Asia Pasific di Spanyol pada September 2019.

Dengan pencapaian hingga ke kancah internasional, justru Yogie dan tim menargetkan untuk membubarkan Semut Sumut. Diketahui, pembubaran ini dimaksud saat tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah dan dapat bersekolah dengan layak.

"Aku dan teman-teman sepakat kalau Semut Sumut ini kita bubarin. Terlalu naif tapi kita nggak ingin terus-terusan ada anak putus sekolah di Indonesia. Kita punya banyak basis relawan di berbagai kota, kita meriset dan mendorong pemerintah untuk membuat suatu regulasi tetap bagaimana anak-anak gak bingung lagi untuk sekolah.

Baca juga: Semut Api Buat Australia Tekor, Rugi Rp100 Triliun Per Tahun

Minimal sampai SMA, 12 tahun seperti dijanjikan pemerintah. Kalau itu tercapai kita kan tidak punya market lagi. Kita targetnya gitu, anak-anak tidak ada yang putus sekolah, anak-anak dapat sekolah dengan layak yauda kita bubarkan Semut Sumut," tuturnya.

Tiap tahunnya, Semut Sumut buka batch tiap Desember bagi anak-anak putus sekolah untuk mengasah kemampuan. Yogie menuturkan bahwa ada beberapa persyaratan untuk bergabung dan diprioritaskan untuk anak putus sekolah dan punya minat belajar yang tinggi.

"Persyaratan pertama dia harus putus sekolah, kemudian dia berasal dari keluarga yang tidak mampu dan dia harus punya motivasi belajar yang kuat. Mau masa lalunya preman atau pengguna narkoba, kita punya murid seperti itu dan itu nggak jadi patokan. Kita juga ada survei langsung, tes interview dan Januari kita sudah mulai belajar," pungkas Yogie.(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved