Lewat Museum Daerah, Disparbud Langkat Lestarikan Galeri Babussalam dan Perjuangan

Museum Daerah Kabupaten Langkat kini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. 

TRIBUN MEDAN/HO
DISPARBUD Langkat menggelar Museum Keliling dari sekolah ke sekolah demi melestarikan Cagar Budaya dan Kearifan Lokal di Padangtualang, Selasa (10/11/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, STABAT - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Langkat melestarikan peninggalan dan bukti budaya kearifan lokal lewat Museum Daerah yang berada di Kota Tanjungpura.

Disparbud Langkat mengajak pelajar di Padangtualang untuk lebih mengenal peninggalan bersejarah koleksi Museum Daerah Langkat, Selasa (10/11/2020). 

Museum Daerah Kabupaten Langkat awalnya difungsikan sebagai Balai Kerapatan Kesultanan Langkat yang penuh sejarah, kini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. 

Untuk itu, pihak Disparbud menggelar kegiatan Museum Keliling dengan tujuan agar generasi muda mengingat sejarah daerahnya, sehingga termotivasi dan membentuk karakter kearifan berbudaya.

Kali ini fokus legiatan Museum Keliling digelar di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Padangtualang. 

"Bangsa yang besar karena terus menjaga budaya dan kearifannya. Untuk itu kami mengajak generasi muda, masyarakat, pelajar khususnya untuk lebih tahu Museum Daerah Kabupaten Langkat," kata Kepala Bidang Seni dan Budaya Disparbud Langkat, Muslihin.

Secara bergantian, Disparbud Langkat mendatangi satu sekolah ke sekolah lainnya. Kegiatan dilakukan berkala, setelah sebelumnya telah melakukan kegiatan Museum Keliling ke Kecamatan Babalan, Kecamatan Selesai dan Kecamatan Hinai. 

"Museum Keliling Padangtualang kami nilai penting karena secara geografi lokasinya strategis, berdekatan dengan Tanjungpura. 
Sehingga bisa sekaligus untuk melakukan wisata religi dan sejarah," katanya

Museum Keliling jadi langkah untuk menjawab tantangan baru menghadapi zaman milineal dan industri 4.0 yang berbasis kecepatan teknologi komunikasi. Diharapkan kegiatan ini lebih tepat sasaran untuk mengenal sejarah dan budaya Langkat ke generasi muda dan masyarakat. 

"Kita bertanggungjawab melestarikan budaya dan sejarah. Identitas kita jangan berubah, khususnya warga Langkat. Museum Daerah Langkat yang menyimpan sejumlah benda bersejarah, seni dan budaya dari beberapa etnis di Langkat diharapkan menanamkan kearifannya budaya Langkat," jelasnya. 

Dalam kegiatan Museum keliling turut hadir narasumber dari penggiat seni dan budaya serta tenaga pengajar dari Universitas Negeri Medan. Adalah, Wiwin Syahputra Nasution dan Sufriyansyah.

Tim Ahli Konservasi Museum Daerah Kabupaten Langkat, Sufriyansyah saat ini terus melakukan upaya revitalisasi meningkatnya pengunjung yang datang. Pihaknya sedang mengoptimalkan pelayanan agar menjadi daya tarik. 

Baca juga: Museum Tjong A Fie Jadi Destinasi Favorit, Bagi Para Wisatawan Berkunjung Saat Libur Panjang

"Museum Daerah Kabupaten Langkat merupakan peninggalan sejarah Kesultanan Langkat yang dibangun pada 1905. 
Museum Daerah Kabupaten Langkat letaknya berdekatan dengan rumah ibadah bersejarah Masjid Azizi di Tanjungpura," katanya. 

"Bangunan museum bersejarah ini menyimpan, merawat Galeri Babussalam terdiri dari Kitab Suci Al-Quran berukuran besar dengan tulisan tangan Hakkah, tulisan kaligrafi, kentong Tuan Guru Masa I Syekh H Abdul Wahab yang dibuat muridnya pada tahun 1917, hingga foto-foto Tuan Guru Babussalam dari pertama sampai sekarang ini," ujarnya. 

Dalam museum juga terawat Galeri T Amir Hamzah, Galeri Jawa, Karo, Melayu dan Perjuangan. Galeri Perjuangan terdapat duplikat perlengkapan senjata, sepeda ontel hingga lampu semprong tempo dulu, duplikat Singgasana Kesultanan Langkat, miniatur Istana Darussalam, Kesultanan Langkat, Rumah T Amir Hamzah, Adat Banjar, Mandailing hingga miniatur peta perjuangan. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved