Plang Tanda Berhenti Bus Trans Metro Deli di Jalan S Parman Dirusak
Namun ada plang penanda di tiap lokasi berhenti yang terkadang juga berlokasi sama dengan halte yang sudah ada.
TRIBUN-MEDAN.com - Keberadaan Bus Trans Metro Deli yang digadang menjadi transportasi modern Kota Medan menuai pro dan kontra.
Pasalnya, bus dengan skema Buy The Service (BTS) ini beroperasi tanpa adanya pembangunan halte khusus.
Diketahui, sejak beroperasi pada 16 November 2020 lalu, lokasi pemberhentian bus Trans Metro Deli tidak pada halte khusus.
Namun ada plang penanda di tiap lokasi berhenti yang terkadang juga berlokasi sama dengan halte yang sudah ada.
Berdasarkan informasi yang didapat tribun-medan.com dari aplikasi Teman Bus, terdapat hampir 40 titik berhenti bus di masing-masing koridor yang ada di Medan.
Pantauan di lapangan, plang tanda berhenti bus TMD di Jalan S Parman, Medan Petisah tampak rusak.
Seorang warga, Ariani mengatakan plang rusak sejak kemarin sore.
"Kayanya kemarin waktu lewat sini masih bagus. Baru kemarin sore kayaknya ini rusak. Enggak tahu kenapa mungkin karena oknum tidak bertanggung jawab," ujarnya.
Ia mengatakan, sebaiknya material yang digunakan untuk membuat plang lebih kokoh lagi.
"Ya karena tanda nya hanya begitu saja kan, kadang orang enggak mengerti itu apa. Lagian kayanya itu bahannya bukan dari aluminium. Kalau tidak enggak mungkin cepat sekali rusak. Belum sampai satu minggu beroperasi," ungkapnya.
Ia berharap beroperasinya bus TMD ini seiring dengan keberadaan halte. Agar, kata dia, tidak bersamaan dengan pemberhentian angkutan kota (angkot).
"Kalau saya perhatikan ya, ini sering berbarengan sama angkot. Karena tempat berhenti nya sering sama. Apalagi itu di depan lapangan Merdeka, itu sering berhenti sebelahan dengan angkot. Kalau bisa pemerintah lebih memperhatikan ya yang soal beginian. Jangan nanti malah konflik sama sopir angkot," katanya.
(cr14/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/plang-tanda-berhenti-bus-trans-metro-deli.jpg)