Breaking News:

Ciptakan Alas Kaki Beraroma Terapi dan Tinta Spidol Organik, YPSA Rebut Dua Emas di IYIA 2020

Irsal berharap dapat memotivasi siswa lain agar terus berinovasi dalam menciptakan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

TRIBUN MEDAN/HO
TIM peneliti SMP YPSA yang turut meraih medali dalam ajang "International Young Inventors Award 2020" pada 27-29 November 2020 secara daring yang diikuti 345 team dari 15 negara. 

Tribun-Medan.com, Medan - Alas kaki biasanya selalu dipermasalahkan karena sering menimbulkan bau tak sedap.

Namun, di tangan para siswa SMP Yayasan Perguruan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA), alas kaki mampu mengeluarkan aroma-aroma yang menenangkan.

Inovasi bertajuk AROTHEMAT (Aromatherapy Doormat) ini kemudian berhasil membawa delegasi tim penelitian SMP YPSA berhasil meraih medali Emas dan medali Perunggu dalam ajang "International Young Inventors Award 2020" yang diselenggarakan oleh Indonesian Invention And Innovation Promotion Association (INNOPA) pada 27-29 November 2020 secara daring yang diikuti 345 team dari 15 negara. 

Kepala SMP YPSA Irsal Efendi juga turut menyambut baik prestasi dari tim peneliti SMP YPSA.

Ia mengatakan bahwa tim SMP YPSA yang meraih medali Emas digawangi Taufik Syahputra, Fathira Syahriany Alvan, Sheena Tsabita Sinaga, dan Beugleh Hate Sabri menang untuk kategori International STEM-Based Innovation.

"AROTHEMAT ini alas kaki yang beraroma aromaterapi. Terbuat dari karung beras bekas, sabut kelapa, dan ekstrak aromaterapi. Inovasi AROTHEMAT dilakukan karena keset yang biasa kita gunakan lama kelamaan akan berbau tidak sedap jika tidak dicuci kembali secara terus menerus.

Baca juga: Selamat Ulang Tahun ke-10 Tribun Medan dari YPSA

AROTHEMAT ini akan lebih awet karena memiliki bau aromaterapi dan dapat menghilangkan kotoran pada kaki karena teksturnya yang kasar", ungkap Irsal, Selasa (1/12/2020).

Selain itu, tim YPSA juga turut meraih Perunggu kategori International STEM-Based Innovation atas nama Daffa Raqilla Gantari, M. Athallah Rafif Ulhaq, dan Sulthan Rafif Siregar, dengan inovasi Simple Organic Boardmarker.

Irsal menjelaskan bahwa Simple Organic Boardmarker adalah spidol yang dimodifikasi dengan penghapus yang saling menempel.

"Seringkali saat menggunakan spidol, penghapus selalu hilang. Karena itu, penghapus digabungkan dengan spidol. Selain itu, tinta spidol juga dibuat dari bahan organik yaitu berbahan baku arang kayu. Efek jangka pendek xylene yang terdapat pada tinta marker umumnya dapat mengganggu pernapasan, pusing, sakit kepala, dan memori jangka pendek," ujarnya.

Selain jangka pendek, jangka panjang dari tinta spidol ini dapat juga menyebabkan kerusakan otak permanen dan kerusakan hati, ginjal, dan sistem saraf pusat.

Beberapa penanda juga mengandung propil alkohol, yang tidak terlalu beracun tetapi dapat mengiritasi mata, hidung dan tenggorokan.

Melalui prestasi dua tim dari YPSA dalam ajang internasional ini, Irsal berharap dapat memotivasi siswa lain agar terus berinovasi dalam menciptakan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

"Kami mengucapkan terimakasih atas doa dan dukungan nya dari Buya dan Umi, Pengurus Harian YPSA. Semoga dari kemenangan ini bisa menjadi motivasi kami untuk terus memberikan hasil yang terbaik untuk event selanjutnya," pungkas Irsal.(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved