Bobby Aulia Menang Pilkada Medan

Angka Golput di Pilkada Medan Mecapai 54 Persen

Sementara itu, saingannya yakni Akhyar Nasution dan Salman Alfarisi meraih sebanyak 342.580 suara atau 46,55 persen.

Tayang:
Penulis: Liska Rahayu |
HO/kompas.com
HASIL Quick Count Pilkada Medan Sementara, Live Streaming Perolehan Suara Sementara Akhyar dan Bobby 

TRIBUN-MEDAN.com - KPU Kota Medan telah menyelenggarakan pemilihan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan tahun 2020 pada Rabu 9 Desember lalu.

Setelah melakukan pemilihan dan rekapitulasi hasil penghitungan suara, KPU Kota Medan menetapkan pasangan Bobby Nasution dan Aulia Rachman memenangkan pemilihan dengan raihan sebanyak  393.327 suara atau 53,45 persen dari suara sah.

Sementara itu, saingannya yakni Akhyar Nasution dan Salman Alfarisi meraih sebanyak 342.580 suara atau 46,55 persen.

Meskipun pasangan Bobby-Aulia mendapatkan suara tertinggi hingga 53 persen, nyatanya mereka masih kalah dengan angka orang yang tidak menggunakan hak suaranya atau Golput.

Sebab dari jumlah pemilih dalam daftar pemilih tetap (DPT) di Pilkada Medan 2020 mencapai 1.601.001. Kemudian, jumlah suara sah totalnya 735.907, sedangkan suara tidak sah mencapai 12.915, hanya 748.822 yang menggunakan hak suaranya atau sekitar 46,8 persen.

Artinya, ada sebanyak 852.179 orang yang tidak menggunakan hak suaranya (golput) atau sebesar 53,2 persen.

Lantas, apa alasan warga Medan lebih memilih golput?

Seorang pegawai BUMN, Rauf Mazari (28) mengaku tidak menggunakan hak suaranya pada 9 Desember lalu. Mulanya, kepada Tribun Medan ia mengaku tidak ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena lokasinya jauh dari rumahnya. Ia beralasan malas jauh-jauh ke sana.

Namun kemudian, ia mengatakan memilih Golput karena malas melihat track record wali kota-wali kota sebelumnya.

"Alasanku males karena cuma pemilihan wali kota. Track record nya dari dulu siapa yang jadi pemimpin Kota Medan pasti terjerat korupsi," kata warga Medan Petisah ini.

Ia mengaku selalu rajin menggunakan hak suara pada pemilu sebelumnya seperti Pilgub dan Pilpres lalu. Namun pada pemilihan wali kota ini dirinya memang enggan.

Kendati demikian, Rauf berharap kepada wali kota terpilih agar benar-benar membenahi Kota Medan.

"Jangan korupsi, jalan Kota Medan enggak berlubang lagi. Setidaknya banjir bisa berkurang," katanya.

Warga Medan Johor, Robby Saputra (26), juga memilih Golput. Alasannya karena ia ingin netral saja.

"Ingin menjadi netral saja dan memang pada hari pilkada saya kesiangan, sudah dibanguni istri tapi magnet tempat tidur lebih kuat dari pada niat ke TPS," kata sineas Medan ini.

Baginya, siapa pun wali kota biarlah mereka menjadikan Medan sebagai kota yang aman juga berkah.

"Sebab apa peduli mereka terhadap saya sineas independen yang sering membawa nama kota ini secara nasional dan internasional tanpa ada apresiasi apapun dari wali kotanya. Sudahlah urus saja masalah kota yang urgent, masalah seni bisa nanti saja, bangunlah Medan ini jadi kota digital atau apapun itu, terserahlah. Siapa pun wali kotanya hanyalah repetisi dari keajaiban-keajaiban yang sebelumnya. Medan tetap begitu gitu saja," ujarnya.

Ditanya mengenai harapan pada wali kota terpilih, Robby mengatakan, hanya ingin tutup telinga sambil mendengarkan lagu Payung Teduh melihat kinerjanya nanti.

"Dan menggunakan kesehatan mata saya untuk melihat kinerja wali kota terpilih sesuai dengan janji yang terucap dan citra yang dibangun itu. Pun tak henti mendoakan sembari menyeruput segelas sanger hangat dan mengunyah brownis kering buatan istri," katanya.

Lain lagi dengan Isan Herlambang, warga yang tinggal di Deliserdang namun ber-KTP Medan Amplas ini enggan mencoblos karena tak kenal calonnya.

"Malas aja. Satu karena aku enggak kenal calonnya yang satu lagi, kalau Bobby tau. Tapi aku enggak tahu prestasi Bobby ini. Jadi malas," katanya.

Lagipula, kata dia, saat ini tempat tinggalnya jauh dari TPS tempatnya mencoblos. Karena itu niatnya untuk ke TPS memang tidak ada.

"Kalau soal pindah memilih tahu sih ada aturannya. Tapi ya malas juga. Sekarang enggak percaya sama pemerintah, awal-awal kerja bagus. Jadi ya siapa aja yang menang ya terserah aja," katanya.

Seorang warga Medan Helvetia yang enggan menyebut namanya mengaku tidak ke TPS pada 9 Desember kemarin. Alasannya karena ia tidak suka pada calonnya.

"Enggak ke TPS. Golput kami. Enggak suka aja sama calonnya," katanya.

Ditanya kenapa, ia mengatakan calon Akhyar Nasution tidak memberikan kinerja yang baik selama menjabat. Sedangkan calon Bobby dianggapnya tidak mengerti mengurus Kota Medan dan tidak berpengalaman.

"Tengoklah (lihatlah) Medan masih gitu-gitu aja. Jadi kalau pak Akhyar janji-janji, kenapa janji-janji sekarang? Kalau Bobby, enggaklah. Dia kan gak pengalaman soal Kota Medan," katanya.

Ditanya apakah tahu program kerja kedua paslon, pedagang di Pasar Helvetia itu mengaku tahu.

"Tahu, tapi sama ajanya itu. Enggak adanya itu nanti," katanya.

Seorang Juru parkir bernama Eman (40) juga mengaku tidak menggunakan hak suaranya. Alasannya sederhana saja, katanya, ia malas dan lebih memilih tetap bekerja.

"Enggak. Bagus aku kerja," kata warga Medan Helvetia ini.

Ia melanjutkan, siapa pun yang terpilih dirinya tetap akan jadi tukang parkir.

"Naik orang itu, jadi tukang parkir juganya aku. Banjir juganya Medan ini," katanya.

(yui/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved